Solusi Digital Marketing Nusa Tenggara Barat

Memberkan pelayanan terbaik untuk anda dan usaha anda, kami mempunyai tenaga profesional dibidang marketing digital.

Layanan Konsultasi

Our Services

Sepenuh Hati

Solusi Digital Marketing di Nusa tenggara Barat.

Read More

Great Concept

Solusi Digital Marketing di Nusa tenggara Barat.

Read More

Development

Solusi Digital Marketing di Nusa tenggara Barat.

Read More

User Friendly

Solusi Digital Marketing di Nusa tenggara Barat.

Read More

Recent Work

Showing posts with label Sejarah. Show all posts
Showing posts with label Sejarah. Show all posts

Sunday, July 18, 2021

Melihat Naskah Khutbah Kuno Idul Adha di Desa Songak

UTUH: Naskah kuno khutbah Idul Adha di Desa Songak masih nampak utuh.

SELONG
-- Sejarah Pulau Lombok menempatkan Desa Songak, Kecamatan Sakra Lombok Timur menjadi salah satu desa dengan dengan latar belakang kekayaan sejarah. Di desa ini, masih terdapat situs sejarah yang bisa ditemukan.

Situs-situs itu lebih banyak merujuk pada peninggalan penyebaran agama Islam. Buktinya di desa ini masih ditemukannya masjid tua yang masih berdiri kokoh.

Tapi ternyata tak hanya berupa bangunan, namun juga sebuah naskah kuno yang berisi khutbah Hari Raya Idul Adha. 

"Di dalam naskah itu, menjelaskan tentang berkurban lengkap dengan rukun khotbahnya," terang seorang tokoh setempat, Murdiyah, saat ditemui JEJAK LOMBOK di kediamannya, Minggu (18/7).

Naskah kuno ini, lanjutnya, bertuliskan tangan, berupa huruf Arab Melayu. Tulisan itu dilengkapi dengan ayat quran sebagai penguat perintah berqurban tesebut. 

Dalam naskah ini, kata dia, dimulai dari niat sampai dengan khutbah ke dua.

Awal mula ditemukan naskah khotbah ini pada saat Masjid Bengan (Masjid Tua) di desa itu direhab.  Pada waktu itu, dirinya diberikan oleh seseorang yang sampai saat ini belum ia ketahui keberadaannya. 

Pada saat itu, ia hanya mendengarkan suara dan diberikan naskah tersebut.

"Saya tidak perhatikan, dan sudah saya tanya semua orang yang ada di sana, semua menjawab bukan saya," ucapnya.

Naskah ini berangka tahun berkisar 1300 Masehi atau abad ke 13, pasca Samalas meletus. Pendapat lain menyebut jika naskah tersebut berasal pada abad sekitar 1500 M, atau abad ke 15. 


Angka tahun itu, jelas Murdiyah, diketahui dari jenis kertas pada naskah itu. Biasanya kertas sejenis itu lazim digunakan saat penyebaran Islam.

Di Lombok sendiri, Islam di awal mula disebarkan para pedagang asal Magrhibi (Maroko). Mereka ini mendarat di Lombok, abad ke 13.

Naskah ini, ucapnya, menjadi salah satu peninggalan bersejarah selain masjid dan benda pusaka lainnya di Desa Songak. Naskah dan peninggalan tersebut masih terpelihara sampai saat ini.

Panjang naskah ini, bebernya, berkisar 170 sentimeter atau setinggi badan manusia pada saat ini. Sementara lebarnya hanya 20 sentimeter.

Dengan begitu, imbuhnya, masyarakat Lombok pada masa itu telah mengenal Islam. Bahkan disebutnya dari sejak lama.

"Kami masih pegang sebagai bukti kesejarahan di desa ini, dan tetap akan kami pelihara," ucapnya. (jl)

Tuesday, April 20, 2021

Prasasti di Desa Sapit Belum Kunjung Terungkap

TEKA-TEKI: Batu bertulis yang ditemukan di Desa Sampit, tak kunjung terpecahkan arti tulisannya.

SELONG
-- Masih ingat mengenai batu bertulis atau prasasti yang ditemukan di Desa Sapit, Kecamatan Suela Lombok Timur? Beberapa waktu lalu prasasti uang diduga bertuliskan aksara Brahimi itu sempat diangkat media ini.

Batu tersebut ditemukan di tengah sawah milik warga setempat hingga kini menyisakan teka-teki. Komposisi aksara yang ada di atas batu tersebut masih terus membutuhkan pendalaman.

Pemerhati peninggalan benda bersejarah Desa Sapit, Janatan Firdaus menerangkan, sampai saat ini dirinya masih berikhtiar memecahkan teka-teki yang ada pada batu tersebut. Upaya ini dilakukan dengan diskusi bersama berbagai pihak, termasuk dianataranya ahli dibidang tersebut.

"Kami pernah coba untuk mencari bantuan pada orang yang memang dibidangya. Namun, dari semua kontak yang pernah kami hubungi dan kirimi bentuk aksaranya belum mampu memecahkan aksara di batu itu," terang pria yang akrab disapa Jan ini, Selasa (20/4).

Pihaknya mengaku tak ingin berhenti mrnibak teka-teki di balik tulisan baru itu. Ia bertekad bisa menemukan jawaban atas komposisi tulisan yang diduga sudah berusia berabad-abad itu.

Dalam proses melacak dan mengenali tulisan di atas batu, awalnya dirinya memulai dengan perbandingan aksara Pallawa, Jawa Kuno dan Batak. Dari kegiatan tersebut, dapat teridentifikasi dari 303 tulisan, tapi kemiripannya hanya mencapai 30 persen saja.

Selanjutnya, kata dia,  mencoba peruntungan dengan memadukan aksara Brahmi. Aksara ini secara teoritik dikategorikan sebagai simbol aksara tua di dunia.

Aksara Brahmi, jelasnya, dapat ditemukan pada masa India Kuno, yakni saat raja Asoka. Di lain sisi, terangnya, belum ada ia tenukan penjelasan mengenai asal muasal akasara tersebut.

Pendekatan terhadap.aksara Brahimi ini disebutnya sangat beralasan. Ini karena aksara Brahimi diduga sebagai induk dari semua aksara di dunia.

"Setelah kami coba padukan sekitar 50 persennya mirip fengan aksara Brahmi. Namun tentu ini hanya sebuah perpaduan yang secara sederhana kami lakukan," ujarnya.

Terakhir kali, lanjutnya, ia dikirimi sebuah kanal YouTube oleh seorang rekannya yang membahas prihal tersebut. Yakni tentang, sebuah prasasti yang dibubuhi aksara menyangkut tentang sepuluh kesepakatab Tuhan pada Nabi Isa. Prasasti ini sedang diburu bangsa Israel.

Oleh bangsa itu, diyakini sebagai kesepakatan Yesus dengan Tuhan. Dimana dalam kesepakatan itu bertulis aksara Samaria.

Dari hal itu, dirinya mencoba untuk kembali melakukan pencocokan. Dari huruf yang tertulis di prasasti, ada sekitar 50 persen kemiripan dengan aksara tersebut.

Melansir dari Wikipedia, Ostrakon Samaria adalah kumpulan 102 ostrakon bertulisan. Dimana hanya 63 yang dapat dibaca, yang diketemukan di reruntuhan kota kuno Samaria (Sebastia, Nablus) pada tahun 1910. 

Dalam penggalian di bawah pimpinan George Andrew Reisner dari Harvard Semitic Museum, ditulis dalam huruf Ibrani Kuno yang mirip dengan Inskripsi Siloam. Namun demikiqn, hasilnya menunjukkan sedikit perkembangan tulisan tangan kursif.

Di laman tersebut, Ostrakon-ostrakon ini diketemukan dalam ruang perbendaharaan istana Ahab, Raja Israel. Raja ini diperkirakan bertarikh 850 SM pada masa hayatnya. Dal kurun waktu itu, paling tidak sebelum tahun 750 SM, ketika istana itu dihancurkan dan sekarang merupakan koleksi pada Istanbul Archaeology Museums.

"Penemuan baru akan banyak mempengaruhi catatan lama, dan bahkan menggugurkannya. Tapi itulah ilmu pengetahuan, terus berubah ke hal yang lebih maju," ucapnya. (kin)

Wednesday, April 7, 2021

Mengenang Letusan Tambora dari Desa Terpencil Skotlandia

KENANG: Gubernur NTB, H Zulkifliemansyah mengenang perjalanannya di Skotlandia tentang cerita betapa dahsyatnya letusan Gunung Tambora.

DOMPU
-- Dua abad lebih sudah Gunung Tambora memuntahkan lahar panasnya. Kedahsyatan letusan gunung itu kabarnya kontan menyeruak ke seantero bumi.

Dalam Festival Tambora 2021 di Doro Ncanga, Kabupaten Dompu, Gubernur NTB H Zulkifliemansyah, berkisah tentang gunung dengan letusan yang mengundang bencana kelaparan di belahan bumi Eropa itu.

Suatu waktu pada tahun 1996, Zulkieflimansyah mengenang perjalanannya saat mengunjungi sebuah desa terpencil di Skotlandia bagian paling Utara United Kingdom (Inggris). Di desa tersebut ada sebuah gua kecil yang membuat orang berbondong-bondong memasukinya, bahkan orang banyak yang antre.

Bukan tanpa sebab begitu banyak orang yang berkerumun. Di sudut gua yang dihiasi lampu-lampu indah itu, ada orang yang bercerita tentang dahsyatnya letusan Gunung Tambora lengkap dengan simulasinya.

"Bagi saya yang berasal dari Pulau Sumbawa baru tahu tentang itu. Karena pada masa-masa saya SMA tidak tahu banyak tentang Tambora," cerita gubernur saat membuka Festival Geopark Tambora dalam rangka memperingati 206 tahun letusan Tambora tahun 2021 di Doro Ncanga Tambora, Selasa (6/4).

Tambora, ungkapnya, bukan sekedar gunung tua yang pernah meletus ratusan tahun lalu dengan segala kedahsyatannya. Tapi bagi mereka yang menghargai peradaban, mereka akan menjadikan Tambora sebagai bahan renungan panjang. 

Belum pernah terjadi dalam sejarah ummat manusia bahwa dampak dari letusan Tambora menyebabkan negara-negara di Eropa tidak mengalami musim panas tiga tahun berturut-turut. Banyak orang mati karena kedinginan, banyak orang mati karena kelaparan dan orang mati karena tidak merasakan kehangatan. 

Bahkan tentara penguasa Prancis, Jenderal Napoleon Bonaparte, kata Dr. Zul, kalau mereka perang tidak pernah kalah. Namun karena adanya letusan Tambora yang dahsyat menyebabkan abu vulkaniknya menutupi langit Eropa dengan waktu yang sangat panjang. 

Tentara "Singa dari Prancis" inipun kalah dalam perang Waterloo melawan Inggris dan Prusssia pada tahun 1815. Sehebat tentara Napoleon pun tidak tahan dengan kedinginan yang membuat tentaranya banyak yang mati kedinginan. 

Mereka mengatakan bahwa letusan Tambora bukan hanya menyisakan musim dingin yang berkepanjangan. Dari itu, telah merubah wajah ummat manusia pada ratusan tahun yang lalu.

"Nah, gua kecil yang ada di desa terpencil itu adalah gua tempat sebagian mereka sembunyi dan selamat ketika abu vulkanik letusan Tambora menutupi langit bangsa Eropa saat itu," ungkapnya.

Dengan demikian, Zulkifliemansyah berharap situs Geopark Tambora harus dijaga dengan penuh kesakralan dengan segala situs dan keunikannya. Bahkan event di Tambora jangan terlampau sering diadakan cukup hanya satu kali dalam setahun.

"Tapi mampu mengundang orang-orang di seluruh penjuru dunia akan datang bersimpuh merenungi hidup di Tambora," ucapnya. 

Dari renungan panjang tentang Tambora, Zulkifliemansyah tidak berharap bahwa Tambora akan meletus lagi. Tapi generasi muda di daerah itu yang harus "meletus" dengan segala prestasinya. Prestasi itu harus mampu mengguncang dunia.

Tambora merupakan harta yang luar biasa yang harus dijaga dan dikembangkan dengan baik. 

Jika di gua kecil yang sangat jauh di Skotlandia mampu membuat orang antre, lanjutnya, seharusnya si tanah tempat berdirinya Tambora harus mampu menghadirkan cerita lebiuh dari desa terpencil di Eropa itu.  

"Saya bisa membayangkan kalau di gerbang Balai Taman Nasional Tambora atau di Kota Dompu dibangun sebuah monumen yang membuat orang mengenang cerita letusan Tambora," ucapnya.

Lewat  monumen itu seakan-akan mereka bisa merasakan kedahsyatan Tambora. Ia berharap event Festival Tambora setiap tahunnya mampu menghimpun ummat manusia untuk menapaktilasi jejak sejarah gunung tersebut. (jl)

Monday, March 22, 2021

Mitos Dua Pohon Bila Kembar di Pengadangan

MASIH UTUH: Pohon Bila Kembar di Desa Pengadangan hingga kini masih bisa dijumpai dan masih utuh.

SELONG
-- Setiap daerah pasti ada cerita rakyat yang berkembang. Kisah-kisah itu sering kali berangkat dari cerita rakyat setempat.

Kadang kebenaran cerita itu acap kali dianggap sebagai mitos. Penyebabnya kebenaran kisah itu tak dapat dibuktikan. Kendati ada peninggalan ataupun bekas jejak seorang tokoh yang tengah diceritakan tersebut.

Seperti sebuah pohon yang disebut Bila Kembar oleh masyarakat Desa Pengadangan Barat, Kecamatan Pringgasela, Lombok Timur.

Senin (22/3), JEJAK LOMBOK mencoba menulusuri cerita tersebut. Media ini tertarik lantaran lantaran kisah yang satu ini lekat dikaitkan dengan sebuah peristiwa magis di wilayah tersebut. 

Awak media inipun mencoba menemui salah satu tokoh di desa itu. H Sinarep nama tokoh tersebut.

Sosok yang satu ini merupakan mantan Kaling Desa Pengadangan. Dari penuturannya banyak diketahui kisah tentang kedua pohon tersebut.

 H Sinarep menceritakan, kedua pohon tersebut tak bisa lepas dari kisah seorang putri bangsawan pada masa lampau. Cerita ini masih bisa dijumpai dari mulut ke mulut masyarakat setempat.

Konon, tuturnya, peristiwa itu benar terjadi. Tak hanya bukti berupa dua pohon yang masih utuh. Namun juga, nama tempat dalam kisah itu masih dapat ditemui dan dikunjungi.

Cerita kedua pohon ini, terang pria 70 tahun itu, berawal dari kisah dua orang putra kerajaan yang disebut sebagai Daha dan Keling. Hanya saja ia pun tak tahu persis tahun berapa kejadian itu berlangsung.

"Nama datu itu Daha dan Keling. Keduanya ingin memiliki anak laki-laki," tuturnya.

Keduanya berjanji jika memiliki anak yang sesuai dengan permintaan, mereka hendak kembali ke tempat tersebut membuat sesajian. Sesajian yang bakal dipersembahkan yakni likuq dan buaq kelopok (daun sirih dan buah pinang, Red).

Singkat cerita, kedua bersaudara itupun memiliki anak. Daha memiliki anak laki-laki, sedang Keling memiliki anak perempuan.

Datu Daha yang memiliki anak lelaki memenuhi nazarnya. Tentu kondisi berbeda pada Datu Keling, ia tak memenuhi janjinya.

Tragis! Datu Keling yang tak penuhi nazar harus menerima konsekuensi. Anaknya dibawa terbang oleh angin sampai di sebuah tempat. Anak tersebut dipungut dan diasuh oleh sebuah keluarga yang tak memiliki keturunan.

Bagi sepasang suami istri tersebut, menemukan seorang bayi tentu menjadi anugerah. Mereka sangat kegirangan. Anak itupun diberi nama Cilinaya.

"Sedangkan anak Datu Daha bernama, Raden Mergasih," ucapnya.

Roda waktu terus berputar, masa remaja kedua anak itupun tiba. Seiring usia, Raden Mergasih bermimpi bulan purnama turun ke pangkuannya.

Rupanya, isi mimpinya itu diceritakan kepada ayahnya. Sang ayah pun memanggil sembilan ahli tafsir mimpi. Dari semuanya menjawab, bahwa sang Raden Mergasih bakal mendapatkan apa yang diinginkannya.

"Kalau Raden mau mancing pasti dapat ikan. Begitu pula kalau ingin berburu pasti mendapatkan buruannya," ucapnya.

Raden Mergasih pun mencoba membuktikan arti mimpi itu. Namun naas apa yang diramalkan pun tak kunjung terbukti.

Saat memancing tak ada satu pun didapatinya seekor ikan. Begitu pula saat berburu, tak satu binatang buruan ia dapatkan.

Jangan kan burung, kodok pun tak ada yang lewat dihadapannya selama hampir satu tahun melakukan perburuan. Padahal para prajuritnya, sudah membawa semua jenis burung menjadi umpan agar burung lain bisa datang.

Ramalan tinggal ramalan. Ia merasa kesal dengan perburuan yang ia lakukan. Ia pergi meninggalkan prajuritnya di tengah hutan dan terus berlalu menelusuri arah angin.

Setelah seharian berjalan, ia pun mendengar suara dari kejauhan, suara seorang gadis. Suara itu mengetuk hatinya.

Di sela-sela suara itu, ia juga mendengar alat mesin tenun. Rupanya suara itu berasal dari alat penenun yang tengah digunakan oleh bibi Cilinaya," ungkapnya.

Raden Mergasih pun menemukan sumber suara tersebut. Sumber suara itu rupanya berada di sebuah rumah milik warga setempat.

Ia pun meminta kepada pemilik rumah membukakan pintu. Tak lama berselang pintu pun terbuka.

Tak lama dalam rumah tersebut, ia bertanya kepada pemilik rumah, siapa yang menenun tadi. Pertanyaan itu terlontar lantaran suara alat tersebut terdengar iramanya sangat indah.

Pemilik rumah pun mengelak, ia mengatakan tak memiliki anak. Ia mengaku mandul. Namun Raden Mergasih tak percaya begitu saja. Penyebab ia tak percaya karena mencium wewangian yang biasanya digunakan seorang wanita yang masih muda.

"Waktu itu Cilinaya disembunyikan di bawah alat penenun itu," ujarnya.

Lantaran kecurigaan itu, sang Raden pun memutuskan mencari ke setiap sudut rumah. Sayang, ia tak menemukan siapa-siapa. Namun saat hendak balik dan melewati alat penenun rambut Cilinaya tersangkut di keris sang Raden.

Raden yang terperanjat rupanya langsung memeriksa alat tenun itu. Di kolong mesin itu, ada seorang gadis jelita. Apes bagi keduanya, saat beradu tatap, mereka malah pingsan pada pandangan pertama.

Mudah ditebak kenapa mereka pingsan. Keduanya saling jatuh cinta. Mereka pun minta dinikahkan. Hanya saja permintaannya sontak membuat pemilik rumah itu bingung lantaran sang Raden keturunan datu (bangsawan) terhormat.

Di lain sisi, ia tak mungkin menolak permintaan seorang Raden. Ia pun berat hati menikahkannya.

Setelah sekian lama menikah sampai mempunyai anak. Sang datu memerintahkan para abdinya untuk mencari keberadaan Raden Mergasih. Salah seorang pangeran pun menemukannya dan langsung ingin membawa pulang.

"Keluarganya pun dikatakan tidak mungkin anak datu menikah dengan anak kangkung," kisah H Sinarep.

Cilinaya tersinggung dengan ucapan tersebut. Ia merasa merana dengan perlakuan tak adil macam itu. Cilinaya minta dihunuskan pedang tepat ke jantungnya.

"Jika darah saya merah, bearti saya keturunan kangkung. Tapi kalau darah saya putih dan mengeluarkan wewangian, maka saya anak seorang datu juga," bebernya.

Utusan pun menusuknya tepat di jantung Cilinaya. Ternyata darah yang keluar putih dan mengeluarkan harum wewangian. Utusan pun pingsan dibuatnya oleh sebab wewangian yang keluar dari tubuh perempuan tersebut.

Darahnya pun tak jatuh ke tanah. Darah Cilinaya malah melawan gravitasi bumi dan terus naik ke atas langit yang menyerupai awan.

"Dia dibunuh di anatara pohon Bila Kembar itu," sebutnya.

Si Raden pun bingung. Setelah berhari-hari menunggu mayat Cilinaya, ia mendengar bisikan suara. Ia diminta untuk mengikat tubuh mayat tersebut di sebuah batang kayu. 

Ini dilakukan tak lain semua sebuah harapan. Jika burung gagak putih turun, maka orang yang dicintainya akan hidup kembali.

Ia pun diminta untuk langsung menarik jasad tersebut. Namun jika gagak hitam turun, Mergasih diminta mengikhlaskan kepergian Cilinaya.

Di luar dugaan, harapan Mergasih terkabul. Seekor gagak putih menyambangi jasad Cilinaya yang telah meregang.

H Sinarep menuturkan, dari ihwal cerita itulah kemudian pohon tersebut dinamakan Bila Kembar. Keduanya hidup berdampingan dengan tinggi dan usia yang sama.

Saat awak media ini berada di lokasi, ada yang menarik dari pohon tersebut. Yakni dapat sebagai penanda datangnya pergantian musim. 

Jika daunnya berguguran, maka pertanda akan datang musim kemarau. Namun sebaliknya, ketika rimbun daun akan datang musim penghujan.

"Dan kejadian itu masih sampai sekarang," ujarnya.

Terpisah, Kaur Perencanaan Desa Pengadangan Barat, Muhlis mengamini kejadian tersebut. Menurutnya, peristiwa itu masih dapat disaksikan sampai saat ini.

Pohon itu, sebutnya, memiliki tinggi daan rupa yang sama. Usianya diduga sangat tua mencapai ratusan tahun dan oleh warga, pohon itu dijuluki Bila Kembar.

Menurutnya, di tempat tersebut juga dapat ditemui salah satu sumber mata air. Namun, saat ini sudah tertutup.

Selain sebagai penanda pergantian musim, tempat ini juga sering digunakan sebagai lokasi halwat dan berobat bagi orang tertentu.

"Pohon ini terletak di tanah warga dan sudah kita kelilingi menggunakan bambu. Pohon ini kita abadikan sebagai nama dusun di sini," tandasnya. (kin)

Saturday, December 19, 2020

Menolak Lupa, Mematri Dokter Soedjono di Sanubari (5-Habis)

Wisma Soedjono, Embrio Desa Wisata di Lombok

LEGENDARIS: Wisma Soedjono menjadi penginapan yang legendaris dan penuh nilai historis.

--------------

“Wisma Soedjono di Desa Tete Batu masyhur terdengar sejak belum ditetapkan adanya desa wisata. Dari wisma inilah embrio lahirnya desa wisata di Pulau Lombok.”

FATHUR ROZIQIN — MATARAM

Tangis dan selaksa doa menggema di angkasa. Keduanya berpadu mengabarkan duka. Seorang dokter penuh dedikasi telah pergi untuk selamanya. Dokter Soedjono wafat.

Hari itu, Senin 14 Februari 1944. Kencing manis yang dideritanya telah membuat sosok dokter yang dicintai rakyat ini mengembuskan nafas terakhirnya. 

Pernah sebelum ajal merenggut nyawa sang dokter, sejumlah sejawat menawarkan agar lengan Soedjono diamputasi. Namun tawaran itu ditolak. Soedjono memilih pulang bersama sakit yang dideritanya. Ia berpulang di Tete Batu Kecamatan Sikur Lombok Timur dan disemayamkan di Makam Bintaro, Kecamatan Ampenan Kota Mataram.

Di Tete Batu, Soedjono membangun sebuah rumah yang dihajatkan untuk menghabisi masa pensiun. Di rumah itulah ia menghabiskan hari-harinya dengan bertani.

Dalam catatan yang didokumentasikan Roro Neni Kurnia, Soedjono pensiun di tahun 1925. Selama mendedikasikan diri sebagai dokter, ia sebelumnya menetap di Selong.

Kepindahan Soedjono ke Tete Batu di usia purna tugas tidak lepas dari hobinya bertani. Ia pindah ke desa itu sekitar tahun 1930.

Sejak kepindahannya, masa purna tugas bukan penghalang bagi Soedjono menyudahi dedikasinya. Tak hanya menjadi dokter, Soedjono juga mengajari warga setempat cara bercocok tanam dan bertani yang baik.

Berbekal hubungan pertemanan dengan sejumlah kolega di Bogor, Soedjono sering dikirimkan berbagai jenis bibit unggul yang dapat di tanam. Bibit-bibit itu tak hanya dibagikan kepada penduduk setempat, tapi juga dikembangbiakan.

Hari-hari panjang yang dilalui sebagai petani rupanya membuat Soedjono betah. Tak heran jika di tempat itu ia membangun rumah cukup megah sebagai pesanggrahan (tempat peristirahatan).

Bangunan berarsitektur Eropa itu ditempati bersama istrinya. Sepeninggal Soedjono, rumah ini belakangan ditempati oleh anak pertama Soedjono, Raden Soeweno.

Kendati Soedjono telah tiada, pasca wafatnya banyak kerabatnya di masa lalu yang ingin menziarahi rumahnya tersebut. Mereka datang dan menginap di rumah tersebut demi mengenang Kembali masa-mas yang dilewati Bersama sang dokter.

Kerabat yang datang tidak saja dari kalangan Belanda, ada juga dari Jepang. Selain itu, kerabat dari negara lain juga kerap mendatangi tempat itu.

Keturunan Dokter Soedjono yang sadar dengan banyaknya orang yang datang lalu pada tahun 1970an membangun sejumlah kamar penginapan di sekitar pesangrrahan sang dokter. Upaya pengembangan kembali dilakukan sekitar tahun 1980an.

Sejak saat itulah pensanggrahan sang dokter mulai dikenal dengan Wisma Soedjono. Berbekal sentuhan manajemen yang lebih professional, wisma itu belakangan menjadi tujuan atau destinasi penginapan.

Tercatat, wisma inilah yang pertama berdiri di Tete Batu serta desa-desa sekitarnya sebagai penginapan yang layak disinggahi wisatawan. Setelah itu baru kemudian mengikuti sejumlah penginapan lain turut berdiri.

“Kami semua yang ada di sekitar Desa Tete Batu seperti Jeruk Manis, Kembang Kuning dan Tete Batu Selatan ini belajar mengelola destinasi wisata di Wisma Soedjono,” ungkap Kepala Desa Kembang Kuning, HL Sugian, kepada JEJAK LOMBOK, Sabtu (19/12).

Seperti pemilik hotel Green Orry Inn,  Zohri Rahman misalnya. HL Sugian menyebutnya pernah belajar di Wisma Soedjono sebelum kemudian mendirikan hotel yang dikelolanya sendiri. 

Begitu juga dengan penginapan-penginapan lain di sekitar Tete Batu, Kembang Kuning, dan Jeruk Manis. Nyaris semuanya pernah menimba ilmu di wisma tersebut.

“Setelah bisa bahasa Inggris dan mengerti cara mengelola pariwisata, mereka kemudian berdiri sendiri,” ucapnya.

Saat ini, Wisma Soedjono telah berganti nama menjadi Hotel Soedjono. Hotel inilah disebut-sebut sebagai pelopor terbentuknya desa wisata di sekitar daerah itu.

Bagi Sugian, kepeloporan Dokter Soedjono dalam bidang pariwisata sangat nyata terasa. Sebagai kepala desa yang ditetapkan sebagai desa wisata terbaik nasional baru-baru ini, jasa sang dokter telah mengubah wajah daerah itu menjadi sangat luar biasa.

Sugian mengatakan, saat ini, ada sekitar 25 unit penginapan yang berdiri di Teta Baru dan sekitarnya. Dari jumlah itu, terdapat sekitar 70 kamar yang tersedia.

Imbas dari keberadaan desa wisata di wilayah ini, laju perputaran ekonomi masyarakat sangat signifikan. Satu unit kamar hotel dalam sebulan booking order-nya bisa mencapau Rp 20-an juta.

“Tetapi itu sebelum pandemi vieus corona. Kita harap pandemi ini segera berlalu dan perekonomian di sini kembali bangkit,” tegasnya.

Di Desa Kembang Kuning, Tete Batu dan sekitarnya itu, jelasnya, paket wisata yang dijual sangat sederhana. Mulai dari paket pertanian, UMKM hingga jajanan atau kuliner lokal. 

Kendati menjual paket wisata yang sederhana, justru paket ini banyak digemari oleh wisatwan. 

“Andai tidak ada wisma Soedjono, mungkin tidak ada desa wisata di sekitar wilayah ini,” ucapnya. (*)

Thursday, December 17, 2020

Menolak Lupa, Mematri Dokter Soedjono di Sanubari (4)

Laskar Sapuq Putik, Milisi Pribumi Anti Kolonial

PENUH DEDIKASI: Dokter Raden Soedjono bersama warga Lombok Timur penderita cacar dan lepra di klinik Sepolong Labuan Haji. (Foto: Troppen Museum Belanda).
----------------------------

“Berbekal sebagai aktivis Boedi Oetomo semasa studi di STOVIA, kemampuan Soedjono mengorganisir massa tak diragukan. Sepertinya, bekal itu pula digunakan menghimpun kekuatan rakyat menolak kerja paksa yang diberlakukan kolonial Belanda.”

FATHUTR ROZIQIN — MATARAM

Pengujung abad 19 menjadi saksi berakhirnya intervensi Bali atas Lombok. Serangkaian perlawanan dilancarkan orang Lombok atas pendudukan Kerajaan Bali kala itu. 

Puncaknya di Praya sekitar tahun 1891. Warga Lombok bahu membahu menahan gempuran yang dilancarkan Kerajaan Karangasem. Perang yang berkecamuk itu merupakan rentetan perlawanan panjang dari perang-perang sebelumnya.

Kekuatan serdadu Bali yang terlalu perkasa rupanya membuat warga Lombok kelimpungan. Demi menyudahi pendudukan Bali, pada 20 Februari 1894, Lombok mengirim permintaan bala bantuan kepada Belanda.

Lekas saja setelah permintaan bantuan dikirimkan, di tahun yang sama ras kulit putih itu mendaratkan armadanya di Ampenan. Sejak saat itu, fase sejarah invasi di Lombok memasuki babakan baru. Bali pergi, Belanda datang.

Bagi Belanda, permintaan bala bantuan dari orang Lombok merupakan kesempatan yang tak boleh disia-siakan. Undangan itu dianggap peluang memperlebar sayap intervensinya di Hindia Timur.

Belanda yang semula membantu mengusir Bali, lambat laun menunjukan karakter kolonialisnya. Bukannya terbebas dari intervensi Bali, cengkeraman intervensi Belanda justru berlipat-lipat perihnya.

Sejak menduduki Lombok, Belanda memberlakukan kebijakan yang menyengsarakan penduduk kala itu. Kerja paksa hingga membayar pajak dalam jumlah yang tak masuk akal merupakan catatan buram kejahatan yang ditorehkan kala itu.

Kerja rodi atau kerja paksa yang diterapkan pemerintah Hindia Belanda sangat memberatkan warga. Beberapa hasil kerja paksa masa itu hingga kini masih bisa disaksikan.

“Jalan dan jembatan yang ada di Batu Tepong, Narmada Lombok Barat itu, orang Lombok Timur yang buat. Itu hasil dari kerja paksa yang diterapkan Belanda,” ucap Raden Rahadian.

Tak hanya jalan dan jembatan. Sejumlah irigasi pertanian juga menjadi saksi betapa kerja paksa kala itu menyedot tenaga manusia yang tak sedikit.

“Termasuk saluran irigasi yang ada di Narmada yang terbuat dari beton itu. Itu juga hasil kerja paksa. Para pekerjanya dari Lombok Timur,” tegas Rahadian.

Penderitaan itu saja belum cukup bagi Belanda. Merek juga memberlakukan pajak. Bagi warga yang tak sanggup membayar, tanah mereka dirampas paksa.

Mafhum bagi warga Lombok, kerja paksa yang diberlakukan Belanda biasa disebut Ngayah atau Pongor. Warga yang tak sanggup Ngayah, mereka harus membayar pajak. Jika itu juga tak sanggup, tanah mereka dirampas paksa.

Semua penderitaan yang dialami masyarakat Lombok kala itu, nyata disaksiskan di depan mata Soedjono. Tidak sedikit warga yang tak sanggup ngayah dibayarkan pajaknya kepada Belanda. Warga setempat dibebaskan dari kekejian prilaku para penjajah tersebut.

Dari serangkaian penderitaan itu, rupanya membuat Soedjono secara terselubung membangun kekuatan anti kolonial. Berbekal sebagai aktivis Boedi Oetomo di STOVIA, ia mendirikan Laskar Sapuq Putik.

Laskar yang terdiri dari kaum pribumi sikapnya jelas. Menentang penjajah Belanda. Laskar ini didirikan Bersama Lalu Badlah, salah seorang tokoh Gerakan politik di Lombok Timur kala itu.

“Lalu Badlah ini merupakan kakeknya Bu Isvie Rupaeda, ketua DPRD NTB yang sekarang. Lalu Badlah merupakan kakek beliau dari garis keturunan ibunya,” ucap Rahadian.

Namun terkait kehadiran Laskar Sapuq Putik ini, Rahadian tak memiliki banyak referensi tentang sepak terjangnya. Bahkan, gerakan-gerakan perlawanan yang dilancarkan milisi sipil ini juga tidak terdokumentasi begitu rapi dalam memori keturunan dokter Soedjono.

Yang jelas, tutur Rahadian, lahirnya Laskar Sapuq Putik merupakan manifestasi kekecewaan Soedjono dan rekan seperjuangannya kala itu. Mereka tak sudi jika warga Lombok dijadikan obyek penindasan dan penderitaan.

“Salah satu yang melatari Laskar Sapuq Putik ini adalah adanya ngayah atau pongor. Kakek tidak sudi melihat masyarakat saat itu diperalat dan disiksa,” tandasnya. (*)

Bersambung…

Menolak Lupa, Mematri Dokter Soedjono di Sanubari (3)

Anjah Sasak, Upaya Membebaskan Rakyat dari Kungkungan Kebodohan 

BERPOSE: dr. R. Soedjono berpose bersama warga pasien penderita lepra di Klinik Sepolong. (Foto: Troppen Museum Belanda)

--------------------

"Kungkungan kebodohan telah menjadi endapan berlapis-lapis tebalnya yang sulit ditembus cahaya ilmu pengetahuan. Keadaan ini sepertinya pantas untuk menggambarkan kondisi masyarakat Lombok di awal abad ke-20."

FATHUR ROZIQIN — MATARAM

Era Meiji mengantarkan Jepang pada fase yang pantas dijuluki sebagai Negara Matahari Terbit. Pendar cahaya ilmu pengetahuan di negeri Asia Timur itu bergelora sampai jauh ke segala penjuru belahan bumi.

Jepang berdiri sejajar dengan negara-negara Eropa kala itu. Padahal manusia-manusia di Benua Putih itu jauh sebelumnya lebih dulu menisbatkan diri merengkuh aufklarung (pencerahan). 

Kemajuan yang diraih Jepang mencengangkan. Angka melek aksara di negara itu bahkan terbilang lebih tinggi dengan negara-negara Eropa sekalipun.

Selama rentang waktu 1868-1911, Jepang telah sanggup membuat Eropa terbelalak. Tercatat dalam lembaran sejarah, Jepang bahkan satunya-satunya negara di Asia Timur yang berkali-kali mencoba menggelar invasi.

Kedigdayaan Jepang bangkit. Pada puncaknya ketika negara ini berdiri tegak meluluhlantahkan Pearl Harbour, Amerika.

Begitulah Restorasi Meiji. Sebuah upaya perubahan mendasar yang dilakukan negara itu lewat pendidikan.

Jika di Asia Timur sana, matahari telah menunjukkan terangnya pengetahuan. Berbeda di Asia Tenggara, termasuk Indonesia rupanya masih diliputi kegelapan. Keterbatasan fasiltas pendidikan telah mengurung masyarakatnya dalam selubung labirin kebodohan.

Pun di Lombok, jangankan mengenal aksara, sekolah saja belum tiada berdiri di rentang waktu yang sama. Jika pun ada, jumlahnya sangat terbatas.

Waktu itu, hanya Gouvernement Inlandsche School (GIS) atau Hollandsche Inlandsche School (HIS) yang berdiri. Sementara sekolah jenjang Pendidikan seperti MULO (Meer Uitgenreid Lager Onderweijs) dan AMS (Algemene Middlebare School) hanya ada di Pulau Jawa.

Hari-hari yang panjang dalam pengabdian Soedjono sebagai seorang dokter rupanya merekam semua itu dengan baik. Pasien-pasien yang mendatanginya tidak saja dari kalangan usia dewasa, tapi juga anak-anak.

Di lain waktu, tidak sedikit pasien-pasien dewasa yang berobat kerap membawa anak-anak mereka. Terhadap para pasien ini, Soedjono kerap kali terlibat percakapan ringan, tapi membekas di ingatan.

“Banyak pasien-pasien yang bawa anak mereka kemudian disuruh bersekolah. Kakek menyuruh mereka dan membiayainya. Bahkan banyak yang disekolahkan hingga ke Blitar juga,” ungkap cucu dr. R. Soedjono, Raden Rahadian kepada JEJAK LOMBOK, beberap waktu lalu.

Apa yang dituturkan Rahadian ada benarnya. Roro Neni Kurnia, sepupu Rahadian dalam tulisan resume tentang sang kakek juga mengisahkan hal yang sama. Salah satu anak-anak yang disekolahkan kala itu bernama Ibu Selamah. Sosok ini masih hayat dan sudah dalam usia sangat senja.

Tak cukup dengan menyekolahkan anak-anak saja, Soedjono juga memelopori berdirinya Anjah Sasak. Yakni sebuah lembaga pendidikan bagi anak-anak Lombok yang tidak disekolahkan di luar daerah.

SAKSI SEJARAH: SMPN 2 Selong sebelum diakuisisi pemerintah pernah menjadi sekolah bernama Anjah Sasak.

Sekolah Anjah Sasak ini masih dengan mudah ditemui keberadaannya. Hanya saja, namanya kini telah berganti menjadi SMPN 2 Selong.

“Sekolah ini berada di sebelah barat pendapa Bupati Lombok Timur di Jalan Jenderal Ahmad Yani itu,” terang Rahadian.

Kendati menunjuk lokasi Anjah Sasak, Rahadian mengaku tidak tahu persis ihwal pergantian nama tersebut. Karena rentang waktu yang cukup lama, Anjah Sasak di kemdian hari diakuisisi menjadi sekolah milik pemerintah.

Kata Rahadian, di Anjah Sasak inilah putra-putri warga kala itu mendapat pendidikan. Semua mereka yang bersekolah di tempat itu dianggap seperti anak sendiri.

“Maklum saat itu kakek belum punya anak. Baru di usia menjelang sekitar 60-an beliau dikaruniai keturunan, yakni Raden Soeweno,” bebernya.

Sementara itu, ayahnya sendiri, putra kedua Soedjono yakni Raden Soewetomo tak sempat mengenal wajah sang kakek. Soedjono lebih dulu berpulang sebelum putra keduanya sempat bersua karena masih di dalam kandungan. (*)

Bersambung… 

Wednesday, December 16, 2020

Menolak Lupa, Mematri Dokter Soedjono di Sanubari (2)

Dirikan Rumah Miskin, Menjadi Dokter Pertama di Lombok

BUKTI DEDIKASI: RSUD dr. R. Soedjono menjadi bukti dedikasi pengabdian R. Soedjono terhadap warga Lombok Timur.

---------------

“Soedjono tidak sendiri ditugaskan di Lombok. Ia berangkat bersama seorang teman dokter lainnya. Namun karena ketulusan dan dedikasinya, hanya Soedjono yang melekat di sanubari masyarakat Lombok hingga kini.”

FATHUR ROZIQIN — MATARAM

Wabah lepra, kusta, cacar dan kolera sepertinya menjadi momok buruk di awal abad ke 20. Wabah ini begitu cepat menyebar menyerang warga Lombok sekitar tahun 1910.

Penyebaran wabah yang begitu cepat ini dapat dimaklumi. Kala itu, belum ada satupun dokter. Hanya dukun belian tradisional yang menjadi tumpuan medis.

Pemerintah Hindia Belanda yang risau dengan serangan wabah ini segera saja mengirim dua dokter. Kedua dokter itu adalah R Soedjono dan Raden Mulyono. Keduanya ditempatkan di Lombok Timur. 

“Saat itu Selong sebagai ibukota Lombok Timur masih berupa hutan belantara. Ibukota Lombok Timur di Sisik, Labuan Haji,” ungkap Raden Rahadian kepada JEJAK LOMBOK, belum lama ini.

Raden Rahadian sendiri merupakan cucu R Soedjono dari putera keduanya, R Soewetomo. Saat ini, Rahadian dipercaya mengemban amanat sebagai wakil rakyat di DPRD NTB.

Berada di pusaran penyakit menular, langkah pertama yang diambil Soedjono memberantas wabah itu dengan mendirikan sebuah klinik. Di tempat inilah para penderita cacar dan penyakit menular lainnya diisolasi.

Jumlah penderita yang mencapai ribuan rupanya tak mampu ditampung klinik yang kapasitasnya minimalis dan terbatas itu. Praktis, Soedjono mau tak mau harus pula melakukan pencacaran terhadap warga lainnya.

“Klinik pertama yang dibangun oleh kakek saya itu lokasinya di Sepolong Labuan Haji. Bangunan itu sampai sekarang masih bisa ditemukan,” tuturnya.

Tak cukup dengan klinik itu, Soedjono juga mendirikan Rumah Miskin. Di tempat inilah Soedjono menjalani praktik membantu warga.

Selama praktik di Rumah Miskin, Soedjono tak menarik sepersen pun biaya kepada masyarakat yang datang berobat. Semua layanan medis yang diberikan seratus persen gratis.

Rumah Miskin yang didirikan Soedjono ini berada persis di seberang jalan bagian selatan Kantor DPR Lombok Timur. Rumah tersebut menjadi saksi betapa Soedjono melewati hari-harinya penuh dedikasi.

Berbeda dengan Soedjono, Raden Mulyono justru tidak terdengar kabarnya. Tak heran, karena totalitas pengabdiannya, hanya nama Soedjono yang membekas di sanubari masyarakat Lombok Timur.

Di tengah kesibukannya sebagai seorang dokter, kegemaran yang dilakukan Soedjono setiap hari adalah berkeliling kampung. Ia mengendarai bendi miliknya dan menyapa warga yang ditemui.

“Kadang ia juga mampir di rumah warga dan sahabat-sahabatnya. Ia mampir kalau ada warga yang sakit dan butuh pengobatan,” sambungnya.

Setelah mendirikan Rumah Miskin, kemasyhuran dokter kelahiran Kebumen, Jawa Tengah ini kian dikenal. Seantero Lombok Timur mendengar budi baik sang dokter. Buntutnya, semakin banyak pula warga yang datang berobat meminta jasanya.

Raden Rahadian

Lantaran Rumah Miskin tak menyediakan tempat rawat inap, praktis pasien yang kondisinya akut tak bisa terlayani. Dari itu  Soedjono berpikir mendirikan layanan kesehatan dengan kapasitas lebih memadai.

“Maka didirikanlah rumah sakit yang kini menjadi RSUD dr. R. Soedjono Selong itu,” jelasnya.

Awal mula dibangun rumah sakit ini kira-kira hanya memiliki 10 tempat tidur pasien. Model layanan yang diberikan setara Puskesmas saat ini. Rumah sakit itu diberi nama Rumah sakit dr. R. Soedjono. Nama itu diambil dari namanya sendiri.

Di rumah sakit ini, terangnya, segala keperluan medis, seperti obat dan peralatan disuplai langsung Pemerintah Hindia Belanda. Rumah sakit ini dibangun saat Selong tengah beranjak menjadi pemukiman baru.

Sedianya, Lombok bukan lah daerah pertama tempat Soedjono bertugas. Sebelum menjejakkan kaki di Lombok, ia sempat ditugaskan di Bali dalam misi “Bali Expeditie II”. Misi yang diemban di Pulau Dewata ini juga sama dengan di Lombok, memberantas cacar dan penyakit menular.

Soedjono baru mendaratkan kakinya di Lombok pada tahun 1910. Namun selama berada di daerah ini, rupanya pemerintah Belanda dibuat kerepotan. Segala gerak-gerik Soedjono terus diawasi. Ia dicurigai menggalang kekuatan politik melawan pemerintahan kala itu.

Kecurigaan Belanda waktu itu sangat beralasan. Rumah Soedjono selalu ramai dikunjungi warga. Mereka yang datang bukan saja untuk berobat, kadang ada juga yang datang sekedar menonton pembacaan lontar dan kesenian lain yang digelar di rumahnya.

Buntut ulahnya, pemerintah Belanda yang tak mau pusing rupanya melempar Soedjono bertugas di tempat baru. Ia ditugaskan di Magetan, Jawa Timur, sekitar tahun 1917.

Namun karena di tempat tugas barunya, Soedjono yang ulung bersosial dan bergaul dengan mudah mengambil hati masyarakat. Ia dengan mudah berkumpul dan membaur bersama masyarakat sekitarnya. 

Ulah Soedjono di tempat baru rupanya juga membuat pemerintah Belanda pusing. Lantaran itu, ia dikembalikan ke tempat tugas sebelumnya, Lombok. Sejak saat itu, Soedjono memastikan diri menetap dan hidup bersama masyarakat Lombok Timur. (*)

Bersambung…

Tuesday, December 15, 2020

Menolak Lupa, Mematri Dokter Soedjono di Sanubari (1)

Anak Brilian, Aktivis Boedi Oetomo dan Menentang Perjodohan

Dokter Soedjono (tengah) bersama istrinya dan seorang ahli antropologi, Prof. Kleiweg de Zwaan. (Foto: Troopen Holland Museum).

---------


"Tak hanya memiliki otak brilian, Soedjono kecil juga rupanya dibekali watak penentangan. Penentangannya ini terlihat saat ia mencoba dijodohkan dengan perempuan sesama kalangan ningrat."

FATHUR ROZIQIN — MATARAM

Badannya melepuh. Luka bakar hampir di sekujur tubuhnya mengantar kedatangan Soedjono di STOVIA, Jakarta. 

Kondisinya yang memprihatinkan tak sedikitpun menyurutkan tekad Soedjono memasuki sekolah kedokteran untuk kaum pribumi itu. Alih-alih mengiba kasihan, Soedjono nekat mengikuti tes di sekolah tersebut.

Pihak sekolah sebenarnya sudah melarang. Mereka tidak tega melihat kondisi Soedjono yang tak karuan. Hampir saja ia “diapkirkan” dan tak boleh mengikuti tes.

Berbekal kemauan keras, bersama 43 anak lainnya dari seantero nusantara ia pun mengikuti prosesi tes. Ia diterima di sekolah dan dinyatakan lulus saat usianya masih 13 tahun.

Sebelum berangkat ke STOVIA, Soedjono saat hendak menaiki kapal sempat bersitegang dengan ibu sambungnya (ibu tiri). Peristiwa itu terjadi di pelabuhan saat ia hendak menaiki kapal yang ditumpangi. Ibu sambungnya inilah yang menumpahkan kukusan nasi ke badan Soedjono.

“Itulah yang menjadi penyebab kenapa badannya melepuh seperti luka bakar,” tutur cucu Raden Soedjono, Roro Neni Kurnia, dalam buku resume berjudul “Dr. R. Soedjono, Dokter Pertama di Lombok yang ditulisnya untuk mengenang sang kakek.

Neni Kurnia sendiri merupakan cucu R. Soedjono dari anak pertamanya bernama R. Soeweno. Sang ayah merupakan garis keturunan Soedjono dari hasil perkawinan bersama Ilasih.

Di dalam buku yang sama, Neni mengisahkan betapa berat kehidupan Soedjono kecil. Sosok sang kakek yang merupakan keturunan ningrat Jawa ini lahir di Karang Anyar, Kebumen Jawa Tengah. Ia lahir pada tahun 1879.

Kendati lahir di Jawa, rupanya memori masa kecilnya dibesarkan di Riau, Sumatera. Di sini ia tinggal bersama sang ayah, Raden Yoedodiwiryo dan ibu sambungnya Siti Saadah Salim.

Hidup bersama sang ibu sambung rupanya tak membuat nasib Soedjono cukup beruntung. Ia tak sepenuhnya mendapatkan ayoman kasih sayang yang seharusnya didapat untuk anak seusianya.

Kendati begitu, Soedjono cukup beruntung. Otaknya yang brilian selalu mengantarkannya meraih prestasi akademik luar biasa. Jenjang pendidikan dasar di HIS (Hollandsch Indlandsche School) dan MULO (Meer Uitgenreid Lager Onderweidjs) dilaluinya dengan mudah. Ia selalu menonjol di antara teman-teman sekolahnya.

Pemerintah Hindia Belanda kala itu yang melihat potensi besar di dalam diri Soedjono kecil rupanya tak ingin membiarkannya melepas studinya. Ia pun kemudian diundang mengikuti tes sekolah kedokteran di STOVIA di Jakarta.

Seperti di jenjang sekolah dasar, Soedjono juga menonjol di STOVIA. Bahkan, ketika memasuki fase akhir studi di sekolah itu, ia dinyatakan lulus bersama 6 kawan lainnya. 

“Hanya 7 orang yang lulus dengan lama studi sekitar 8 tahun. Kakek menjadi dokter di usia yang sangat muda, yakni 21 tahun,” kisah Roro Neni.

Selama menimba ilmu di STOVIA, Soedjono tidak melulu konsen untuk studinya. Ia juga tertarik pada pertanian, budaya dan kesenian.

Di lain waktu, Soedjono juga menerjunkan diri dalam pergerakan Boedi Oetomo. Sebuah pergerakan politik yang didirikan Dr Soetomo dan Dokter Wahidin Soediro Husodo. Dua sosok ini belakangan dikenal sebagai Pahlawan Nasional.

Namun karena lebih menyukai hal-hal yang bersifat praktis dan aplikatif, Soedjono memilih keluar dan tidak aktif dalam pergerakan itu. Keluarnya Soedjono rupanya berbuah kemarahan dari teman-temannya kala itu.

Selepas menimba ilmu, Soedjono kembali ke Sumatera. Merasa Soedjono yang sudah cukup dewasa dan memasuki usia nikah, sang ibu menjodohkannya. Ia dijodohkan bersama seorang perempuan berdarah biru.

Mengetahui dirinya yang dijodohkan, sikap penentang Soedjono kembali kumat. Tegas ia menolak perjodohan yang dilakukan sang ibu dan berujung gagalnya pernikahan.

Alih-alih sudi dijodohkan, Soedjono rupanya kepincut dengan perempuan Eropa. Perempuan itu dinikahinya, tapi usia pernikahan keduanya tak berlangsung lama. Keduanya bercerai.

Neni mengisahkan, perceraian sang kakek dipicu lantaran tak suka gaya hidup perempuan Eropa. Sang istri saat itu dianggap lebih banyak menyukai hal-hal berbau kosmetika dan kecantikan.

Kesan hidup glamor macam itu rupanya tak sesuai dengan hati nurani Soedjono. Ia lebih senang memilih hidup bersahaja dan merasakan getir penderitaan orang-orang disekitarnya. (*)

Bersambung…

Monday, December 14, 2020

Batu Diduga Bertulis Aksara Brahmi Ditemukan di Sapit

AKSARA KUNO: Tiga lempeng batu bertulis aksara kuno ditemukan di Desa Sapit.

SELONG
—Sejarah Pulau Lombok telah menempatkan Desa Sapit, Kecamatan Suela Lombok Timur sebagai salah satu desa tua. Di desa ini masih terdapat banyak situs-situs masa lalu yang bisa ditemukan.

Situs-situs itu tidak saja merujuk pada hitungan peradaban berskala waktu masehi. Sebut saja seperti kehidupan kerajaan-kerajaan di nusantara, atau sejarah penyebaran sejumlah agama.

Lebih dari itu, situs yang merujuk pada skala waktu Sebelum Masehi (SM) diduga juga dapat ditemukan di desa ini. Seperti keberadaan batu yang diduga bertulis aksara Brahmi.

“Ada tiga potongan batu yang kami temukan. Ketiganya memiliki model aksara Brahmi,” ucap tokoh muda Desa Sapit, Jannatan Firdaus kepada JEJAK LOMBOK, Senin (14/12).

Aksara Brahmi sendiri berasal dari sekitar abad ke-3 SM. Rentang waktu kemasyhuran aksara ini bertepatan dengan kejayaan pemerintahan Raja Ashoka pada masa India Kuno.

Dalam laman Wikipedia menyebut bahwa Aksara Brahmi dikenal sebagai aksara yang memiliki variasi bentuk huruf dan tersebar dari India Utara hingga Selatan. Di India Utara, aksara Brahmi menjadi dasar perkembangan aksara Gupta selama periode Gupta.

Berikutnya, aksara ini akhirnya berkembang menjadi sejumlah tulisan kursif selama Abad Pertengahan. Termasuk di antaranya, aksara Siddham, Sharada dan Nagari. 

Aksara Siddham memberi pengaruh dari India Utara (termasuk Tibet) sampai Asia Timur, sementara aksara Sharada dan Nagari memberi pengaruh pada wilayah India Utara dan Barat.

Masih di laman Wikipedia menyebut bahwa Aksara Brahmi ini merupakan rumpun aksara abudiga. Aksara-aksara dari rumpun ini digunakan di Asia Selatan, Asia Tenggara, dan sebagian Asia Tengah dan Timur. 

Rumpun bahasa yang menggunakan aksara jenis ini antara lain, Indo-Eropa, Dravida, Tibet-Burma, Mongol, Austro-Asia, Austronesia, Tai, dan kemungkinan juga oleh bahasa Korea (Hangeul). Urutan vokal dalam rumpun aksara ini juga menjadi dasar urutan vokal dalam aksara kana (katakana dan hiragana) di Jepang.

Abugida, atau disebut juga alfasilabis, adalah aksara segmental yang didasarkan pada konsonan dengan notasi vokal yang diwajibkan tetapi bersifat sekunder. Hal ini berbeda dengan alfabet yang vokalnya memiliki status sama dengan konsonan serta abjad yang penandaan vokalnya tidak ada atau manasuka (opsional). 

Keluarga aksara Brahmi yang banyak digunakan di Asia Selatan dan Asia Tenggara termasuk dalam jenis aksara abugida ini.

Jannatan Firdaus menuturkan, tiga lempengan batu itu ditemukan belum lama ini. Ketiga batu tersebut ditemukan di pematang sawah warga setempat.

“Kita menemukannya di pelompong (pembuangan air irigasi sawah) di sawah warga,” ucapnya.


Sebelum penemuan batu bertulis aksara kuno itu, ungkapnya, sudah lama tersiar dari sejumlah tokoh di desa itu. Berbekal informasi itu, Jannatan pun mencoba berburu melacak keberadaan batu tersebut.

Lebih spesifik, ia mengaku menemukan batu ini dua tahun lalu, tepatnya 2018. Penemuan ini sekitar bulan Juli.

"Saya lupa tanggal pasti penemuannya," ucapnya.

Untuk menemukan batu ini, jelasnya, butuh waktu bertahun-tahun. Karena proses perburuan yang cukup Panjang, oleh warga setempat menganggp proses pencarian batu ini sangat mustahil.

Prasasti batu ini saat ditemukan, ungkapnya, telah mengalami retakan. Batu ini bahkan terpotong menjadi tiga bagian. Namun demikian, tak mengurungkan niatnya membawa pulang batu itu saat ditemukan.

“Saya memikulnya dan membawanya pulang sendiri,” ucapnya.

Ia pun mengisahkan bagaimana dirinya memikul batu itu. Dari lokasi yang sangat jauh dan ditempuh dengan berjalan kaki, tak membuat semangatnya surut.

Usai menemukan batu itu, ia mengaku membutuhkan waktu sekitar 4 bulan untuk sekedar membersihkan batu tersebut. Betapa kaget dirinya, setelah batu bersih ditemukan bentuk akrasa aneh di batu tersebut.

Aksara-aksara di batu yang tidak pernah dilihat sebelumnya itu membuat dirinya penasaran. Belakangan dari hasil pencariannya diduga jika aksara dalam batu itu adalah Aksara Brahmi.

Jannatan mengatakan, Aksara Brahmi ini lebih tua dibandingkan dengan Aksara Palawa. Di lain sisi, setelah batu ini disatukan akan ditemukan gambar patung sedang bertapa. Patung ini ini disebutnya mirip dengan pemujaan agama Hindu di India.

“Ini membuktikan Lombok, khususnya suku Sasak telah memiliki kepercayaan agama sejak lama,” ucapnya.

Kendati mengenali model aksara itu, ia sendiri hingga saat ini  mengaku belum mengerti maksud tulisan di dalam batu tersebut. Hanya saja, jiak merujuk rentang skala waktu lahirnya Aksara Brahmi, ia yakin aksara itu sezaman dengan masa hayatnya filsuf Yunani kelahiran Athena bernama Epicurus.

“Jangankan Nabi Muhammad, mungkin itu masa dimana Nabi Sis juga belum lahir,” tandsnya. (sy) 

Thursday, December 10, 2020

Langgar Pusaka, Saksi Masuknya Islam di Tanah Lombok

SAKSI SEJARAH: Langgar Pusaka di Desa Sapit menjadi saksi sejarah masa lalu penyebaran Islam.

SELONG
-- Mengungkap sejarah masuknya Islam di tanah Lombok sepertinya masih belum menemukan titik terang. Tidak ada sejarah detail yang membahas tentang masuknya agama yang kini menjadi mayoritas dipeluk penduduk warga Sasak (suku di Lombok).

Namun demikian, riwayat dan bukti penyebaran agama ini langit ini masih dapat ditemui dengan sejumlah peninggalan masa lalu. Di berbagai tempat di Lombok, nyaris terdapat bangunan masjid tua yang hingga kini masih kokoh berdiri.

Di Desa Sapit, Kecamatan Suela Lombok Timur misalnya. Bukti penyebaran dan peninggalan Islam di masa lampau dengan mudah bisa dijumpai.

Seperti keberadaan Langgar Pusaka di desa itu. Langgar berukuran 9X9 ini masih tetap berdiri teguh di antara pemukiman warga.

Langgar ini di masa lalu konon berfungsi sebagai masjid. Di tempat inilah awal mula Islam diajarkan kepada penduduk setempat.

Kepada JEJAK LOMBOK, Tokoh Pemuda Sapit, Jannatan Firdaus menuturkan, masjid tua yang terbuat dari kayu tidak diketahui persis kapan berdiri. Namun informasi terakhir, tiang di dalam langgar itu baru diganti pada tahun 1775 silam.

"Masjid ini sangat lama dan belum ditahu pasti angka tahun berdirinya," kata Jannatan Firdaus, Kamis (10/12).

Namun dari penuturan para sepuh di desa itu, tidak sedikit yang bercerita jika langgar itu didirikan di pertengahan abad ke-13. Masjid ini diduga didirikan pada tahun 1370-an.

Meski terbilang bangunan tua, tapi langgar itu masih kokoh berdiri. Kokohnya bangunan ini tidak lepas dari kepedulian warga setempat yang terus memeliharanya.

Masjid ini sendiri sangat mudah dijumpai pengunjung. Bisa dipastikan semua penduduk di Desa Sapit mengetahui keberadaannya.

Di halaman masjid terdapat dua kolam berukuran 3x3. Sementara di dalam masjid masih tersedia mimbar khutbah yang terbuat dari kayu.

Selain mimbar, beberapa mushab tua juga dapat ditemui. Menurut cerita ada 7 Alqur'an bertulis tangan. Namun baru tiga yang sudah didapatkan.

Salah satu mushab itu, terangnya, berbeda dengan yang lainnya. Biasanya, jika Alquran selalu didahului dengan Surat Alfatihah, maka di mushab yang ditemukan di desa ini justru dimulai dengan Surat Al-Ikhlas.

"Namun tinggal 4 mushab belum kita temui dan masjid ini direnovasi 5 tahun sekali," ucap pria yang akrab disapa Jan ini.

Pemuda lainnya, Didik Kurniawan menjelaskan, masjid tua ini digunakan ketika ada perayaan ritual adat. Seperti acara maulid adat, bubur abang, dan berbagai jenis ritual adat lainnya

Saat ini, terang Didik, masjid ini menjadi cagar budaya. Dimana keberadaannya dilindungi oleh masyarakat dan pemerintah.

"Dibuka juga ketika ada wabah atau bahla, dan masyarakat melaksanakan ritual," tandas Didik. (sy)

Menyesap Mitos Makam Dende Begang

MITOS: Salah satu mitos yang berkembang terhadap tanah makam Dende Begang yakni diyakini bisa mengusir hama tikus.

SELONG
--Alkisah di masa lalu, hidup lah seorang putri di salah satu kerajaan di Lombok. Putri ini ketika hamil punya keinginan aneh. 

Berbeda dengan perempuan kebanyakan, saat hamil sang putri selalu ingin melihat tikus (begang, Sasak). Keinginannya ini jelas saja membuat heran seisi istana kala itu.

Lantaran sebagai orang penting di istana, oleh para abdi berupaya segala cara bisa memenuhi keinginan tersebut. Maka berlomba-lomba lah para abdi membuat perangkap dan jebakan tikus.

Bagi mereka yang telah mendapatkan binatang bernama latin Muridae ini, segera saja ke istana. Binatang jenis hama tanaman ini dibawa ke hadapan sang putri untuk disaksikan.

Kisah tentang putri berkeinginan aneh itu rupanya hingga kini masih terawat dalam tradisi cerita bertutur (folklore). Cerita ini bisa ditemukan di Dusun Dewa Some, Desa Sakra Kecamatan Sakra Lombok Timur.

Entah kebenarannya sahih atau atau tidak. Yang jelas riwayat tentang putri ini masih bisa didengar dari mulut ke mulut di dusun setempat.

Seperti dongeng pada umumnya, kebanyakan tradisi folklore berupa cerita pengantar tidur. Demikian juga dengan cerita yang ada di Dusun Dewa Some ini, riwayat detail mengenai sang putri diragukan keontentikannya.

Kejelasan ini bisa dilihat lantaran tidak adanya identitas nama dan silsilah putri tersebut. Warga setempat tidak saja mengetahui nama sang putri, tapi juga buta dengan silsilahnya.

Pun begitu, sepeninggal putri tersebut, konon jasadnya dimakamkan di atas bukit di dusun tersebut. Makam sang putri belakangan kerap dikunjungi terutama oleh para petani.

Kepada JEJAK LOMBOK, warga setempat bernama Amaq Suwandi banyak bercerita tentang makam tersebut. Tidak sedikit warga yang datang menziarahi makam itu lalu diambil tanahnya.

"Orang luar banyak yang datang untuk mengambil tanah dari kuburan ini," kata Amaq Suwandi, Kamis (10/12).

Bagi peziarah, tanah makam itu cukup keramat. Tidak sedikit yang percaya jika tanah dimakan itu bisa mengusir hama tikus untuk tanaman mereka di sawah dan ladang.

Begitulah mitos yang berkembang selama ini tentang makam yang berada di bukit Dusun Dewa Some itu.

Kala hendak mengunjungi makam tersebut, terangnya, para oeziarah biasanya membawa sesajian. Mereka membawa bubur merah dan putih serta empok-empok (buah padi yang digoreng).

Akibat sering dikunjungi, warga setempat tak jarang menemukan tanah makam itu berlubang. Mau tak mau, demi menjaga makam itu, warga setempat kemudian menambah tanahnya agar tidak rata dengan tanah.

"Berapa kali kira harus tambahkan tanahnya karena terus dibawa oleh orang dan kubur itu berlubang," sebutnya.

Amaq Suwandi mengaku tak tahu pasti umur dari kuburan tersebut. Bahkan tokoh-tokoh di dusun itu juga belum tahu secara pasti riwayat keburuan itu.

"Yang pasti banyak orang datang, jika lagi diserang hama tikus baik di rumah maupun di sawah yang merusak tanaman," tandasnya. (sy)

Sunday, December 6, 2020

Benarkah Ada Benda Purbakala Masa Megalitikum di Desa Sapit?

BATU PURBA: Warga Desa Sapit meyakini batu ini berasal dari masa purba sejak desa itu berdiri.

SELONG
-- Pernah dengar kata Megalitikum? Dalam pelajaran sejarah, Megalitikum merujuk pada masa zaman batu. Yakni pada rentang skala waktu sekitar 1500 tahun sebelum masehi.

Ya pada zaman itu dikenal juga dengan zaman batu besar. Di era itu batu dibuat sebagai pendukung aktivitas keseharian umat manusia.

Dalam penulusuran JEJAK LOMBOK, sisa peninggalan zaman masa Megalitikum masih dapat ditemui. Keberadaan benda-benda masa purba ini bisa disaksikan di Desa Sapit, Kecamatan Suela, Lombok Timur.

Secara administratif, desa yang terletak di kaki Gunung Rinjani ini merupakan salah satu desa tua. Penegasan ini bisa ditemui melalui folklore maupun beberapa babad di Lombok.

Di desa ini terdapat sebuah batu berukuran relatif besar. Oleh penduduk setempat batu tersebut dikeramatkan. Padahal, batu-batu itu berada di tengah pemukiman warga.

"Batu ini tidak berani diapa-apakan oleh warga di sini," kata tokoh pemuda Desa Sapit, Jannatan Firdaus, Senin (7/12).

Batu tersebut, lanjutnya, oleh masyarakat setempat disebut Serawak. Diduga keberadaan batu itu jauh sebelum desa ini lahir.

Namun uniknya meski hanya sekedar batu, tapi oleh masyarakat setempat bongkahan padat itu masih dilindungi. Bahkan, warga tidak berani menggeser ataupun memindahkannya.

Ada alasan kuat di balik ketakutan warga menggeser batu itu. Ini karena batu tersebut diyakini masih menyimpan tuah. Tak heran jika warga setempat mengeratkan benda tersebut.

Saat ini saja, jika ada gawe (acara, red) keluarga seperti khitanan atau yang lainnya, keberadaan batu ini tak pernah dilupakan. Warga yang sedang sakit, kadang mendatangi batu tersebut sebagai tempat zikir dan do'a, dan menaruh sesajian.

"Jika ada yang khitanan atau sakit masih dikunjungi oleh masyarakat setempat," terangnya.

Secara pribadi, Jannatan Firdaus sendiri masih penasaran soal kebenaran kabar itu. Lantaran itu, ia mulai mengumpulkam beberapa referensi dan menemukan hal serupa di zaman megalitikum.

Tak hanya dikeramatkan, namun juga terdapat ciri yang menurutnya sama dengan era tersebut. Yakni benda tersebut berbentuk berundak.

Di zaman Megalitikum, batu seperti ini biasanya disebut Punden. Dalam tradisi masa lampau, punden kerap dijadikan obyek pemujaan.

Secara teoritis, terangnya, punden berundak merupakan bangunan pemujaan para leluhur. Punden berundak memiliki ciri bertingkat dengan bahan dari batu, di atasnya biasa didirikan Menhir. 

"Bangunan ini banyak dijumpai di Kosala dan Arca Domas Banten, Cisolok Sukabumi, serta Pugungharjo di Lampung," sebutnya.

Masih kata Jannatan, dalam perkembangan selanjutnya, punden berundak merupakan dasar pembuatan candi, keratin atau bangunan keagamaan.

SESAJI: Warga setempat meyakini batu-batu purba ini masih memiliki tuah dan dikeramatkan. Ini nampak jelas dengan adanya sesaji di dekat batu.

Struktur dasar punden berundak ditemukan pada situs-situs purbakala dari periode kebudayaan Megalit-Neolitikum. Di zaman ini masih diwarnai peradaban pra Hindu-Buddha masyarakat Austronesia. 

Padahal model peradaban ini juga masih digunakan sampai periode Islam masuk ke Nusantara.

Punden berundak ini biasanya dipergunakan sebagai sarana untuk menghormati dan pemujaan terhadap roh-roh nenek moyang. Kebudayaan megalitikum muncul pada zaman Neolitikum dan berkembang luas pada zaman logam.

"Peninggalan Megalitikum ini hampir menyebar di seluruh wilayah Nusantara," bebernya.

Ciri itulah yang ditemukan, di desa tersebut. Penemuan punden berundak ini pada dasarnya sudah lama di ketahui oleh masyarakat setempat. Namun karena tingkat pengetahuan masyarakat masih minim terkait dengan perkembangan fase sejarah, sehingga jenis bebatuan ini sangat jarang dipublikasi.

"Punden yang ada di di Desa Sapit ini sering disebut oleh masyarakat dengan serawak," sebutnya.

Tak hanya itu, peninggalan zaman Megalitikum seperti sarkofagus, dolmen dan jenis menhir juga didapati di desa itu. Keberadaan benda ini tersebar di beberapa wilayah kedusunan. 

Hanya saja, akunya, benda-benda itu belum tertata rapi sebagai peninggalan zaman megalitikum. Di lain sisi, belum ada penilitian lebih lanjut terkait benda tersebut.

"Namun dari catatan pemuda, ada sekitar 17 jenis benda peninggalan situs pra sejarah dan diyakini sebagai peninggalan zaman megalitikum atau zaman batu muda," tandasnya. (sy)

Sunday, November 29, 2020

Jejak Keganasan Jepang Masih Tersisa di Belanting (1)

Sisa Kapal Perang, Rudal dan Bangunan Masih Disaksikan

SISA BANGUNAN: Sumarlin menunjukan sisa bangunan yang dibuat tentara Jepang di Pademekan.

SELONG
-- Mafhum bagi banyak orang bahwa Desa Belanting merupakan salah satu desa yang berada di ujung utara Lombok Timur.

Nyaris sepanjang permukaan daratan desa ini konturnya cukup kasar. Sepanjang daratannya terdiri dari perbukitan dan hutan belantara.

Secara administratif, desa ini masuk dalam kawasan Kecamatan Pringgabaya, Lombok Timur. Lantaran permukaannya yang terdiri dari perbukitan, desa ini dikenal kerap dilanda bencana. Banjir bandang.

Untuk sampai di desa ini, pengunjung harus menempuh jarak sekitar 69,2 km dari pusat Kota Selong, ibukota Kabupaten Lombok Timur. Pengunjung akan dmemakan waktu hingga 1,5 jam menempuh perjalanan untuk sampai di lokasi.

Di desa ini, tepat di lokasi wisata pasir hitam Pedamekan, tersimpan bukti sejarah peninggalan kolonialisme Jepang. Di desa ini masih bisa ditemukan serpihan kapal perang.

Kepada JEJAK LOMBOK, penemu serpihan itu, Sumarlin menuturkan, 15 tahun yang lalu ia menemukan serpihan benda bersejarah berupa potongan kapal. Belakangan, serpihan kapal itu merupakan milik armada laut Dae Nipon.

"Saya menemukan benda ini di tengah laut saat menyelam menangkap ikan bersama para nelayan di sini," ungkapnya, Minggu (29/11).

Merasa penasaran, Sumarlin bersama warga mengangkat benda tersebut hingga ke pinggir pantai. Benar saja, setengah dari badan kapal perang itu disaksikan bersama masyarakat lainnya. 

Namun, sangat disayangkan kala itu, lanjutnya, masyarakat masih awam. Praktis potongan benda sejarah itu dipecah belah hingga tak tersisa. 

Ia sendiri masih menyimpan selongsong rudal balistik yang juga diambil kala itu. Ia menyimpannya lantaran termotivasi bahwa benda itu sebagai bukti sejarah.

SELONGSONG PELURU: Wartawan Jejak Lombok menunjukkan selongsong peluru milik tentara Jepang.

Rasa penasaran Sumarlin masih tersisa pasca penemuan itu. Ia pun menggali informasi tentang benda tersebut kepada orang tua terdahulu bernama Sutri.

Berdasarkan informasi yang diberikan lelaki tua yang kerap dipanggil Papuq Sutri (kakek Sutri), benda tersebut diketahui kapal milik Jepang yang terpecah dihantam bom pesawat Belanda. Konon, di sekitar perairan itulah dahulu tentara Jepang bersembunyi dengan cara menyelimuti kapal perangnya menggunakan rumpun dedaunan yang lebat hingga membentuk pulau. 

Kala itu, lanjutnya, kapal Belanda yang datang dari arah laut kalimantan mengetahui kapal milik Jepang yang bersembunyi itu. Tak lama kemudian, ia menghantam kapal tersebut melalui serangan udara hingga terpecah menjadi dua. 

Tidak diketahui secara pasti letak pecahan setengah badan kapal tersebut. Namun diperkirakan sisa benda sejarah lainnya yang belum diangkat masih tersimpan di dalam laut.

Bersamaan dengan itu, sebagian pasukan Jepang yang masih hidup melarikan diri. Mereka kocar-kacir menyelamatkan diri menuju hutan yang tidak jauh dari lokasi pasir hitam Pedamekan.

Di tengah hutan tersebut, tuturnya, masih tersisa bekas bangunan beserta benda lainnya yang tertanam. Bekas bangunan tersebut masih dapat disaksikan hingga saat ini.

Sementara itu, tokoh pemuda desa Belanting, Syarifudin mengungkapkan, tidak hanya di tengah laut, serpihan benda sejarah lainnya sangat gampang ditemukan di ladang milik warga. Ia menyebut, peluru aktif zaman kuno masih dapat ditemukan di areal ladang milik warga setempat. 

Ia sendiri, tak jarang menemukan benda itu dikala hendak berladang. (hs)

Bersambung...

Wednesday, November 25, 2020

Riwayat Masuknya Lontar ke Suradadi

KERAJINAN: Inilah hasil kerajinan berbahan daun lontar yang dibuat masyarakat Suradadi.

SELONG
--Siwalan atau Lontar merupakan salah satu pohon yang dibuat sebagai bahan dasar beberapa jenis kerajinan tangan di Desa Suradadi. Tumbuhan bernama latin Borasuss Flabellifer ini konon ditemukan pertama kali di Asia Selatan.

Pohon ini masuk dalam jenis palma (palem). Dimana palem merupakan tumbuhan berumah dua karena dapat menghasilkan bunga betina dan jantan. Namun, Secara morfologi lontar berbatang tunggal dan kasar. 

Tinggi pohon ini dapat mencapai 15-30 meter. Tangkai daunnya berukuran 60-120 senti dan berpelepah panjang mencapai 1 meter dengan lebar 5-7 senti meter,  berbentuk kipas, berwarna hijau, dan memiliki tekstur kaku.

Lebar tiap tajuk daunnya antara 5-7 cm. Dengan suri kasar, menjari, tebal dan panjangnya 2,5 sampai 3 meter.


Pohon lontar dulunya dapat ditemukan di beberapa daerah di Indonesia. Seperti di pulau Jawa bagian timur, Madura, Bali dan Nusa Tenggara, hingga ke Sumbawa NTB.

"Ada juga yang mengatakan persebarannya mulai dari India hingga Asia Tenggara, Papua Nugini sampai Australia Utara. Persebaran lontar diduga berkaitan dengan rute perdagangan India," terang Ketua Pokdarwis Lontar, Sawaluddin, kepada JEJAK LOMOK, Kamis (26/11).

Dia menjelaskan, masyarakat Suradadi mengenal lontar mulai 1830-an. Tanaman ini dikenal melalui warga yang baru pulang dari Sumbawa, dan membawa tumbuhan tersebut.

Setelah datangnya tumbuhan ini baru para pengerajin mengganti bahan dasar anyamannya. Yang awalnya menggunakan daun pandan.

Setiap kerajinan di desa itu, bebernya, terutama topi dan tudung saji (tembolak) dibuat dari daun padan. Hanya saja, daun pandan ini memiliki duri di sepanjang sisi dan bagian tengahnya.

Konon, menurut cerita yang berkembang, beber Sawal, topi dan tembolak lahir dari kegelisahan petani di desa setempat.

Lantaran pada waktu itu sekitar abad 19 belum ada pelindung kepala dari sengatan sinar matahari. Kegelisan itu yang membuat petani menganyam bentuk penutup kepala berbahan dasar pandan. Hal serupa tak jauh berbeda dengan poklor lahirnya tembolak di Suradadi.

"Sejak datangnya lontar sampai saat ini pengerajin mengganti bahan dasarnya semula dari pandang ke daun lontar," ujarnya

Lontar menurutnya, selain dapat mendatangkan nilai ekonomis juga dapat dijadikan sebagai penyelamat hidup. Lantaran buahnya mengandung air seperti kelapa yang jika di minum mengatasi dehidrasi.

Ia mengakui, sampai saat ini belum ada pohon lontar di desa setempat. Lantaran itu, bahan baku itu masih harus diambil dari Sumbawa.

Hal itu, menjadi salah satu kendala bagi pengerajin setempat. Sebab, jika ingin membuat anyaman dalam jumlah banyak harus menunggu pemesanan dulu.

"Kita lagi berfikir bagaimna bisa dapatkan pohon ini dengan mudah," tandas Sawal. (sy)

Friday, October 30, 2020

Menyesapi Makna Maulid Adat Petangan

MAULID ADAT: Warga Desa Kendang Nangka Kecamatan Masbagik saat memperingati Maulid Adat Petangan.

SELONG
-- Ritual dalam kehidupan umat manusia kerap kali menjadi bagian yang tak terpisahkan. Sesapan makna di setiap ritual tak jarang pula bertemali dengan hubungan transendental kepada Sang Pencipta.

Sebagai warisan budaya, ritual juga dinilai memberi andil dalam membangun peradaban. Tak heran jika banyak ragam ritual yang hingga kini masih dipertahankan eksistensinya.

Dalam kabisat kalender Islam, Bulan Rabi'ul Awal senantiasa menjadi bagian tapakan penting memaknai keberagamaan seorang muslim. Di bulan ini biasanya diperingati Maulid Nabi (kelahiran Nabi Muhammad).

Ada beragam model peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw. Model peringatan tapakan bersejarah itu seringkali berakulturasi dengan budaya setempat.

Di Lombok, tepatnya di Masbagik, Kecamatan Masbagik Lombok Timur, ada peringatan Maulid Adat Petangan. Maulid adat ini biasanya dilaksanakan di Desa Lendang Nangka.

"Di Lendang Nangka dikenal dengan sebutan Maulid Petangan," kata tokoh budaya setempat, Lalu Malik Hidayat, saat ditemui di kediamannya, Selasa malam (27/10).

Kata Petangan sendiri berarti sebuah pencarian. Konon, ritual ini dilaksanakan ketika keluarga Raja Selaparang tengah mencari tempat tinggal yang aman saat sedang dalam pelarian dari kejaran prajurit Kerajaan Karangasem, Bali.

Pelarian itu, ujar Miq Dayat, dengan membawa berbagai bekal. Dimana bekal tersebut beberapa diantaranya masih tersimpan sampai saat ini.

Sebut saja seperti batu sandaran sang raja, ranjang, bokor, bekam (guci, Red), tulang mangga berukuran 60 senti, sabuk (ikat pinggang), dan keris.

Semua peninggalan raja itu pada saat ritual juga turut dibersihkan sebagaimana orang tua dulu melaksanakannya. Ritus ini bahkan, dilaksanakan seminggu sebelum datangnya tanggal 12 Rabi'ul Awal.

Ritual ini, ujarnya, diawali dengan selamat Otak Aiq (selamatan sumber air) dengan menyemblih ayam putih dan hitam mulus. Ritual ini diikuti pembersihan pusaka, pembersihan makam.

Berikutnya ritual dilanjutkan dengan cara berjalan munuju sumber air yang ada di Kebun Tojang. Ritual Petangan ini juga menjadi pembuka perayaan maulid di desa itu. 

"Tahapan ritual ini sebagai rasa syukur terhadap nikmat Allah, mata air sebagai nikmat Allah. Sekaligus mengundang semua isi semesta alam, untuk berdo'a bersama," ujarnya.

Di lain sisi, bulan kelahiran Nabi Muhammad dalam pandangan suku adat Sasak disebutnya sebagai momentum lahirnya keteraturan alam. Sehingga, kondisi ini yang harus diangkat menjadi pedoman bagi umat muslim.

Karena itu, semua makhluk baik yang terlihat maupun kasat mata sama-sama berdo'a dan terus bersykur akan limpahan rahmat Tuhan.

"Maknanya itu ialah syukur denan anugerah Tuhan," sebutnya.

Kepala Wilayah Pedaleman Desa Lendang Nangka, H Tedi Wahyudi mengatakan, masyarakat setempat juga masih meyakini pada bulan Maulid mengandung berkah bagi bumi.

Selain itu, sumber air Tojang di desa itu ketika bulan Maulid tiba diyakini sebagai obat berbagai penyakit.

"Bulan ini masyarakat ramai-ramai mengambil air ke Tojang untuk dijadikan obat. Di tempat itu dijadikan tempat cuci pusaka," ucapnya.

Di lain sisi, air tersebut dijadikan sebagai air pembasuh pusaka berupa keris peninggalan sang raja. Yang bekas airnya juga dijadikan sebagai obat oleh masyarakat setempat.

Menurutnya, keris penginggalan itu terbuat dari jenis batu luar angkasa yang memiliki khasiat untuk kesehatan.

"Ini keterangan orang Balai Arkeologi saat turun lansung melihat keris itu," bebernya. (sy)

Thursday, October 15, 2020

Nilai Filosofis dan Kearifan Dalam Olahraga Belanjakan (2-Habis)

EVENT BUDAYA: Mengobati kerinduan akan tradisi ini, pada 2016 lalu masyarakat Masbagik menggelar event budaya Belanjakan.

SELONG
--Permainan sekaligus olahraga tradisional Belanjakan saat ini sudah jarang terdengar. Permainan ini masih populer di pengujung tahun 1990-an.

Di rentang tahun itu, olahraga ini masih sering dimainkan. Hanya saja, permainannya tidak mengikuti pakem masa lalu.

Sekitar tahun 1996, Belanjakan pernah diadakan di pinggir sungai di Dasan Lekong. Saat itu, para pepadu yang memainkan olahraga ini terdiri dari anak usia remaja dan pemuda.

Arena permainannya pun tidak lagi di atas jerami, tapi di atas pasir. Selain itu, pemain juga mengenakan pakaian seadanya, tidak lagi menggunakan kancut.

Tercatat, satu dekade lebih sudah permainan itu tidak lagi disaksikan oleh mata khalayak. Akibatnya, permainan ini nyaris dilupakan.

Di balik sisi historis dan ancaman kepunahannya itu, rupanya olahraga Belanjakan tak hanya sarat nilai historis. Lebih dari itu, olahraga rupanya mengandung nilai filosofis dan kearifan budaya.

"Di dalam olahraga ini memupuk jiwa persaudaraan, menjalin persatuan dan kesatuan antar sesama," ucap Amaq Ono, salah seora g pepadu Belanjakan masa lalu..

Pesan permainan tradisional ini disebutnya secara tegas bukanlah ajang bermusuh-musuhan. Dalam permainan ini tak lebih untuk menjalin silaturrahmi.  

"Di dalam arena permainan kita boleh menjadi lawan namun di luar arena permainan kita semua adalah saudara," sambungnya.

Di dalam olahraga ini, terdapat pula pembelajaran penting. Pada setiap permainan, para pemain dituntut mengembangkan sportivitas dan tidak tidak boleh memelihara dendam.

Sementara itu, Ketua Lembaga Lombok Membaur (Lambur), Mirzan Ilhamdi mengatakan, musnahnya permainan belanjakan ini terjadi sekitar tahun 1991. Penyebabnya karena setiap kali diadakan, selalu saja berbuntut keributan.

Sejak tak lagi muncul ke permukaan, rupanya membuat masyarakat Masbagik merindukan permainan tersebut. Tahun 2016 gelaran Belanjakan diadakan sebagai sebuah event budaya.

"Rupanya peminat yang mendaftar dan ikut bertarung cukup banyak," ucapnya.

Kedepan, ia berharap, event budaya Belanjakan bisa menjadi agenda rutin. Alasannya bukan saja untuk melestarikan eksistensi permainan ini, tapi juga sebagai ajang promosi pariwisata. (sy)

Wednesday, October 14, 2020

Tradisi Belanjakan, Cara Mencari Para Ksatria Melawan Kolonialisme (1)

PEPADU: Para pepadu Belanjakan adu keterampilan dan adu tangkas.

SELONG
--Tumpukan kenangan kelam masa lalu berupa catatan sejarah invasi di Pulau Lombok seolah tak berkesudahan. Semisal keluar dari kandang harimau, masuk pula di mulut buaya.

Residu sejarah atas perkosaan hak asasi untuk hidup dengan layak sepertinya menjadi bagian yang tak terhindarkan bagi tanah Lombok. Betapa tidak, tanah elok nan permai ini dalam kilasan sejarahnya diliputi dengan serangkaian penindasan demi penindasan.

Penghisapan dan perbudakan di masa lalu sepertinya menjadi tragedi kemanusiaan paling miris. Andai deretan kenangan itu dilacak, kehadirannya tak pernah diinginkan. Bahkan, untuk sekedar mampir di benak pun, generasi hari ini tak pernah sudi. Sakitnya terlalu perih.

Bayangkan saja, kerja paksa bernama Pongor di masa pendudukan Bali, kerja paksa Rodi Belanda, hingga kerja paksa Romusha Jepang semuanya sudah dikecap manusia di pulau yang luasnya mencapai 5.435 km² ini.

Masyarakat Lombok yang didera kenyataan pahit masa lalu rupanya masih memercikkan harapan. Mereka ingin hidup sama setara selayaknya manusia yang lain. Tanpa penindasan, tanpa perbudakan.

Tak heran jika sejak invasi Bali hingga Jepang bercokol, letupan-letupan perlawanan seolah tak pernah sunyi di tanah Lombok. Lihat saja bagaimana gerakan kedatuan yang muncul di sana-sini sebagai manifes gerakan mesianis.

Kedatuan-kedatuan yang muncul di seantero Lombok adalah simbol penolakan sekaligus perlawanan. Dari semangat mesianis ini pula ingin digelorakan semangat pembebasan atas invasi yang mereka alami.

Dengan luas 5.435 kilometer persegi, Lombok dalam catatan Wikipedia ditempatkan sebagai pulau terluas peringkat 108 di dunia. Di masa invasi itu, tak hanya kalangan ningrat yang menggelorakan perlawanan. Di akar rumput, perlawanan para petani tak kalah heroiknya.

Sebut saja seperti tradisi Belanjakan. Tradisi satu ini dapat ditemukan di Kecamatan Masbagik, Kabupaten Lombok Timur. 

"Belanjakan merupakan warisan budaya masyarakat Masbagik," kata Ketua Lombok Membaur (Lombur), Marzoan Ihlamdi, Rabu (14/9) kepada JEJAK LOMBOK.

Organisasi yang konsen pada gerakan kebudayaan ini dalam menyebut ada dua penamaan terhadap tradisi ini, Belanjakan dan Pelanjakan. Dua sebutan ini memiliki arti yang sama.

Diambil dari kosa kata bahasa Sasak (suku di Pulau Lombok), Belanjakan berasal dari kata Lanjak. Kata ini berarti tendang.

Dalam catatan historis masyarakat setempat, Belanjakan merupakan tradisi olahraga sekaligus peemainan trasidional.

Lazim diketahui dalam permainan ini memiliki aturan ketat. Para pemain tak boleh menghantam lawan dengan cara meninju, mencakar, dan mencekik dengan tangan. Pemain hanya boleh menendang.

Tangan hanya berfungsi untuk menghalau tendangan yang dilayangkan oleh lawan. Selain itu, telapak tangan tak boleh dalam keadaan terkepal dan harus tetap dalam kondisi terbuka. 

"Jadi tangan tidak boleh kita meninju pemian dengan tangan kita. Kalau dilihat telapak tangan saja tidak boleh," timpal Amaq Hill, salah seorng jawara permainan Belanjakan ini.

Pria 70 tahun itu menerangkan, secara teknik, Belanjakan sangat besar persamaannya dengan permainan Sumo yang berasal dari Jepang. Kesamaan itu bisa dilihat baik secara teknik maupun pakaian yang dikenakan. 


Belanjakan dilengkapi dengan pakaian yang disebut Bekancut (kain yang dipakai untuk melindungi kemaluan, yang berbentuk celana dalam, Red). Pakaian ini mirip dengan pakaian Pesumo Jepang. Bedanya adalah sumo menggunakan dorongan dan bantingan.

Dalam permainan Belanjakan, lawan dikatakan kalah ketika sudah mengucap kata Cop. Kata ini sebagai tanda lawan menyerah.

Secara umum teknik permainan olahraga Belanjakan disebutnya sangat sederhana. Seperti adanya pengembar (wasit) dan pepadu (pemain).

Masyarakat Masbagik tempo dulu biasanya memainkan permainan ini di sore hari selepas panen padi. Di atas tumpukan jerami yang telah dipisahkan dari biji padi itulah masyarkat dahulu memainkannya.

Namun Belanjakan bergeser menjadi olahraga serius. Tak sekedar permainan, tapi juga ajang mencari para kesatria yang siap diturunkan di medan perang.

Budayawan Lombok Timur, Lalu Malik Hidayat menyebutkan, sejak ekspansi Bali di Lombok, Belanjakan menjadi latihan para prajurit perang Kerajaan Selaparang. Para pelari Belanjakan ini rupanya menjadi pasukan garda pertahanan. Mereka pula yang menghalau pasukan Kerajaan Karangasem Bali.

Diketahui invasi Bali ke Lombok ditandai dengan dikirimnya 8 ribu bala tentara pada 25 Agustus 1891. Namun begitu, serdadu Karangasem dibuat menarik diri pula dari upaya pendudukan di Masbagik oleh kekuatan pasukan garda pertahanan Belanjakan.

"Tradisi ini sebagai latihan rutin untuk menghadapi perang dan sebagai pasukan pertahanan Kerajaan Selaparang yang dipersiapkan untuk menghalau serangan tentara Bali di kawasan Lombok Timur bagian tengah, khususnya di daerah Masbagik," kata pria yang akrab Miq Dayat tersebut. 

Ketangguhan pasukan Belanjakan ini tak hanya dijajal balatentara Bali, bahkan pasukan Jepang pun dibuat modar. Kerap kali dalam banyak kerusuhan selalu melibatkan pasukan Belanjakan.


Tugas utama para pelaku Belanjakan ini adalah membuat onar di markas Jepang. Tujuannya memancing pasukan musuh keluar sarang. Setelah keluar sebagian dari anggota masuk merampas isi markas dan membantai tentara tersebut. 

"Buktinya dulu penyerangan ke Pengadangan," ujarnya.

Berdasarkan catatan sejarah, Angkatan Laut Jepang mendarat di Pantai Ampenan pada 18 Mei 1942. Pendaratan ini disusul Angkatan Darat Jepang pada 12 Mei 1942 di Labuan Haji.

Kehadiran pasukan Jepang menandai berakhirnya penjajahan Belanda yang bercokol di Pulau Lombok sejak 1894.diman Belanda sendiri menjajah Lombok dalam suatu ekspedisi pascapenaklukan Kerajaan Karangasem.

Masih dalam dalam catatan sejarah Lombok, lokasi yang dibangun Jepang di Lombok antara lain, di Lembar, Tanjung Ringgit, Lendang Marang, Rambang, Bangko-Bangko, Labuan Lombok, dan Gili Trawangan.

Gua Jepang di Tanjung Ringgit, Kabupaten Lombok Timur sendiri sampai sekarang masih ada, yang lokasinya tidak jauh dari objek wisata Pantai Pink yang harus melalui kawasan Hutan Sekaroh. Ketika menjajah Indonesia, Lombok termasuk jadi wilayah yang dijadikan markas pertahanan menangkal serangan musuh sekaligus menjadikan penduduknya sebagai budak.

Pasca Kemerdekaan, lanjut Miq Dayat, Belanjakan dijadikan sebagai ajang pemilihan Lang-Lang (petugas keamanan) di daerah Masbagik. Yang tugasnya menjaga kondusivitas wilayah tersebut. 

Terlebih, pada saat akhir masa orde lama ketika gerakan PKI menyeruak. Tak jarang masyarakat setempat dituduh sebagai anggota organiasi terlarang tersebut. Bahkan, banyak dari mereka dibunuh dengan cara sadis.

Pada zaman orde baru, selanjutnya Belanjakan berkembang menjadi tradisi permainan tradisional. Tradisi itu rutin dimainkan oleh masyarakat setempat, setiap selesai panen padi setiap sore hari. (sy)

Bersambung...

Our Blog

55 Cups
Average weekly coffee drank
9000 Lines
Average weekly lines of code
400 Customers
Average yearly happy clients

Our Team

Rizki Handika Putra
CEO
Laela Rosanti
Creative Designer
Sopian Haris
Sales Manager
Syamsu Rizal
Developer

Contact

Talk to us

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit. Dolores iusto fugit esse soluta quae debitis quibusdam harum voluptatem, maxime, aliquam sequi. Tempora ipsum magni unde velit corporis fuga, necessitatibus blanditiis.

Address:

9983 City name, Street name, 232 Apartment C

Work Time:

Monday - Friday from 9am to 5pm

Phone:

595 12 34 567