Solusi Digital Marketing Nusa Tenggara Barat

Memberkan pelayanan terbaik untuk anda dan usaha anda, kami mempunyai tenaga profesional dibidang marketing digital.

Layanan Konsultasi

Our Services

Sepenuh Hati

Solusi Digital Marketing di Nusa tenggara Barat.

Read More

Great Concept

Solusi Digital Marketing di Nusa tenggara Barat.

Read More

Development

Solusi Digital Marketing di Nusa tenggara Barat.

Read More

User Friendly

Solusi Digital Marketing di Nusa tenggara Barat.

Read More

Recent Work

Showing posts with label Budaya. Show all posts
Showing posts with label Budaya. Show all posts

Sunday, July 18, 2021

Melihat Naskah Khutbah Kuno Idul Adha di Desa Songak

UTUH: Naskah kuno khutbah Idul Adha di Desa Songak masih nampak utuh.

SELONG
-- Sejarah Pulau Lombok menempatkan Desa Songak, Kecamatan Sakra Lombok Timur menjadi salah satu desa dengan dengan latar belakang kekayaan sejarah. Di desa ini, masih terdapat situs sejarah yang bisa ditemukan.

Situs-situs itu lebih banyak merujuk pada peninggalan penyebaran agama Islam. Buktinya di desa ini masih ditemukannya masjid tua yang masih berdiri kokoh.

Tapi ternyata tak hanya berupa bangunan, namun juga sebuah naskah kuno yang berisi khutbah Hari Raya Idul Adha. 

"Di dalam naskah itu, menjelaskan tentang berkurban lengkap dengan rukun khotbahnya," terang seorang tokoh setempat, Murdiyah, saat ditemui JEJAK LOMBOK di kediamannya, Minggu (18/7).

Naskah kuno ini, lanjutnya, bertuliskan tangan, berupa huruf Arab Melayu. Tulisan itu dilengkapi dengan ayat quran sebagai penguat perintah berqurban tesebut. 

Dalam naskah ini, kata dia, dimulai dari niat sampai dengan khutbah ke dua.

Awal mula ditemukan naskah khotbah ini pada saat Masjid Bengan (Masjid Tua) di desa itu direhab.  Pada waktu itu, dirinya diberikan oleh seseorang yang sampai saat ini belum ia ketahui keberadaannya. 

Pada saat itu, ia hanya mendengarkan suara dan diberikan naskah tersebut.

"Saya tidak perhatikan, dan sudah saya tanya semua orang yang ada di sana, semua menjawab bukan saya," ucapnya.

Naskah ini berangka tahun berkisar 1300 Masehi atau abad ke 13, pasca Samalas meletus. Pendapat lain menyebut jika naskah tersebut berasal pada abad sekitar 1500 M, atau abad ke 15. 


Angka tahun itu, jelas Murdiyah, diketahui dari jenis kertas pada naskah itu. Biasanya kertas sejenis itu lazim digunakan saat penyebaran Islam.

Di Lombok sendiri, Islam di awal mula disebarkan para pedagang asal Magrhibi (Maroko). Mereka ini mendarat di Lombok, abad ke 13.

Naskah ini, ucapnya, menjadi salah satu peninggalan bersejarah selain masjid dan benda pusaka lainnya di Desa Songak. Naskah dan peninggalan tersebut masih terpelihara sampai saat ini.

Panjang naskah ini, bebernya, berkisar 170 sentimeter atau setinggi badan manusia pada saat ini. Sementara lebarnya hanya 20 sentimeter.

Dengan begitu, imbuhnya, masyarakat Lombok pada masa itu telah mengenal Islam. Bahkan disebutnya dari sejak lama.

"Kami masih pegang sebagai bukti kesejarahan di desa ini, dan tetap akan kami pelihara," ucapnya. (jl)

Saturday, July 3, 2021

Tenun NTB Harus Ikuti Tren Fesyen

KHAZANAH: Ketua Dekranasda NTB, Hj Niken Saptarini Widyawati saat melihat ragam tenun di NTB.

MATARAM
-- Memenangkan pasar merupakan bagian kunci dari setiap produk. Sisi ini penting diperhatikan para desainer NTB.

Ketua Dekranasda NTB, Hj Niken Saptarini Widyawati, meminta kepada desainer dan pengrajin NTB untuk mengikuti tren fesyen kekinian. 

Pesan tersebut disampaikan dalam seminar The New Beginning, Fashion Trend and Craft 2021/2022. Kegiatan ini dilaksanakan secara hybrid, Sabtu (3/7) di Graha Bhakti Praja Kantor Gubernur NTB.

"Karena saat ini, pasar melihat tren memenuhi keinginannya, seperti model fesyen dari produk yang dihasilkan perajin kain tenun," ungkap Hj Niken.

Apalagi NTB memiliki potensi kekayaan warisan budaya yang berlimpah. Mulai dari tenun, sarung, songket, yang dirancang mejadi fesyen.

Sebut saja seperti model pakaian, tas, sepatu, hijab dan banyak produk lainnya.

Selain itu, mengikuti perkembangan fesyen merupakan salah satu cara tetap mempertahankan kekayaan warisan leluhur.

"Kita tidak ingin kekayaan budaya seperti tenun, hanya kita yang nikmati,  tapi dapat dipakai semua orang bahkan dunia. Yang terpenting akan menjadi warisan anak dan cucu kita," tutupnya.

Sementara itu, narasumber dari Indonesia Fashion Chamber, Tedinang menyampaikan komitmennya memajukan fesyen di Indonesia termasuk di NTB.

Kaya dia, NTB memiliki kekayaan tenun atau songket yang kaya. Kekayaan ini dapat menginspirasi dan menginovasi untuk tren fesyen.

Wanita fashionable yang juga Tim Riset Trend  Desiner Kemenkraf RI menyebut NTB memiliki ragam tenun dan songket. NTB dapat bisa jadi model fesyen center dunia. 

Menurutnya daerah ini memiliki banyak potensi sumber daya alam dan potensi sumber daya manusianya.

"Harus mendunia, kita bisa," tutupnya di hadapan puluhan pelaku industri ekraf, designer dan pengrajin se-NTB. (jl)

Wednesday, June 9, 2021

Risau Warisan Budaya Dicaplok, 14 Organisasi Ini Datangi Dewan

ASPIRASI: Para pegiat budaya NTB yang tergabung dalam Sekber Warisan Budaya NTB menyampaikan aspirasi kepada Bapemperda DPRD NTB 

MATARAM
-- Warisan budaya NTB sangat kaya dengan tiga etnis yang mendiaminya. Ketiga etnis itu yakni Sasak, Samawa dan Mbojo.

Dari ketiga etnis yang mendiami NTB rupanya tak disadari banyak warisan budaya yang dicaplok daerah lain. Pencaplokan ini mengundang keprihatinan para pelaku dan aktivis kebudayaan di NTB.

Kamis (10/6), Sekretariat Bersama Warisan Budaya NTB mendatangi DPRD NTB. Kedatangan mereka untuk menyampaikan tentang pentingnya kehadiran regulasi yang menjaga semua warisan budaya di NTB.

"Kami sangat khawatir dengan kondisi warisan budaya kita saat ini. Sudah banyak yang diakui daerah lain," ungkap Ketua Sekber Warisan Budaya NTB, Drs Muhammad Irwan Prastya.

Beberapa warisan budaya yang telah dicaplok misalnya Grantim (keris dengan gagang emas). Ada juga kuliner tradisional seperti Celorot dan Ares.

Tidak itu saja, kerajinan cukli yang merupakan hasil karya etnis Sasak juga telah diakui daerah lain. Pencaplokan terhadap warisan budaya ini tidak saja dialami etnis Sasak, Baju Kurung etnis Samawa juga telah diakui daerah lain.

Bagi Irwan, pencaplokan ini bisa dibilang tragedi budaya. Tragedi ini terjadi lantaran lemahnya perlindungan dan pengawasan terhadap kekayaan tersebut.

Ia memandang, penting bagi semua pihak menginventarisasi semua warisan budaya dimiliki masyarakat NTB. Ini agar pencaplokan tidak terus menerus terjadi.

Sejauh ini, warisan budaya NTB berupa benda non benda yang sudah terdaftar di Kementerian Hukum dan HAM sekitar 13. Dari jumlah itu, hanya 5 yang berasal dari etnis Sasak.

"Selebihnya dari Pulau Sumbawa dari etnis Mbojo dan Samawa," ucapnya.

Terdaftarnya warisan budaya di Kemenkum HAM, terangnya, setidaknya bisa menjaga dan melestarikan khazanah masyarakatlah NTB. Hak kekayaan intelektual masyarakat NTB harus diakui secara nasional.

Namun demikian, karena tidak adanya porsi perhatian serius dalam bentuk regulasi, bukan tidak mungkin kekayaan ini bakal tergerus zaman. Bukan tidak mungkin pula satu demi satu warisan budaya tiga etnis di NTB ini akan diakui daerah lain.

Sedikitnya ada 14 organisasi yang tergabung dalam Sekber Warisan Budaya NTB. Sekber ini bertekad harus ada regulasi daerah yang mengatur tentang warisan budaya demi perlindungan di masa depan.

Terhadap aspirasi ini, Ketua Badan Pembentukan Perda (Bapemperda) DPRD NTB, H Makmun mengatakan, komitmen pihaknya mengawal pelestarian budaya sangat jelas. Usulan dalam pertemuan bersama Sekber ini dipastikan masuk dalam Program Legislasi Daerah (Prolegda) NTB.

"Kita kencangkan usulan ini. Semoga segala persiapan bisa dituntaskan sebelum anggaran perubahan dibahas," ucapnya.

Ia tak menafikan selama ini banyak warisan budaya, hak kekayaan intelektual masyarakat NTB belum terinventarisasi dengan baik. Tidak heran jika sejumlah warisan budaya di NTB meliputi benda non benda diakui daerah lain.

Ia berharap lewat pertemuan ini bakal lahir Ranperda tentang warisan budaya. Ranperda ini sekaligus bakal menjadi inisiatif yang diusulkan dewan. (jl)

Monday, May 24, 2021

Angkatan Kerja Meningkat, Pengangguran Menurun di NTB

Najamuddin Amy

MATARAM
-- Jumlah angkatan kerja periode Februari 2021 mencapai angka 2,75 juta orang. Jumlah ini naik sekitar 58,14 ribu orang dibanding periode Agustus 2020 lalu.

Data ini dirilis Biro Perekonomian dari Badan Pusat Statistik (BPS) terbaru.

Dari sumber yang sama, penduduk yang sudah bekerja sebanyak 2,64 juta orang, juga bertambah sekitar 62,49 ribu orang. Penambahan ini setara sebesar 2,43 persen jika dibandingkan dengan Agustus tahun lalu. 

Kepala Dinas Kominfotik NTB, Najamuddin Amy mengungkapkan, sejalan dengan kondisi tersebut, Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) juga naik sebesar 0,87 persen poin. Sementara Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) pada Februari 2021 turun sebesar 0,25 persen poin, menjadi 3,97 persen dibandingkan dengan Agustus 2020. 

"Artinya, presentase penduduk yang bekerja pada kegiatan informal meningkat sebesar 1,23 persen poin jika dibanding Agustus tahun lalu," ucapnya, Senin (24/5).

Jika melihat dari tingkat pendidikan, lanjutnya, maka TPT tertinggi terdapat pada penduduk dengan pendidikan tamatan Universitas, yaitu sebesar 7,07 persen.

Menurutnya, sektor utama penyediaan  lapangan pekerjaan yang mengalami peningkatan terbesar adalah sektor pertanian. Sektor ini disusul oleh kehutanan dan perikanan mencapai 3,07 persen poin.

Selain itu, penyediaan akomodasi dan makan minum sekitar 1,45 persen poin. Lalu ada juga sektor jasa pendidikan naik menjadi 1,01 persen poin.

Dari kondisi itu, bebernya, ada dua perbedaan terkait jam kerja. Mulai dari pekerja penuh atau dengan jam kerja minimal 35 jam per minggu hingga pekerja tidak penuh atau jam kerja kurang dari 35 jam per minggu.

Masih dari rilis itu, terdapat 1,40 juta orang atau sebesar 53,22 persen orang yang bekerja penuh atau dengan jam kerja minimal 35 jam per minggu. Sememtara para pekerja dengan waktu tidak penuh sebanyak 1,23 juta orang atau sekitar 46,78 persen. 

Mereke ini terdiri dari 406,57 ribu orang setengah penganggur dan 827,64 ribu orang bekerja paruh waktu.

Di sisi lain, terdapat 297,85 ribu orang (7,73 persen) penduduk usia kerja yang terkena dampak pandemi Covid-19. Diantaranya, terdiri dari 23,08 ribu orang yang menganggur dan Bukan Angkatan Kerja (BAK) sebanyak 10,70 ribu orang. 

Sementara yang tidak bekerja karena pandemi mencapai 16,61 ribu orang dan penduduk bekerja yang mengalami pekerja pengurangan jam kerja sebanyak 247,46 ribu orang. (jl)

Monday, May 17, 2021

Dikbud Lotim Butuh Tenaga Ahli Pertahankan Situs Peninggalan

Rusman

SELONG
-- Peninggalan situs budaya dan sejarah masa lalu harus tetap dirawat dan dilestarikan. Ini penting sebagai warisan budaya masa depan bagi generasi berikutnya.

Di Lombok Timur, sejumlah situs peninggalan sejarah muncul seiring waktu dengan berbagai macam bentuk. Sementara, untuk melestarikan situs budaya tersebut, masyarakat mengandalkan perlindungan sederhana, yaitu desa masing-masing.

Terhadap kondisi ini, Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Budaya Lombok Timur, Rusman mengungkapkan, situs peninggalan sejarah membutuhkan tenaga ahli untuk mendapat pengakuan resmi. Di lain sisi, di Lombok Timur, tenaga ahli yang bersertifikat hingga kini belum ada.

Praktis hal ini membuat pihaknya kerepotan untuk melakukan penelitian identitas situs peninggalan bersejarah yang ada.

"Kita terkendala tenaga ahli untuk melakukan penelitian serta pengakuan situs budaya tersebut," ucapnya, Selasa (18/5).

Rusman menyatakan, beberapa tahun lalu pihaknya telah mengajukan permohonan kepada pimpinan daerah agar memberikan tenaga ahli. Hal itu, untuk melindungi situs budaya di Lombok Timur.

Tidak hanya itu, ia mengaku, pihaknya telah mengajukan permohonan untuk menggunakan gedung juang sebagai museum Lombok Timur. Namun, hal itu dinilai kandas lantaran didahului Bank NTB Syari'ah.

Rusman mengaku khawatir, jika situs budaya di Lotim tidak dilindungi. Lambat laun situs itu akan mendapat pengakuan dari daerah lain.

Karena itu, ia berharap agar Bupati Sukiman dapat mengabulkan permohonan yang telah diajukan. Hal itu untuk mempertahankan situs budaya Lombok Timur. (hs)

Monday, May 10, 2021

Begini Sejarah Singkat Kain Tenun Sesek Pringgasela

WARISAN BUDAYA: Salah seorang ibu dan anaknya di Pringgasela tengah menyesek kain untuk dijadikan tenun. Kain tenun ini sudah ditetapkan sebagai warisan budaya.

SELONG
— Desa Pringgasela, Kecamatan Pringgasela Lombok Timur dikenal sebagai salah satu daerah sentra pengrajin kain tenun. Keberadaan kain tenun asal desa ini tentu memperkaya khazanah kain tenun lokal khas asal Lombok.

Senin (10/5), akun Instagram Kemenparekraf RI secara khusus mengulas tentang kebaradaan kain tenun yang satu ini. Dalam unggahan tersebut bahkan mengulas sisi historis kain tenun tersebut.

Dalam unggahan itu, Kemparekraf RI menyebut jika kain tenun khas Pringgasela sudah eksis sejak abad ke-15. Usianya yang berabad-abad itu menahbiskan kain tenun ini sebagai salah satu warisan budaya yang oatut dilestasrikan.

Nama Sesek sendiri diambil dari asal suara alat tenun ini “sek sek”. Dari sumber suara itulah kain itu dinamakan kain tenun sesek.

Diunggahan tersebut diketahui bahwa kain tenun Sesek Pringgasela sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia. Status ini ditetapkan pada 2018 lalu oleh Direktorat Warisan dan diplomasi Budaya Kemendikbud.

Dalam perjalan sejarahnya, kain tenun yang diajarkan secara turun temurun ini diajarkan salah seorang tokoh agama Islam bernama Lebae Nursini. Sosok ini, selain datang mengajarkan agama Islam, juga mengajarkan cara Bertani dan menenun.

Menariknya, pelajaran menenun ini diajarkan dengan cara memanfaatkan bahan-bahan alami. Salah satunya dengan menggunakan balok-balok kayu yang dirakit.

Belakangan, alat yang dirakit ini oleh warga sekitar menyebutnya sebagai Gedokan.

Demi melestarikan kain tenun Sesek Pringgasela ini, UNESCO pada 2019 lalu memberikan bantuan mesin tenun. Ada juga bantuan lain betrupa alat pintal serta mengirim salah seorang warga setempat belajar ke India mengenal digitalisasi motif tenun.

Di akhir unggahan itu, Kemparekraf mengajak masyarakat nusantara bangga dengan kehadiran kain tenun tersebut. Ini karena kain tenun tersebut juga merupakan warisan budaya yang harus dilestarikan.

Dalam unggahan Kemenparekraf itu menyertakan 4 buah poster foto. Masing-masing poster disertai dengan sejumlah keterangan terkait eksistensi kain tenun ini.

Pada poster foto pertama misalnya. Kain tenun asal Pringgasela ini disebut sebagai salah satu kain tenun yang ramah lingkungan dalam proses pembuatannya.

Pada poster foto kedua disebutkan bahwa bahan dasar warna kain ini memanfaatkan warna alam. Dimana warna alam ini diambil dari pohon manga, tarum, mahoni, manggis, kulit kelapa muda dan kulit batang kayu Nangka.

Karen menggunakan warna alam, kain tenun ini disebut memiliki nilai daya tarik tersendiri. Dengan memanfaatkan warna alam berimbas pada nilai jual dan keunikan dari kain tenun ini.

Sementara pada poster foto ketiga dan keempat masing-masing menyebut tentang proses pembuatannya. Yang terakhir menyebut tentang beragam motif yang dimiliki dari kain tenun tersebut. (jl)

Wednesday, April 28, 2021

Tongkek, Musik Tradisional Khas Pancor yang Masih Lestari

Dimainkan sebagai Tanda Masuknya Waktu Ibadah

LESTARI: Alat musik tradisional Tongkek masih lestari dan bisa dijumpai di sekitar Kelurahan Pancor, Lombok Timur.

----------

"Kawasan Pancor dan sekitarnya memang beda. Tak hanya dikenal sebagai kota santri, Pancor juga memiliki alat musik tradisional yang masih bisa ditemukan hingga kini."

SAEPUL HAKKUL YAKIN-- SELONG

SENJA sore pamit di tengah jantung kota. Waktu berbuka puasa segera menjelang diiringi petang kemerahan.

Begitulah suasana di Pancor, Kecamatan Selong Lombok Timur. Daerah ini Mafhum baginkhalayak dikenal sebagai santri, tapi juga menjadi episentrum aktivitas perekonomian di Lombok Timur.

Keramaiannya bisa dibilang yang tersibuk dibanding ibukota Kabupaten Lombok Timur, yakni Selong, yang menjadi pusat administrasi pemerintahan.

Sebelum ditetapkan sebagai kelurahan, Pancor merupakan sebuah desa perluasan yang dibentuk oleh orang-orang Kelayu tempo dulu.

Dalam Babakan sejarahnya, Pancor pantas mendapat posisi istimewa di tanah Lombok. Betapa tidak, Lontar Monyeh karya Jero Mihram yang masyhur itu lahir dan diciptakan di sini.

Lontar Monyeh merupakan karya adi luhung orang Sasak (suku Pulau Lombok). Lontar ini dianggap yang paling revolusioner dibanding lontar-lontar lainnya lantaran perbedaan bahasa yang digunakan.

Jika lontar lain menggunakan bahasa Jawi dan Bali, maka Lontar Monyeh meruoakanlontar pertama berbahasa Sasak. Lontar itu kini masih bisa ditemui di Museum Negeri NTB.

Tak hanya itu, lahirnya sosok ulama ternama yakni TGH M Zainuddin Abdul Madjid menjadi bagian penting lainnya. Tak hanya mendirikan ormas terbesar NTB, tapi juga telah ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional.

Di balik segala keistimewaan yang dimiliki kota santri ini, siapa sangka jika warga setempat juga memiliki alat musik tradisional bernama Tongkek. Yakni sebuah alat musik mirip angklung dan terbuat dari bambu.

Salah satu lokasi untuk menjumpai alat musik ini yakni di Lingkungan Seroja Dayan Masjid, Kelurahan Majidi. Di pemukiman padat penduduk itu, alat musik ini karib dimainkan oleh warga dari lintas usia. Mulai dari anak-anak, dewasa hingga orang tua.

Rabu (28/4), di lorong sempit di tengah keramaian warga. Tampak remaja hingga dewasa memainkan alat musik tradisional tersebut. Iramanya yang khas mengundang telinga menyimak setiap ketukan nada yang lewat bunyi yang dikeluarkan alat musik itu.

Kelurahan Majidi sendiri merupakan pecahan dari Kelurahan Pancor. Tak heran jika alat musik ini juga dijumpai dikeluarkan tersebut.

"Ini musik tradisional tongkek, yang lahir di Pancor," kata Ketua Sanggar Teruna Monggok, Abdul Mukmin Sofian, kepada JEJAK LOMBOK. 

Konon tongkek ini, digunakan sebagai pengingat masuknya waktu salat setiap hari. Sebab, keberadaan bedug pada saat itu, dianggap tak efektif. 

PENTAS: Anak-anak warga Pancor saat pentas memainkan alat musik Tongkek.

Tongkek, tak hanya dimanfaatkan sebagai pengingat waktu salat. Namun juga sebagai alat untuk membangunkan warga untuk melaksanakan ibadah makan sahur selama bulan Ramadan dengan cara berkeliling ke seluruh pemukiman warga.

Tradisi itulah yang sampai saat ini masih melekat hingga kini.  Tongkek dapat dibilang menjadi menu wajib setiap sahur akan tiba.

Menurut cerita yanng berkembang dari orang tua. Musik tradisional satu ini telah ditulis dalam bentuk buku yang memuat tentang asal usul, sampai dengan ketukan tangga nada dari tongkek ini sendiri.

"Saya tidak tahu tahun berapa lahir musik ini lahir, dan kenapa disebut tongkek. Tapi ini musik tradisional khas masyarakat Pancor," terangnya.

Alat musik dari ini bambu ini terdiri dari tiga jenis nada. Masing-masing dari ketiga jenis nada ini memiliki ukuran berbeda. Mulai dari yang berukuran 60 sentimeter untuk nada rendah, 45-40 sentimeter untuk nada medium dan 20-25 sentimeter untuk nada tinggi.

Selain itu, kekhasan alat musik satu ini ialah lagu yang dibawakan yakni berjudul Pantok Telu. Judul ini berarti alat musik itu dimainkan pada pukul tiga dini hari. 

Lagu ini, terangnya, berisi ketukan nada meminta warga bangun dari tempat tidur untuk melaksanakan sahur.

"Sangat mudah dimainkan. Hampir semua orang Pancor bisa memainkannya," ucapnya.

Seiring perkembangan zaman, jelasnya, ada pergeseran dari segi alat. Jika dulu hanya berupa bambu dan sebuah bedug. Saat ini sudah mendapatkan alat tambahan berupa gong dan seruling. 

Pergesaran ini juga tak hanya pada fungsinya. Jika dulu hanya digunakan untuk mengingatkan waktu salat dan membangunkan sahur, saat ini sudah menjadi musik pilihan warga ketika begawe (pesta) pernikahan, acara adat, sampai dengan seminar.

Perkembangan selanjutnya, terangnya, pada nada atau lagu yang dimainkan. Jika dulu hanya berkutat pada tiga ketukan nada, sekarang sudan bisa memainkan berbagai macam pukulan tangga nada. Yakni mulai dari gending (nada) gamelan, sampai dengan lagu konvensional.

"Tapi dalam acara tertentu, nada dasar awal tetap kita mainkan," ujarnya.

Tongkek, kata dia, saat ini sudah berkembang pesat. Jika dulu, hanya satu kelompok namun sekarang lebih dari dua.

Di wilayah Pancor saja, ujarnya, sudah ada sekitar enam kelompok musik tradisional tersebut. Meski demikian dari jumlah itu hanya berapa yang bisa eksis.

Mereka muncul ketika bulan Ramadan tiba, dan itu yang membuat suasana bulan suci itu terasa semarak.

Tongkek, ucapnya, sebenarnya tak hanya dikenal di Lombok saja. Musik tradisional kelahiran Pancor ini telah dikenal sampai dengan ke mancanegara.

"Dulu salah satu kelompok tongkek main di Australia dalam acara budaya internasional," ujarnya.

Kepala Wilayah Lingkungan Dayan Masjid Dua, Fathurrahman mengakui, jika musik tradisional satu ini telah mengakar di jiwa warga Pancor. Menurutnya, banyak bukti bahwa permainan ini, hanya dapat dimainkan dengan sempurna oleh orang setempat.

Memainkan alat satu ini, kata dia, seperti kembali ke masa lampau. Pada saat wilayah ini masih berupa hutan belantara.

Di tempatnya itu, tongkek ini memiliki sanggar yang digeluti tak hanya oleh orang tua, tapi juga sampai anak-anak. Bahkan dulu, di salah satu sekolah tongkek ini pernah menjadi pilihan ekstrakulikuler.

"Sudah tradisinya kalau membangunkan sahur pakai tongkek. Jadi tidak ada warga yang merasa terganggu ketika alat musik ini dimainkan ketika tengah malam," ucapnya.

Terpisah, Lurah Majidi, Sukarman menerangkan, pihaknya telah memberikan bantuan kepada kelompok tongkek, khususnya ada di Kelurahan Majidi. Bantuan itu berupa pakaian seragam.

Upaya itu disebutnya, sebagai salah satu cara melestarikan musik tradisional itu. Meski begitu, ia mengakui belum ada sanggar yang bisa dimanfaatkan oleh kelompok tersebut. Yang ada, sampai saat ini kegiatan masih berpusat di sekretariat kelompok masing-masing. (*)

Thursday, April 22, 2021

Sebelum Idul Fitri, Vaksinasi Covid-19 Lansia Ditarget Tuntas

RAKOR: Wagub NTB, Hj Sitti Rohmi Djalillah bersama Kapolda NTB dan Danrem 162/WB NTB saat rakor terkait penanganan Covid-19.

MATARAM
-- Vaksinasi Covid-19 di NTB akan lebih difokuskan kepada masyarakat lanjut usia (lansia). Karena itu, Pemprov NTB meminta semua kabupaten kota menggandeng semua pihak terutama TNI/Polri mempercepat kegiatan vaksinasi.

"Jadi vaksinnya jangan dipakai buat yang lain, sekarang kita fokus buat lansia dulu. Kalau vaksinasi lansia sudah mencapai target baru bisa beralih ke yang lain," ungkap Wakil Gubernur NTB, Hj. Sitti Rohmi Djalillah, Kamis (22/4).

Apa yang dilontarkan Hj Rohmi itu disampaikan saat rapat penanganan Covid-19 bersama yang didampingi Kapolda NTB, Irjen Pol Muhammad Iqbal dan Danrem 162/WB, Brigjen TNI Ahmad Rizal Ramdhani. Rapat ini diselenggarakan di Tenda Putih Polda NTB, Kamis (22/04)

Data Dinas Kesehatan NTB menyebutkan, jumlah sasaran lansia berdasarkan droping dari pusat sebanyak 50.751 orang. Dari target itu, lansia yang sudah divaksin pada dosis pertama mencapai 30,2 persen atau sekitar 15.340 orang yang sudah divaksin. 

Sementara jumlah lansia yang telah divaksin pada dosis kedua mencapai 6.080 atau sekitar 12,0 persen.

Hj. Rohmi menjelaskan, kegiatan vaksinasi lansia di NTB ditargetkan sebelum Idul Fitri sudah divaksin Covid-19. Sehingga strategi pelayanan, terutama pada kegiatan menjemput atau mendatangi warga lansia hingga ke dusun-dusun dan desa harus diperkuat dengan edukasi dari hati ke hati. 

"Jangan sampai mereka merasa diri dipaksa untuk divaksin," ucapnya.

Senada, Kapolda NTB, Irjen Pol Muhammad Iqbal menegaskan, pihaknya akan perkuat pendampingan mempercepat kegiatan vaksinasi pada lansia. Kalangan ini disebutnya paling rentan terhadap penyebaran Covid-19 dan harus diprioritaskan.

"Jika masih banyak yang menolak, tentu kita akan mengedepankan edukasi yang masif. Sehingga kesehatan saat pandemi ini merupakan hal paling penting untuk dijaga," ungkapnya.

Kapolda juga mengingatkan kepada jajarannya bekerja lebih keras lagi. Bagi semua kapolres kabupaten kota se-NTB yang tidak mampu menunjukkan kerja dengan progres yang baik pada kegiatan vaksinasi lansia, ia tak segan-segan untuk mencopot jabatannya.

Sebaliknya, jika menunjukan hasil yang memuaskan demi kesehatan masyarakat, yang bersangkutan juga mendapatkan penghargaan yang setimpal.

Hal yang sama juga disampaikan Danrem 162/WB, Brigjen TNI Ahmad Rizal Ramdhani. Pihaknya mulai dari Korem hingga Babinsa akan terus mendukung dan mengawal kegiatan vaksinasi lansia. Sehingga program vaksinasi tersebut dapat berjalan sesuai dengan target yang sudah ditetapkan. 

Menurut Danrem, vaksinasi ini memang harus dikawal dengan baik agar mendapatkan hasil yang maksimal. Karena ini berbicara kerentanan penyebaran Covid-19 yang cukup tingga kepada masyarakat lansia. Sehingga kesehatannya harus benar-benar dibentengi dengan kegiatan vaksinasi.

"Saya juga sudah kasih warning, bagi Danramil hingga Babinsa yang memiliki nilai yang bagus pada kegiatan vaksinasi di wilayahnya pasti saya akan promosikan. Tapi kalau hasilnya jelek tidak sesuai target, mohon maaf terpaksa saya istirahatkan," tegasnya. (jl)

Wednesday, April 14, 2021

Kain Tenun NTB Siap Bertarung di Kancah Nasional

PEMENANG: Para pemenang lomba kain tenun tradisional NTB berpose bareng.

MATARAM
-- Provinsi NTB sukses menggelar acara Lomba Cerita Wastra 2021. Para juara terpilih selanjutnya akan melenggang ke tingkat nasional.

Mereka ini diharapkan mampu memperkenalkan kecantikan dan keeksotisan wastra atau kain tradisional khas NTB. Langkah ini perlu dilalukan pada seluruh masyarakat Indonesia. 

Hal tersebut disampaikan Ketua Dekranasda NTB, Hj. Niken Saptarini Widyawati Zulkieflimansyah, saat menggelar acara sesi foto bersama pemenang di Ruang Kerja Gubernur, Rabu (14/4). Sesi foto bersama tersebut juga dihadiri oleh Gubernur NTB, H. Zulkieflimansyah. 

"Alhamdulillah dengan diselenggarannya lomba ini dapat meningkatkan kebanggaan pemakaian kain tradisional NTB dan memasyarakatkan kembali wastra daerah kita," jelas Hj Niken.

Ketua Dekranasda NTB tersebut memaparkan terkait Lomba Cerita Wastra 2021. Lomba ini digelar oleh Kementerian Koperasi dan UKM (Kemenkop UKM) bekerja sama dengan Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) dan Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda). Lomba ini digelar di tingkat provinsi kemudian pemenangnya akan kembali bertarung di tingkat nasional. 

Kegiatan yang digelar secara daring ini bertujuan memperkenalkan wastra (kain tradisional) dalam bentuk kompetisi foto daring kebaya dan kain tradisional yang kemudian dirangkaikan dengan narasi "aku dan kain". Dimana para peserta harus menceritakan relasi pribadinya dengan kain tersebut, sejarah hingga proses pembuatannya agar masyarakat dapat mengenal lebih dekat. 

Provinsi NTB sendiri menyelenggarakan Lomba ini selama dua minggu dan diikuti oleh 50 peserta dari Pulau Lombok dan Sumbawa. 

"Saya berbangga karena antusias masyarakat NTB cukup besar dalam mengikuti lomba ini. Dekranasda kabupaten dan kota ikut berpartisipasi bahkan diikuti selebgram lokal. Semoga ini bisa meningkatkan awarness masyarakat NTB," tutur Bunda Niken. 

Pemenang Lomba Cerita Wastra Provinsi NTB ini di antaranya, juara 1 dimenangkan oleh Baiq Dewi Septemi. Perempuan yang menetap di Kediri Lombok Barat tersebut mengkreasikan tenun khas Lombok Barat, dengan atasan lambung yang dikombinasikan dengan kain Tenun Mareje ditambahkan kain tile agar lebih milenial dan bawahan kain tenun Gumise motif gerimis. 

"Busana ini bisa dipakai pada kegiatan sehari-hari. Kita ingin menasionalkan ini agar kain tenun bisa dipakai tidak hanya saat acara resmi saja tapi dapat juga digunakan untuk daily look atau busana sehari-hari," jelas Temi sapaan akrabnya. 

Perempuan yang berprofesi sebagai perawat tersebut juga menjelaskan, jika tenun tidak hanya digunakan pada acara resmi saja maka akan meningkatkan daya beli masyarakat. Sehingga UMKM yang memproduksi tenun bisa diberdayakan secara ekonomi. 

"Kalau saya pengen tetap terus mempromosikan kain tradisional NTB. Lewat lomba ini, kita menceritakan apa sejarah dan proses dibalik kain ini. Yang mana peran UMKM juga dibaliknya, sehingga bisa memberdayakan ekonomi mereka," harapnya. 

Sementara itu, Juara 2 diraih oleh Silva Iza Azizah dengan menggandeng model Syarifah Aisyah. Duo asal Dompu ini membawakan Tenun Tembe Nggoli dan Munapa'a khas Dompu. 

Sedangkan juara 3 diraih oleh Sri Mila Hardiana. Melalui UKM Ana Tenun Sukarara, ia membawakan kain motif songket lolo jagung khas Sukarara. Serta juara favorit Ina Pariska yang membawakan kain songket Kiping Jempiring khas Desa Sukarare Lombok Tengah. (jl)

Monday, March 22, 2021

Mitos Dua Pohon Bila Kembar di Pengadangan

MASIH UTUH: Pohon Bila Kembar di Desa Pengadangan hingga kini masih bisa dijumpai dan masih utuh.

SELONG
-- Setiap daerah pasti ada cerita rakyat yang berkembang. Kisah-kisah itu sering kali berangkat dari cerita rakyat setempat.

Kadang kebenaran cerita itu acap kali dianggap sebagai mitos. Penyebabnya kebenaran kisah itu tak dapat dibuktikan. Kendati ada peninggalan ataupun bekas jejak seorang tokoh yang tengah diceritakan tersebut.

Seperti sebuah pohon yang disebut Bila Kembar oleh masyarakat Desa Pengadangan Barat, Kecamatan Pringgasela, Lombok Timur.

Senin (22/3), JEJAK LOMBOK mencoba menulusuri cerita tersebut. Media ini tertarik lantaran lantaran kisah yang satu ini lekat dikaitkan dengan sebuah peristiwa magis di wilayah tersebut. 

Awak media inipun mencoba menemui salah satu tokoh di desa itu. H Sinarep nama tokoh tersebut.

Sosok yang satu ini merupakan mantan Kaling Desa Pengadangan. Dari penuturannya banyak diketahui kisah tentang kedua pohon tersebut.

 H Sinarep menceritakan, kedua pohon tersebut tak bisa lepas dari kisah seorang putri bangsawan pada masa lampau. Cerita ini masih bisa dijumpai dari mulut ke mulut masyarakat setempat.

Konon, tuturnya, peristiwa itu benar terjadi. Tak hanya bukti berupa dua pohon yang masih utuh. Namun juga, nama tempat dalam kisah itu masih dapat ditemui dan dikunjungi.

Cerita kedua pohon ini, terang pria 70 tahun itu, berawal dari kisah dua orang putra kerajaan yang disebut sebagai Daha dan Keling. Hanya saja ia pun tak tahu persis tahun berapa kejadian itu berlangsung.

"Nama datu itu Daha dan Keling. Keduanya ingin memiliki anak laki-laki," tuturnya.

Keduanya berjanji jika memiliki anak yang sesuai dengan permintaan, mereka hendak kembali ke tempat tersebut membuat sesajian. Sesajian yang bakal dipersembahkan yakni likuq dan buaq kelopok (daun sirih dan buah pinang, Red).

Singkat cerita, kedua bersaudara itupun memiliki anak. Daha memiliki anak laki-laki, sedang Keling memiliki anak perempuan.

Datu Daha yang memiliki anak lelaki memenuhi nazarnya. Tentu kondisi berbeda pada Datu Keling, ia tak memenuhi janjinya.

Tragis! Datu Keling yang tak penuhi nazar harus menerima konsekuensi. Anaknya dibawa terbang oleh angin sampai di sebuah tempat. Anak tersebut dipungut dan diasuh oleh sebuah keluarga yang tak memiliki keturunan.

Bagi sepasang suami istri tersebut, menemukan seorang bayi tentu menjadi anugerah. Mereka sangat kegirangan. Anak itupun diberi nama Cilinaya.

"Sedangkan anak Datu Daha bernama, Raden Mergasih," ucapnya.

Roda waktu terus berputar, masa remaja kedua anak itupun tiba. Seiring usia, Raden Mergasih bermimpi bulan purnama turun ke pangkuannya.

Rupanya, isi mimpinya itu diceritakan kepada ayahnya. Sang ayah pun memanggil sembilan ahli tafsir mimpi. Dari semuanya menjawab, bahwa sang Raden Mergasih bakal mendapatkan apa yang diinginkannya.

"Kalau Raden mau mancing pasti dapat ikan. Begitu pula kalau ingin berburu pasti mendapatkan buruannya," ucapnya.

Raden Mergasih pun mencoba membuktikan arti mimpi itu. Namun naas apa yang diramalkan pun tak kunjung terbukti.

Saat memancing tak ada satu pun didapatinya seekor ikan. Begitu pula saat berburu, tak satu binatang buruan ia dapatkan.

Jangan kan burung, kodok pun tak ada yang lewat dihadapannya selama hampir satu tahun melakukan perburuan. Padahal para prajuritnya, sudah membawa semua jenis burung menjadi umpan agar burung lain bisa datang.

Ramalan tinggal ramalan. Ia merasa kesal dengan perburuan yang ia lakukan. Ia pergi meninggalkan prajuritnya di tengah hutan dan terus berlalu menelusuri arah angin.

Setelah seharian berjalan, ia pun mendengar suara dari kejauhan, suara seorang gadis. Suara itu mengetuk hatinya.

Di sela-sela suara itu, ia juga mendengar alat mesin tenun. Rupanya suara itu berasal dari alat penenun yang tengah digunakan oleh bibi Cilinaya," ungkapnya.

Raden Mergasih pun menemukan sumber suara tersebut. Sumber suara itu rupanya berada di sebuah rumah milik warga setempat.

Ia pun meminta kepada pemilik rumah membukakan pintu. Tak lama berselang pintu pun terbuka.

Tak lama dalam rumah tersebut, ia bertanya kepada pemilik rumah, siapa yang menenun tadi. Pertanyaan itu terlontar lantaran suara alat tersebut terdengar iramanya sangat indah.

Pemilik rumah pun mengelak, ia mengatakan tak memiliki anak. Ia mengaku mandul. Namun Raden Mergasih tak percaya begitu saja. Penyebab ia tak percaya karena mencium wewangian yang biasanya digunakan seorang wanita yang masih muda.

"Waktu itu Cilinaya disembunyikan di bawah alat penenun itu," ujarnya.

Lantaran kecurigaan itu, sang Raden pun memutuskan mencari ke setiap sudut rumah. Sayang, ia tak menemukan siapa-siapa. Namun saat hendak balik dan melewati alat penenun rambut Cilinaya tersangkut di keris sang Raden.

Raden yang terperanjat rupanya langsung memeriksa alat tenun itu. Di kolong mesin itu, ada seorang gadis jelita. Apes bagi keduanya, saat beradu tatap, mereka malah pingsan pada pandangan pertama.

Mudah ditebak kenapa mereka pingsan. Keduanya saling jatuh cinta. Mereka pun minta dinikahkan. Hanya saja permintaannya sontak membuat pemilik rumah itu bingung lantaran sang Raden keturunan datu (bangsawan) terhormat.

Di lain sisi, ia tak mungkin menolak permintaan seorang Raden. Ia pun berat hati menikahkannya.

Setelah sekian lama menikah sampai mempunyai anak. Sang datu memerintahkan para abdinya untuk mencari keberadaan Raden Mergasih. Salah seorang pangeran pun menemukannya dan langsung ingin membawa pulang.

"Keluarganya pun dikatakan tidak mungkin anak datu menikah dengan anak kangkung," kisah H Sinarep.

Cilinaya tersinggung dengan ucapan tersebut. Ia merasa merana dengan perlakuan tak adil macam itu. Cilinaya minta dihunuskan pedang tepat ke jantungnya.

"Jika darah saya merah, bearti saya keturunan kangkung. Tapi kalau darah saya putih dan mengeluarkan wewangian, maka saya anak seorang datu juga," bebernya.

Utusan pun menusuknya tepat di jantung Cilinaya. Ternyata darah yang keluar putih dan mengeluarkan harum wewangian. Utusan pun pingsan dibuatnya oleh sebab wewangian yang keluar dari tubuh perempuan tersebut.

Darahnya pun tak jatuh ke tanah. Darah Cilinaya malah melawan gravitasi bumi dan terus naik ke atas langit yang menyerupai awan.

"Dia dibunuh di anatara pohon Bila Kembar itu," sebutnya.

Si Raden pun bingung. Setelah berhari-hari menunggu mayat Cilinaya, ia mendengar bisikan suara. Ia diminta untuk mengikat tubuh mayat tersebut di sebuah batang kayu. 

Ini dilakukan tak lain semua sebuah harapan. Jika burung gagak putih turun, maka orang yang dicintainya akan hidup kembali.

Ia pun diminta untuk langsung menarik jasad tersebut. Namun jika gagak hitam turun, Mergasih diminta mengikhlaskan kepergian Cilinaya.

Di luar dugaan, harapan Mergasih terkabul. Seekor gagak putih menyambangi jasad Cilinaya yang telah meregang.

H Sinarep menuturkan, dari ihwal cerita itulah kemudian pohon tersebut dinamakan Bila Kembar. Keduanya hidup berdampingan dengan tinggi dan usia yang sama.

Saat awak media ini berada di lokasi, ada yang menarik dari pohon tersebut. Yakni dapat sebagai penanda datangnya pergantian musim. 

Jika daunnya berguguran, maka pertanda akan datang musim kemarau. Namun sebaliknya, ketika rimbun daun akan datang musim penghujan.

"Dan kejadian itu masih sampai sekarang," ujarnya.

Terpisah, Kaur Perencanaan Desa Pengadangan Barat, Muhlis mengamini kejadian tersebut. Menurutnya, peristiwa itu masih dapat disaksikan sampai saat ini.

Pohon itu, sebutnya, memiliki tinggi daan rupa yang sama. Usianya diduga sangat tua mencapai ratusan tahun dan oleh warga, pohon itu dijuluki Bila Kembar.

Menurutnya, di tempat tersebut juga dapat ditemui salah satu sumber mata air. Namun, saat ini sudah tertutup.

Selain sebagai penanda pergantian musim, tempat ini juga sering digunakan sebagai lokasi halwat dan berobat bagi orang tertentu.

"Pohon ini terletak di tanah warga dan sudah kita kelilingi menggunakan bambu. Pohon ini kita abadikan sebagai nama dusun di sini," tandasnya. (kin)

Sunday, February 28, 2021

Situs Bangunan dan Benda Kebudyaan Lotim Masih Dipelihara Warga

SITUS BUDAYA: Barang-barang berharga dan bersejarah masa lalu masih disimpan warga.

SELONG
--Keberadaan benda dan bangunan bersejarah di Lombok sangat banyak, khususnya di Lombok Timur. Tentunya keberadaannya merupakan bagian dari kekayaan daerah.

Lantaran itu, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melalui Dirjen Kebudayaan, menggelar program penggiat kebudayaan. 

Pendamping Penggiat Kebudayaan Wilayah Lombok Timur, Sinarwadi mengatakan, program ini disebutnya mendata semua situs kebudayaan. Baik berupa bangunan ataupun benda.

"Saat ini baru sekitar 200 situs budaya yang terdaftar," terang Sinarwadi, Senin (1/3).

Ia menerangkan, khusus di wilayah Lombok Timur, dirinya lebih banyak menemukan benda cagar budaya masih dipelihara oleh masyarakat. Dimana benda-benda itu oleh warga masih diyakini memiliki tuah.

Kondisi ini disebutnya sangat bagus dalam upaya pemeliharaan benda-benda tersebut. Tidak sedikit masyarakat yang percaya bila dijual atau tak dipelihara, mereka akan mengalami sakit ataupun menglami nasip malang lainnya.

Menurutnya, program ini langsung terintegrasi  dengan kementrian terkait. Pelaporan melaui aplikasi yang langsung tersimpan di data base pemerintah.

"Selain melaporkan melalui kementerian, kita juga memiliki laporan sifatnya triwulan," ujarnya.

Dia mengatakan, selain melalui pendataan kementerian juga menggelar Konsultasi Fasilitas Bidang Kebudayaan (FBK). Konsultasi ini digelar setiap hari Rabu, melalui zoom meeting.

Sesuai Permen Nomor 1 tahun 2021, telah diatur pula tentang petunjuk teknis bantuan pemerintah Fasilitasi Bidang Kebudayaan.

"Silahkan juga bagi penggiat budaya siapa tau ingin, silahkan proposalnya dikirim secepatnya," tandasnya. (kin)

Monday, February 1, 2021

Tolak Bala, 44 Penghulu Gunung Gelar Ritual Nyentulaq

RITUAL: Masyarakat Desa Biloq Petung menggelar ritual Nyentulaq sebagai doa tolak musibah.

SELONG
-- Musibah demi musibah terus datang melanda NTB. Mulai dari gempa hingga terjangan virus Corona. Belum lagi musibah tahunan seperti banjir dan tanah longsor.

Prihatin dengan musibah yang terus-menerus menghampiri daerah ini, 44 penghulu gunung di sekitar Rinjani menggelar ritual Nyentulaq. Sebuah ritual yang diniatkan untuk menolak bala'.

Tak hanya para penghulu gunung, para tetua adat dari beragama keyakinan juga tumpah ruah dalam kegiatan tersebut. Mulai dari tokoh umat muslim hingga non muslim.

Ritual yang diselenggarakan, Senin (1/2) ini, dilaksanakan di Desa Biloq Petung, Kecamatan Sembalun, Lombok Timur.

Ketua panitia pelaksana acara, Khairul Wardi dalam sambutanya mengatakan, dalam ritual adat Nyentulak atau tolak bala ini diniatkan untuk berdoa. Doa tersebut tidak lain agar semua musibah segera berakhir.

Nyentulaq dilakukan oleh para sesepuh Biluq sebagai tradisi adat yang turun temurun. Dengan diadakannya ritual ini untuk menjaga lingkungan dan dijauhkan dari marabahaya penyakit.

"Acara ritual ini dilaksanakan supaya di jauhkan dari marabahaya penyakit seperti virus covid ini," katanya.

Untuk itu, dalam acara ritual ini, semua berdoa agar penyakit dan marabahaya yang ada di tanah Sasak bisa cepat hilang dan berakhir.

Selain ritual Nyentulaq, ada juga ritual lainnya seperti Maulid Adat. Ritual ini dilaksanakan setiap tahun.

Tak hanya itu, ada pula ritual lain yang terus berkembang di tengah-tengah masyarakat Biloq Petung. Ritual itu yakni Ider-Ider. Sebuah ritual yang dilaksanakan 1 kali dalam 8 tahun.

Dalam paparannya, Wardi menyebut Biloq Petung sangat kaya khazanah masa lalu. Salah satu yang masih bisa ditemui yakni peninggalan sejarah berupa petilasan Batu Bongkok.

Terhadap kegiatan ini, Wakil Bupati Lotim H Rumaksih mengatakan, ia mengapresiasi panitia yang berinisiasi menyelenggarakan doa bwrsama tersebut. Terlebih yang hadir bukan orang-orang sembarangan, yakni para pemangku gunung.

"Saya sangat mengapresiasi panitia yang sudah berinisiasi menyelenggarakan acara ini," katanya.

Di masa pandemi ini, pemerintah telah mengeluarkan cukup banyak biaya untuk menangani virus Covid-19. Biaya ini tidak saja di Desa Biloq Petung, tapi di seluruh dunia.

"Semoga dengan diadakannya doa tolak bala oleh para pemangku gunung, semoga virus Covid-19 cepat berakhir," harapnya.

Sementara itu, Sekda NTB HL Gita Ariyadi mengatakan, dengan adanya doa tolak bala, ia harapkan semua penyakit cepat berakhir. Terlebih, sejak awal datangnya Covid-19 ini katanya, pada bulan Maret sudah melakukan rapat untuk berupaya mencegah penyebarannya.

Dengan  adanya ritual Nyentulak do’a bersama ini, semua semoga musibah cepat berakhir.

Selain musibah Covid-19 ini, terdapat ancaman lainnya seperti bemcana alam, banjir, tanah longsor, gunung meletus, gempa bumi dan tsunami.

"Tidak hanya covid-19 ini, tapi banyak ancaman bencana yang lainnya," tuturnya. (zaa)

Friday, January 8, 2021

Kehadiran Lifeguard Jamin Keamanan di Senggigi

LEBIH AMAN: Kehadiran penjaga pantai (life guard) dipastikan bisa menjamin kawasan pantai lebih aman.

GERUNG
--Selalu ada ide dan terobosan baru yang didiskusikan bersama para pelaku pariwisata di Lombok Barat. Terbaru, di kawasan Pantai Senggigi diharapkan hadirnya lifeguard penjaga pantai.

Ini mengemuka dari usul Senggigi Lombok Beach Boys for Changes (BBC). Komunitas yang satilu ini memandang pentingnya kehadiran lifeguard untuk keselamatan pengunjung.

"Meskipun pertemuan kita sebentar dan sederhana, selalu ada ide dan inovasi yang dikemukakan oleh teman-teman kita ini," ungkap Kepala Dinas Pariwisata Lombok Barat, H Saiful Ahkam, Jumat (8/1).

Pertemuan bersama para pelaku pariwisata ini, jelasnya, demi memastikan Senggigi tetap sebagai ikon pariwisata di Lombok. Terlebih, kemasyhuran kawasan wisata yang satu ini sudah dikenal sudah jauh sejak dulu.

Mengemukanya usulan kehadiran lifeguard, jelasnya, sebagai bentuk perhatian semua elemen di Lombok Barat terhadap Senggigi. Baik itu pemerintah, pelaku pariwisata maupun masyarakat sendiri.

Bagi Ahkam, perhatian terhadap destinasi yang legendaris ini sangat penting. Ini karena tidak sedikit masyarakat, terutama pelaku pariwisata menggantungkan hidupnya lewat destinasi yang satu ini.

 "Perhatian terhadap Senggigi ini tidak saja dalam bentuk aksi bersih-bersih sampah. Ada juga intervensi penataan serta yang lain," lanjutnya.

Sebenarnya, ide lifeguard ini tidak saja di Pantai Senggigi saja, tapi juga di semua kawasan pantai di Lobar yang menjadi obyek wisata.

Komunitas BBC dalam diskusi tersebut, berharap nantinya ada yang bisa dilatih sebagai life guard. 

"Harus ada penjaga pantai, atau tenaga expert yang akan menjaminkan keselamatan bagi siapapun masyarakat yang akan bertamasya di pantai," lanjut Akhkam.

Akhkam kemudian menyampaikan apresiasi kepada BBC yang selama dua tahun ini telah menunjukkan komitmennya dalam menjaga kebersihan pantai dan  menata lingkungan. Menurutnya, keterlibatan komunitas-komunitas sangatlah membantu pemerintah dalam memelihara kawasan ini. 

"Sepanjang garis pantai ini bagian dari tanggung jawab Dispar, meski tidak semua, ada dinas-dinas lain yang juga mempunyai tanggung jawab. Dari itu, mari kita saling atur supaya teratur, pedagang, nelayan dan semuanya. Kita satukan semangat mengembalikan kejayaan Senggigi," pesannya.

Di tempat yang sama, Ketua BBC Sariman memaparkan hasil diskusi dengan Kepala Dispar Lobar terkait problem yang masih belum bisa terselesaikan. 

"Salah satu yang kami diskusikan tadi juga tentang penataan teman-teman pedagang di sekitar pantai ini, tentunya semua ini harus kita sinkronkan dengan pihak-pihak terkait, paling tidak nantinya semua harus dilibatkan," jelas Sariman. 

Menurutnya, semenjak proses renovasi di sepanjang jalan masuk menuju pantai Senggigi inti yang merupakan spot para pedagang, para pedagang sementara terlihat menumpuk di pantai.

Terkait permasalahan ini, Akhkam memberikan penjelasan jika nantinya proses serah terima lokasi jualan yang sudah direnovasi. Para pedagang ini akan dikembalikan lagi ke titik awal atau titik semula.

Permasalahan lainnya yang disebutkan Akhkam adalah masalah banyaknya sampan yang parkir di sepanjang pantai. Kondisi ini berpotensi mengganggu para pengunjung. 

"Saya kira masalah sampan ini nanti akan kita koordinasikan lagi lebih lanjut dengan banyak pihak. Dimana sampan ini diberikan lokasi baru dimana kawasan Senggigi ini menjadi lebih representatif untuk menjadi tempat wisata lagi," tandas Akhkam. (jl)

Tuesday, December 15, 2020

BPBD Kekurangan Personel Tangani Wilayah Bencana

Lalu Kasim

SELONG
--Musim penghujan dan perubahan cuaca ekstrem rentan memicu terjadinya bencana. Di tengah kondisi itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lombok Timur masih kekurangan personel.

Kepala Seksi Kesiapsiagaan BPBD Lotim, Lalu Kasim mengatakan, pihaknya selalu  stanbye melihat perubahan-perubahan cuaca yang terjadi. Pihaknya juga terus memantau keadaan di wilayah rawan bencana seperti di Sembalun dan Sambelia.

"Itu yang kami lakukan pada saat ini, berkoordinasi dan berkomunikasi dan monitoring di tingkat lapangan," ungkapnya, Rabu (16/12).

Buntut perubahan iklim ini, katanya, mengharuskan BPBD selalu siap menjadi garda terdepan membantu masyarakat yang terkena bencana alam. Baik itu banjir, puting beliung, pohon tumbang dan lain sebagainya.

Untuk mengantisipasi korban jiwa, BPBD terus melakukan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat. Langkah ini dilakukan  agar masyarakat dapat dengan mudah mengambil sikap jika sewaktu-waktu terjadi bencana.

Katanya, dalam mengatasi bencana ini personel dari BPBD masih kurang. Kondisi ini disebutnya menjadi masalah vital. Kekurangan personel ini berakibat pada kesanggupan BPBD dalam menangani daerah yang terkena bencana.

"Itulah kenapa.kita tidak bisa menempatkan petugas di masing-masing lokasi rawan bencana," ucapnya.

Saat ini pihaknya memiliki sekitar 15 personil TRC. Dari jumlah tersebut menangani semua wilayah rentan bencana di Lotim.

Ia berharap, pemerintah dapat mengambil langkah untuk memberi perhatian dan bantuan anggaran kepada BPBD. Dengan demikian, permasalahan bencana yang dihadapi masyarakat dapat ditangani lebih sigap dan mengurangi korban jiwa.

Apa yang dilontarkan Kasim ini cukup beralasan. Mengingat saat ini sudah masuk musim hujan.

Dia juga berharap masyarakat dapat tetap waspada dan hati-hati terhadap kemungkinan bencana yang ada. Sebut saja seperti angin, puting beliung, banjir bandang dan lainnya. (zaa)

Monday, December 14, 2020

Batu Diduga Bertulis Aksara Brahmi Ditemukan di Sapit

AKSARA KUNO: Tiga lempeng batu bertulis aksara kuno ditemukan di Desa Sapit.

SELONG
—Sejarah Pulau Lombok telah menempatkan Desa Sapit, Kecamatan Suela Lombok Timur sebagai salah satu desa tua. Di desa ini masih terdapat banyak situs-situs masa lalu yang bisa ditemukan.

Situs-situs itu tidak saja merujuk pada hitungan peradaban berskala waktu masehi. Sebut saja seperti kehidupan kerajaan-kerajaan di nusantara, atau sejarah penyebaran sejumlah agama.

Lebih dari itu, situs yang merujuk pada skala waktu Sebelum Masehi (SM) diduga juga dapat ditemukan di desa ini. Seperti keberadaan batu yang diduga bertulis aksara Brahmi.

“Ada tiga potongan batu yang kami temukan. Ketiganya memiliki model aksara Brahmi,” ucap tokoh muda Desa Sapit, Jannatan Firdaus kepada JEJAK LOMBOK, Senin (14/12).

Aksara Brahmi sendiri berasal dari sekitar abad ke-3 SM. Rentang waktu kemasyhuran aksara ini bertepatan dengan kejayaan pemerintahan Raja Ashoka pada masa India Kuno.

Dalam laman Wikipedia menyebut bahwa Aksara Brahmi dikenal sebagai aksara yang memiliki variasi bentuk huruf dan tersebar dari India Utara hingga Selatan. Di India Utara, aksara Brahmi menjadi dasar perkembangan aksara Gupta selama periode Gupta.

Berikutnya, aksara ini akhirnya berkembang menjadi sejumlah tulisan kursif selama Abad Pertengahan. Termasuk di antaranya, aksara Siddham, Sharada dan Nagari. 

Aksara Siddham memberi pengaruh dari India Utara (termasuk Tibet) sampai Asia Timur, sementara aksara Sharada dan Nagari memberi pengaruh pada wilayah India Utara dan Barat.

Masih di laman Wikipedia menyebut bahwa Aksara Brahmi ini merupakan rumpun aksara abudiga. Aksara-aksara dari rumpun ini digunakan di Asia Selatan, Asia Tenggara, dan sebagian Asia Tengah dan Timur. 

Rumpun bahasa yang menggunakan aksara jenis ini antara lain, Indo-Eropa, Dravida, Tibet-Burma, Mongol, Austro-Asia, Austronesia, Tai, dan kemungkinan juga oleh bahasa Korea (Hangeul). Urutan vokal dalam rumpun aksara ini juga menjadi dasar urutan vokal dalam aksara kana (katakana dan hiragana) di Jepang.

Abugida, atau disebut juga alfasilabis, adalah aksara segmental yang didasarkan pada konsonan dengan notasi vokal yang diwajibkan tetapi bersifat sekunder. Hal ini berbeda dengan alfabet yang vokalnya memiliki status sama dengan konsonan serta abjad yang penandaan vokalnya tidak ada atau manasuka (opsional). 

Keluarga aksara Brahmi yang banyak digunakan di Asia Selatan dan Asia Tenggara termasuk dalam jenis aksara abugida ini.

Jannatan Firdaus menuturkan, tiga lempengan batu itu ditemukan belum lama ini. Ketiga batu tersebut ditemukan di pematang sawah warga setempat.

“Kita menemukannya di pelompong (pembuangan air irigasi sawah) di sawah warga,” ucapnya.


Sebelum penemuan batu bertulis aksara kuno itu, ungkapnya, sudah lama tersiar dari sejumlah tokoh di desa itu. Berbekal informasi itu, Jannatan pun mencoba berburu melacak keberadaan batu tersebut.

Lebih spesifik, ia mengaku menemukan batu ini dua tahun lalu, tepatnya 2018. Penemuan ini sekitar bulan Juli.

"Saya lupa tanggal pasti penemuannya," ucapnya.

Untuk menemukan batu ini, jelasnya, butuh waktu bertahun-tahun. Karena proses perburuan yang cukup Panjang, oleh warga setempat menganggp proses pencarian batu ini sangat mustahil.

Prasasti batu ini saat ditemukan, ungkapnya, telah mengalami retakan. Batu ini bahkan terpotong menjadi tiga bagian. Namun demikian, tak mengurungkan niatnya membawa pulang batu itu saat ditemukan.

“Saya memikulnya dan membawanya pulang sendiri,” ucapnya.

Ia pun mengisahkan bagaimana dirinya memikul batu itu. Dari lokasi yang sangat jauh dan ditempuh dengan berjalan kaki, tak membuat semangatnya surut.

Usai menemukan batu itu, ia mengaku membutuhkan waktu sekitar 4 bulan untuk sekedar membersihkan batu tersebut. Betapa kaget dirinya, setelah batu bersih ditemukan bentuk akrasa aneh di batu tersebut.

Aksara-aksara di batu yang tidak pernah dilihat sebelumnya itu membuat dirinya penasaran. Belakangan dari hasil pencariannya diduga jika aksara dalam batu itu adalah Aksara Brahmi.

Jannatan mengatakan, Aksara Brahmi ini lebih tua dibandingkan dengan Aksara Palawa. Di lain sisi, setelah batu ini disatukan akan ditemukan gambar patung sedang bertapa. Patung ini ini disebutnya mirip dengan pemujaan agama Hindu di India.

“Ini membuktikan Lombok, khususnya suku Sasak telah memiliki kepercayaan agama sejak lama,” ucapnya.

Kendati mengenali model aksara itu, ia sendiri hingga saat ini  mengaku belum mengerti maksud tulisan di dalam batu tersebut. Hanya saja, jiak merujuk rentang skala waktu lahirnya Aksara Brahmi, ia yakin aksara itu sezaman dengan masa hayatnya filsuf Yunani kelahiran Athena bernama Epicurus.

“Jangankan Nabi Muhammad, mungkin itu masa dimana Nabi Sis juga belum lahir,” tandsnya. (sy) 

Sunday, December 13, 2020

Menyelami Makna Ritual Budaya Nyantek

NYANTEK: Beginilah proses ritual Nyantek yang diambil dari hikmah perjalanan Nabi Muhammad. Saw.

SELONG
-- Nilai magis ritual kebudayaan tak jarang sering bertemali dengan ajaran agama. Ini karena ritual-ritual tersebut tak jarang lahir dari kisah perjalanan nabi. 

Kisah tersebut kemudian ditarik ke dalam ruang imajiner. Pada gilirannya, kisah itu menjadi residu menjadi sebuah keyakinan. 

Padanan nilai dari pelaksanaan ritual itu, masih dengan mudah didapati. Lantaran hal itu masih dianggap maliq (bertuah, red). Seperti ritual Nyantek di Desa Pengadangan, Kecamatan Pringgasela, Lombok Timur.

Kepada JEJAK LOMBOK, tokoh budaya Desa Pengadangan, H Ruhyiadi menceritakan, jika ritual tersebut telah ada sejak lama. Sampai saat ini ritual tersebut masih dikerjakan secara turun temurun.

Ritual Nyantek, terang pria 76 tahun ini merupakan gawe mati (acara bagi orang meninggal, red). Yang oleh warga setempat dilaksanakan jika umur kematian sudah sampai seribu hari.

"Ritual dilaksanakan oleh setiap individu," ujar H Ruhiyadi, belum lama ini.

Ritual ini, terangnya, memiliki makna peringatan bagi yang masih hidup. Bahwa semua makhluk hendak mengalami hal yang sama, yakni menempuh kematian.

Ritual ini dilaksanakan sebagai penanda bahwa di tempat itu ada keluarga. Di satu sisi, mengingatkan kepada jasa orang tua yang telah mengurusi hingga dewasa. Dimana hubungan itu, tak bisa serta merta diputuskan. Keluarga yang meninggal harus dirawat. 

Salah satunya dengan cara sederhana yakni mendo'akannya. Bukankah, ucapnya, orang tua atau keluarga hendak merasa bahagia jika memiliki keturunan yang saleh dan salehah.

Selain menjaga hubungan, ritus ini juga untuk mempermudah mengingat silsilah keturunan. Dengan demikian dapat menjadi bekal mengarungi hidup dan kehidupan.

"Jadi jangan sampai kita hanya ingat harta warisan yang ditinggalkan, tapi lupa mendo'akan keluarga apalagi orang tua kita," terangnya.

Ia menjelaskan, ritual budaya satu ini cukup unik. Lantaran memiliki proses yang panjang. Mulai dari memasar, yakni dimana proses pemberiahuan kepada pemilik alam semesta dan makhluk hidup yang tak kasat mata.

Izin ini penting agar makhluk yang menempati bebatuan yang hendak dipakai itu meninggalkan tempatnya.

Setelah itu, sebutnya, mulai tahap mengambil bebatuan santek. Batu-batubitu dojadikan berukuran kecil yang nantinya akan digunakan sebagai batu nisan.

Setelah terasa cukup, warga membawa bebatuan itu dengan cara gotong royong. Batu itu dibawa sampai dengan samping tembok pekuburan.

"Kalau dulu karena gk ada kendaraan jadi dipikul caranya," ujarnya.

Setelah pengambilan batu satnek (batu nisan, red) proses selanjutnya pembertahuan kepada tokoh agama dan kiai setempat. Bahwa akan ada hajatan melaksanakan ritual tersebut, minimal seminggu sebelum hari digelar.

Ritual ini, terangnya, dilaksanakan minimal tiga tahun atau seribu hari kematian. Namun jika tak mampu melakukannya setelah tiga tahun kematian, dapat dilakukan setelah memiliki kemampuan secara finansial.

Karena gawe mati ini tak hanya mengambil batu nisan. Namun, harus menyiapkan beberapa sanganan (makan, red). Sanganan itu erupa buah-buahan, kue tradisional, ringginang, nasi, panggangan ayam dan banyak lainnya.

Pelaksanaan ritual ini dilaksanakan pagi buta. Lantaran itu tak jarang pemilik hajatan, memasak di lokasi yang tak jauh dari pekuburan.

Tahap selanjutnya, memulai dengan membuka kuburan yang ingin diperbaiki. Diproses ini pun, keluarga harus menyiapkan sanganan.

Setelah kuburan jadi seperti semula, tahap penamatan Al-qur'an dzikir dan do'a. Sembari menyiapkan sanganan serupa beserta sesajiannya.

"Lamanya di proses penggaliannya sampai dengan berbentuk kuburan seperti semula," terangnya.


Sementara itu, Penasihat Lembaga Adat Pengadangan, Drs Nasipuddin menceritakan ihwal asal usul Nyantek.

Tradisi satu ini disebutnya sudah hidup ratusan tahun lalu bersama masyarakat setempat. Tradisi ini turun dari nenek moyang desa tersebut.

"Tradisi ini berasal dari kisah Nabi Muhammad Saw. Yang memberikan tanda keberadaan kuburan umatnya dengan pelepah kurma," ucapnya.

Dari itulah lahirnya tradisi ini, jika Nabi Muhammad Saw menggunakan pelepah kurma sebagai tanda, maka warga setempat menggunakan batu.

"Kami di sini tidak ada yang menggunakan semen agar mudah dibongkar," terangnya.

Ia menjelaskan, batu yang telah diambil itu tak langsung dibawa ke dalam areal kuburan. Namun hanya sampai pinggir jalan atau ditempatkan di lokasi yang dekat dengan pekuburan.

Pesan singkat dari itu, ujarnya, untuk bergotong royong. Lantaran batu yang telah diambil itu nantinya akan disusun rapi mengelilingi kuburan, tak hanya ditempatkan di tengah layaknya batu nisan.

Sebab ritual ini sebagai penanda, sehingga hubungan kekeluargaan itu tak terputus. Dan memudahkan mencari keluarga masing-masing.

"Jadi kita tahu nenek moyang dari dulu hingga sekarang, selama tak pindah dari tempat itu (dikuburkan di tempat lain)," ujarnya.

Uniknya dalam tradisi ini, warga yang memiliki sawah di sekeliling areal pekuburan, harus siap ditempati sebagai lokasi memasak. Lantaran hal itu sudah jadi hukum adat atau awiq-awiq setempat. 

Jika ada pelaksanaan ritual adat itu, boleh ditempati lokasi sawahnya. Sawah tersebut dimanfaatkan sebagai lokasi memasak untuk warga yang tengah gotong royong melaksanakan kegiatan ritus adat tersebut.

Kendati misalnya sawah warga tersebut didapati tanaman, jika pelaksanaan ritual itu boleh melakukan pengerusakan sesuai kebutuhan.

"Jadi kita masaknya di luar areal pekuburan bukan di kuburan," ucapnya.

Pada saat hari pelaksanaan, ucapnya, hari pertama ada proses pembukaan kubur. Dalam proses tersebut dilengakpi penginang (sesajian, red). 

Sebelum itu, minimal seminggu pemberitahuan ke tetua desa setempat, seperti pengulu dan kiai desa.  "Kalau dua kubur yang disantekin maka dua kiai yang harus didatangkan, dan seterusnya," sebutnya.

Syarat pelaksanaan ritual ini selain umur kematian sudah sampai seribu hari. Dapat dilaksanakan jika kuburan keluarga mengalami pelapukan. Yang mengakibatkan adanya lubang di atas kuburan.

Budaya nyantek bagi warga setempat merupakan ritual adat terakhir bagi orang yang telah meninggal. "Ini ritual adat teakhir bagi setiap orang disini, manusia itu dari tanah harus kembali ke tanah," ucapnya. (sy)

Thursday, December 10, 2020

Langgar Pusaka, Saksi Masuknya Islam di Tanah Lombok

SAKSI SEJARAH: Langgar Pusaka di Desa Sapit menjadi saksi sejarah masa lalu penyebaran Islam.

SELONG
-- Mengungkap sejarah masuknya Islam di tanah Lombok sepertinya masih belum menemukan titik terang. Tidak ada sejarah detail yang membahas tentang masuknya agama yang kini menjadi mayoritas dipeluk penduduk warga Sasak (suku di Lombok).

Namun demikian, riwayat dan bukti penyebaran agama ini langit ini masih dapat ditemui dengan sejumlah peninggalan masa lalu. Di berbagai tempat di Lombok, nyaris terdapat bangunan masjid tua yang hingga kini masih kokoh berdiri.

Di Desa Sapit, Kecamatan Suela Lombok Timur misalnya. Bukti penyebaran dan peninggalan Islam di masa lampau dengan mudah bisa dijumpai.

Seperti keberadaan Langgar Pusaka di desa itu. Langgar berukuran 9X9 ini masih tetap berdiri teguh di antara pemukiman warga.

Langgar ini di masa lalu konon berfungsi sebagai masjid. Di tempat inilah awal mula Islam diajarkan kepada penduduk setempat.

Kepada JEJAK LOMBOK, Tokoh Pemuda Sapit, Jannatan Firdaus menuturkan, masjid tua yang terbuat dari kayu tidak diketahui persis kapan berdiri. Namun informasi terakhir, tiang di dalam langgar itu baru diganti pada tahun 1775 silam.

"Masjid ini sangat lama dan belum ditahu pasti angka tahun berdirinya," kata Jannatan Firdaus, Kamis (10/12).

Namun dari penuturan para sepuh di desa itu, tidak sedikit yang bercerita jika langgar itu didirikan di pertengahan abad ke-13. Masjid ini diduga didirikan pada tahun 1370-an.

Meski terbilang bangunan tua, tapi langgar itu masih kokoh berdiri. Kokohnya bangunan ini tidak lepas dari kepedulian warga setempat yang terus memeliharanya.

Masjid ini sendiri sangat mudah dijumpai pengunjung. Bisa dipastikan semua penduduk di Desa Sapit mengetahui keberadaannya.

Di halaman masjid terdapat dua kolam berukuran 3x3. Sementara di dalam masjid masih tersedia mimbar khutbah yang terbuat dari kayu.

Selain mimbar, beberapa mushab tua juga dapat ditemui. Menurut cerita ada 7 Alqur'an bertulis tangan. Namun baru tiga yang sudah didapatkan.

Salah satu mushab itu, terangnya, berbeda dengan yang lainnya. Biasanya, jika Alquran selalu didahului dengan Surat Alfatihah, maka di mushab yang ditemukan di desa ini justru dimulai dengan Surat Al-Ikhlas.

"Namun tinggal 4 mushab belum kita temui dan masjid ini direnovasi 5 tahun sekali," ucap pria yang akrab disapa Jan ini.

Pemuda lainnya, Didik Kurniawan menjelaskan, masjid tua ini digunakan ketika ada perayaan ritual adat. Seperti acara maulid adat, bubur abang, dan berbagai jenis ritual adat lainnya

Saat ini, terang Didik, masjid ini menjadi cagar budaya. Dimana keberadaannya dilindungi oleh masyarakat dan pemerintah.

"Dibuka juga ketika ada wabah atau bahla, dan masyarakat melaksanakan ritual," tandas Didik. (sy)

Menyesap Mitos Makam Dende Begang

MITOS: Salah satu mitos yang berkembang terhadap tanah makam Dende Begang yakni diyakini bisa mengusir hama tikus.

SELONG
--Alkisah di masa lalu, hidup lah seorang putri di salah satu kerajaan di Lombok. Putri ini ketika hamil punya keinginan aneh. 

Berbeda dengan perempuan kebanyakan, saat hamil sang putri selalu ingin melihat tikus (begang, Sasak). Keinginannya ini jelas saja membuat heran seisi istana kala itu.

Lantaran sebagai orang penting di istana, oleh para abdi berupaya segala cara bisa memenuhi keinginan tersebut. Maka berlomba-lomba lah para abdi membuat perangkap dan jebakan tikus.

Bagi mereka yang telah mendapatkan binatang bernama latin Muridae ini, segera saja ke istana. Binatang jenis hama tanaman ini dibawa ke hadapan sang putri untuk disaksikan.

Kisah tentang putri berkeinginan aneh itu rupanya hingga kini masih terawat dalam tradisi cerita bertutur (folklore). Cerita ini bisa ditemukan di Dusun Dewa Some, Desa Sakra Kecamatan Sakra Lombok Timur.

Entah kebenarannya sahih atau atau tidak. Yang jelas riwayat tentang putri ini masih bisa didengar dari mulut ke mulut di dusun setempat.

Seperti dongeng pada umumnya, kebanyakan tradisi folklore berupa cerita pengantar tidur. Demikian juga dengan cerita yang ada di Dusun Dewa Some ini, riwayat detail mengenai sang putri diragukan keontentikannya.

Kejelasan ini bisa dilihat lantaran tidak adanya identitas nama dan silsilah putri tersebut. Warga setempat tidak saja mengetahui nama sang putri, tapi juga buta dengan silsilahnya.

Pun begitu, sepeninggal putri tersebut, konon jasadnya dimakamkan di atas bukit di dusun tersebut. Makam sang putri belakangan kerap dikunjungi terutama oleh para petani.

Kepada JEJAK LOMBOK, warga setempat bernama Amaq Suwandi banyak bercerita tentang makam tersebut. Tidak sedikit warga yang datang menziarahi makam itu lalu diambil tanahnya.

"Orang luar banyak yang datang untuk mengambil tanah dari kuburan ini," kata Amaq Suwandi, Kamis (10/12).

Bagi peziarah, tanah makam itu cukup keramat. Tidak sedikit yang percaya jika tanah dimakan itu bisa mengusir hama tikus untuk tanaman mereka di sawah dan ladang.

Begitulah mitos yang berkembang selama ini tentang makam yang berada di bukit Dusun Dewa Some itu.

Kala hendak mengunjungi makam tersebut, terangnya, para oeziarah biasanya membawa sesajian. Mereka membawa bubur merah dan putih serta empok-empok (buah padi yang digoreng).

Akibat sering dikunjungi, warga setempat tak jarang menemukan tanah makam itu berlubang. Mau tak mau, demi menjaga makam itu, warga setempat kemudian menambah tanahnya agar tidak rata dengan tanah.

"Berapa kali kira harus tambahkan tanahnya karena terus dibawa oleh orang dan kubur itu berlubang," sebutnya.

Amaq Suwandi mengaku tak tahu pasti umur dari kuburan tersebut. Bahkan tokoh-tokoh di dusun itu juga belum tahu secara pasti riwayat keburuan itu.

"Yang pasti banyak orang datang, jika lagi diserang hama tikus baik di rumah maupun di sawah yang merusak tanaman," tandasnya. (sy)

Sunday, December 6, 2020

Benarkah Ada Benda Purbakala Masa Megalitikum di Desa Sapit?

BATU PURBA: Warga Desa Sapit meyakini batu ini berasal dari masa purba sejak desa itu berdiri.

SELONG
-- Pernah dengar kata Megalitikum? Dalam pelajaran sejarah, Megalitikum merujuk pada masa zaman batu. Yakni pada rentang skala waktu sekitar 1500 tahun sebelum masehi.

Ya pada zaman itu dikenal juga dengan zaman batu besar. Di era itu batu dibuat sebagai pendukung aktivitas keseharian umat manusia.

Dalam penulusuran JEJAK LOMBOK, sisa peninggalan zaman masa Megalitikum masih dapat ditemui. Keberadaan benda-benda masa purba ini bisa disaksikan di Desa Sapit, Kecamatan Suela, Lombok Timur.

Secara administratif, desa yang terletak di kaki Gunung Rinjani ini merupakan salah satu desa tua. Penegasan ini bisa ditemui melalui folklore maupun beberapa babad di Lombok.

Di desa ini terdapat sebuah batu berukuran relatif besar. Oleh penduduk setempat batu tersebut dikeramatkan. Padahal, batu-batu itu berada di tengah pemukiman warga.

"Batu ini tidak berani diapa-apakan oleh warga di sini," kata tokoh pemuda Desa Sapit, Jannatan Firdaus, Senin (7/12).

Batu tersebut, lanjutnya, oleh masyarakat setempat disebut Serawak. Diduga keberadaan batu itu jauh sebelum desa ini lahir.

Namun uniknya meski hanya sekedar batu, tapi oleh masyarakat setempat bongkahan padat itu masih dilindungi. Bahkan, warga tidak berani menggeser ataupun memindahkannya.

Ada alasan kuat di balik ketakutan warga menggeser batu itu. Ini karena batu tersebut diyakini masih menyimpan tuah. Tak heran jika warga setempat mengeratkan benda tersebut.

Saat ini saja, jika ada gawe (acara, red) keluarga seperti khitanan atau yang lainnya, keberadaan batu ini tak pernah dilupakan. Warga yang sedang sakit, kadang mendatangi batu tersebut sebagai tempat zikir dan do'a, dan menaruh sesajian.

"Jika ada yang khitanan atau sakit masih dikunjungi oleh masyarakat setempat," terangnya.

Secara pribadi, Jannatan Firdaus sendiri masih penasaran soal kebenaran kabar itu. Lantaran itu, ia mulai mengumpulkam beberapa referensi dan menemukan hal serupa di zaman megalitikum.

Tak hanya dikeramatkan, namun juga terdapat ciri yang menurutnya sama dengan era tersebut. Yakni benda tersebut berbentuk berundak.

Di zaman Megalitikum, batu seperti ini biasanya disebut Punden. Dalam tradisi masa lampau, punden kerap dijadikan obyek pemujaan.

Secara teoritis, terangnya, punden berundak merupakan bangunan pemujaan para leluhur. Punden berundak memiliki ciri bertingkat dengan bahan dari batu, di atasnya biasa didirikan Menhir. 

"Bangunan ini banyak dijumpai di Kosala dan Arca Domas Banten, Cisolok Sukabumi, serta Pugungharjo di Lampung," sebutnya.

Masih kata Jannatan, dalam perkembangan selanjutnya, punden berundak merupakan dasar pembuatan candi, keratin atau bangunan keagamaan.

SESAJI: Warga setempat meyakini batu-batu purba ini masih memiliki tuah dan dikeramatkan. Ini nampak jelas dengan adanya sesaji di dekat batu.

Struktur dasar punden berundak ditemukan pada situs-situs purbakala dari periode kebudayaan Megalit-Neolitikum. Di zaman ini masih diwarnai peradaban pra Hindu-Buddha masyarakat Austronesia. 

Padahal model peradaban ini juga masih digunakan sampai periode Islam masuk ke Nusantara.

Punden berundak ini biasanya dipergunakan sebagai sarana untuk menghormati dan pemujaan terhadap roh-roh nenek moyang. Kebudayaan megalitikum muncul pada zaman Neolitikum dan berkembang luas pada zaman logam.

"Peninggalan Megalitikum ini hampir menyebar di seluruh wilayah Nusantara," bebernya.

Ciri itulah yang ditemukan, di desa tersebut. Penemuan punden berundak ini pada dasarnya sudah lama di ketahui oleh masyarakat setempat. Namun karena tingkat pengetahuan masyarakat masih minim terkait dengan perkembangan fase sejarah, sehingga jenis bebatuan ini sangat jarang dipublikasi.

"Punden yang ada di di Desa Sapit ini sering disebut oleh masyarakat dengan serawak," sebutnya.

Tak hanya itu, peninggalan zaman Megalitikum seperti sarkofagus, dolmen dan jenis menhir juga didapati di desa itu. Keberadaan benda ini tersebar di beberapa wilayah kedusunan. 

Hanya saja, akunya, benda-benda itu belum tertata rapi sebagai peninggalan zaman megalitikum. Di lain sisi, belum ada penilitian lebih lanjut terkait benda tersebut.

"Namun dari catatan pemuda, ada sekitar 17 jenis benda peninggalan situs pra sejarah dan diyakini sebagai peninggalan zaman megalitikum atau zaman batu muda," tandasnya. (sy)

Tuesday, December 1, 2020

Hebat! 2 Putra Lobar Raih Anugerah Kebudayaan Indonesia 2020

PENGHARGAAN: Bupati Lobar, H Fauzan Khalid menyematkan penghargaan AKI 2020 untuk dua putra terbaik daerah itu.

GERUNG
—Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Republik Indonesia (RI) memberikan Anugerah Kebudayaan Indonesia (AKI) 2020 kepada 33 orang di seluruh Indonesia. Dari jumlah penerima penghargaan tersebut, dua orang merupakan putera terbaik Lombok Barat (Lobar).

Kedua putra terbaik Lobar itu yakni, Rahardian Reno Wardana  dan Zulfadli. Masing-masing mendapatkan penghargaan juara 1 bidang keahlian dalang wayang Sasak Lombok dan kategori anak dan remaja bidang keahlian tradisi Pepaosan dalam kategori pelestarian.

Dua penerima penghargaan Anugerah Kebudayaan Indonesia (AKI) 2020 ini diserahkan dan disematkan Bupati Lobar, H Fauzan Khalid. Ia didampingi Wakil Ketua Pokja Apresiasi Budaya, Direktorat Pembinaan Tenaga dan Lembaga Kebudayaan, Kemendikbud RI Iskandar Eko di aula Dikbud Lobar, Rabu (2/12).

Wakil Ketua Pokja Apresiasi Budaya, Direktorat Pembinaan Tenaga dan Lembaga Kebudayaan, Kemendikbud RI Iskandar Eko mengatakan, Anugerah Kebudayaan Indonesia (AKI) adalah penghargaan yang diberikan kepada individu, komunitas dan pemerintah daerah. Para penerima penghargaan ini atas dedikasi mereka dalam memajukan kebudayaan Indonesia.

"Dan penerima AKI 2020 kita seleksi dengan ketat dan bisa dipertanggungjawabkan. Memang yang memilih juga penilainya para budayawan Indonesia yang sudah berpengalaman," ujarnya.

Ada beberapa tahapan telah dilaksanakan. Mulai dari tahapan seleksi baik administrasi maupun substansi. Begitu juga visitasi dan verifikasi lapangan dengan melihat kesesuaian kriteria, keistimewaan karya, intensitas dan konsistensi bidang keahlian yang ditekuni.

Dia menyebut, para peserta seperti Rahardian Reno Wardana dan Zulfadli saat mendaftar lengkap datanya. Pihaknya melakukan penelitian dan melakukan penilaian sehingga negara memberikan penghargaan AKI tahun 2020.

"Di NTB yang mendaftar kemarin 10 orang, ada dari Lombok Timur, Lombok Utara,  Kota Mataram dan Lombok Barat. Dari 10 peserta kita yang mendaftar, 2 peserta dari Lombok Barat terpilih mendapatkan penghargaan AKI tahun 2020," sebutnya. 

Semoga apresiasi ini, kata dia, dapat semakin memotivasi dan mendorong semangat masyarakat Indonesia dalam upaya pelestarian, pengembangan dan pemajuan Kebudayaan Indonesia. 

"Kenapa Rahardian Reno Wardana dan Zulfadli terpilih, kami melihat dia ini sangat langka dan perlu kita dorong menjadi contoh bagi anak generasi muda yang lain untuk melestarikan kebudayaan diluar pulau jawa," imbuhnya. 

Sementara itu, Bupati Lobar H Fauzan Khalid sangat mengapresiasi atas penghargaan kepada 2 anak putra terbaik Lombok Barat di bidang kebudayaan. Tidak main-main apresiasi yang secara formal di tingkat nasional langsung dari Kemendikbud RI. 

"Pada dasarnya kita di Pulau Lombok ini kebudayaannya satu karena berasal dari suku yang sama yaitu suku Sasak. Bisa kita pastikan dari kabupaten kota manapun di Pulau Lombok ikut menyampaikan hasil karya budayanya ke Kemendikbud RI, itu sepertinya sama saja walaupun jenisnya berbeda," akunya. 

Dia menyebut, Pepaosan sudah diajukan oleh Kabupaten Lombok Barat ke Kemendikbud RI. pepaosan ini diajukan sebagai salah satu warisan budaya yang ditetapkan. Berkat pengajuan itu, saat ini Pepaosan sudah terdaftar.

"Lewat bidang kebudayaan Dikbud Lobar terus kita bina dan kita kembangkan. Alhamdulillah kemudian mendapatkan penghargaan dengan telah ditetapkan 2 putra terbaik Lobar di Anugerah Kebudayaan Indonesia (AKI)," terangnya. 

Terkait wayang, jelasnya, bisa dikatakan budaya Indonesia, tetapi masing-masing tempat memiliki ciri khas. Di Pulau Lombok yang sangat terkenal wayang kulitnya adalah kakek dari Rahardian Reno Wardana (Lalu Nasib).

"Kedepan kita meminta untuk terus berkreasi dan membina potensi-potensi dari anak kita, utamanya potret bagaimana mempertahankan kebudayaan kita," harapnya. (and)

Our Blog

55 Cups
Average weekly coffee drank
9000 Lines
Average weekly lines of code
400 Customers
Average yearly happy clients

Our Team

Rizki Handika Putra
CEO
Laela Rosanti
Creative Designer
Sopian Haris
Sales Manager
Syamsu Rizal
Developer

Contact

Talk to us

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit. Dolores iusto fugit esse soluta quae debitis quibusdam harum voluptatem, maxime, aliquam sequi. Tempora ipsum magni unde velit corporis fuga, necessitatibus blanditiis.

Address:

9983 City name, Street name, 232 Apartment C

Work Time:

Monday - Friday from 9am to 5pm

Phone:

595 12 34 567