Solusi Digital Marketing Nusa Tenggara Barat

Memberkan pelayanan terbaik untuk anda dan usaha anda, kami mempunyai tenaga profesional dibidang marketing digital.

Layanan Konsultasi

Our Services

Sepenuh Hati

Solusi Digital Marketing di Nusa tenggara Barat.

Read More

Great Concept

Solusi Digital Marketing di Nusa tenggara Barat.

Read More

Development

Solusi Digital Marketing di Nusa tenggara Barat.

Read More

User Friendly

Solusi Digital Marketing di Nusa tenggara Barat.

Read More

Recent Work

Showing posts with label Figur. Show all posts
Showing posts with label Figur. Show all posts

Tuesday, June 15, 2021

Kisah Mulyadi, Perajin yang Pernah Merasa Paling Kaya

Mulyadi

SELONG -- Para pria itu duduk tak beraturan. Tangan mereka cekatan menganyam bambu menjadi berbagai varian kerajinan.

Disertai percakapan ringan sesekali melontarkan gelak tawa tak membuat mereka kehilangan fokus dengan bambu yang berada di tangan. Mereka seolah tenggelam dalam aktivitas yang mereka tekuni.

Begitulah pemandangan yang terjadi Rabu (16/6), di Dusun Loyok Induk, Desa Loyok Kecamatan Sikur Lombok Timur. Para pria ini merupakan para perajin di desa yang sudah sejak dulu dikenal sebagai sentra kerajinan anyaman bambu tersebut.

Dari banyak para perajin itu, nama Mulyadi rupanya tak asing. Ia merupakan salah satu nama yang tersohor di antara mereka.

Mulyadi cukup terkenal dikalangan pengerajin di wilayah tersebut. Pasalnya, ia telah menggeluti kegiatan itu sejak berumur belia.

Kepada JEJAK LOMBOK, Mulyadi mengaku menekuni aktivitasnya sebagai perajin saat masih berumur 8 tahun. Di usia itu, ia sudah bisa membuat salah satu produk kerajinan.

Ia ingat betul, saat itu masih kelas satu SD. Namun di usianya yang masih sangat belia itu, ia sudah mampu membuat karya seni berdasar bahan bambu tersebut. 

"Jauh dari sebelumnya, saya juga itu sudah dapat merangkai dengan sederhana," ucapnya.

Kemampuannya bertambah, pada saat di bawah bimbingan salah seorang pengrajin setempat. Tutornya itu biasa ia panggil Oak Ramli.

Karya pertama yang dibuatnya berupa sebuah lembaran tempat majalah. Produk pertamanya itupun langsung laku dijual dengan harga Rp 400 ribu.

Mendapatkan pundi rupiah yang menggiurkan rupanya membuat Mulyadi semakin bersemangat. Apalagi memegang uang dalam jumlah itu pada waktu tersebut merupakan hal yang luar biasa.

"Dulu saya merasa paling banyak uang," terangnya.

Kesenangannya itu semakin bertambah ketika dirinya mampu memenangkan lomba seni. Saat itu ia membuat produk dari anyaman bambu.

Ia mengingat, dulu dirinya mengikuti lomba sejak kelas 2 di SDN 4 Selong. Dalam lomba tersebut, ia meraih juara satu di gelaran tersebut.

Sebagai pemenang lomba, tentu dirinya mendapat hadiah berupa sepatu dan buku tulis. 

Ia menceritakan, pada tahun itu sepatu masih belum ada yang punya di tempat tinggal dan siswa di sekolahnya. Kontan barang yang menjadi hadiahnya itu menjadi kebanggaan tersendiri.

"Sayangnya, saya tidak bisa pakai sepatu. Kaki terasa berat, makanya tidak pernah saya pakai sekolah," selorohnya.

Kebahagiaan selanjutnya yang dirasakan Mulyadi ketika mendapatkan buku tulis. Buku hadiahnya disebutnya paling bagus pada waktu itu.

"Masih saya ingat sampul buku itu bergambar robot, saking bagusnya buku itu diminta oleh guru sekolah," tuturnya.

Pria empat puluh tahun itu sempat merasakan di puncak kesenangannya sebagai pekerja seni anyaman. Saat zaman gerabah, dan bahan dasarnya dibuat berbahan lontar.

Kegiatan tersebut dilakoninya sambil bersekolah. Waktu itu, ia telah duduk di bangku kelas 2 Aliyah.

"Dulu, ingat saya ada pesanan borongan, saya diupah Rp 200 ribu. Uang segitu paling banyak waktu itu," ujarnya.

Tapi naas, kebahagiaan itu sirna bertepatan dengan krisis ekonomi tahun 1997 sampai 1998. Ditambah lagi peristiwa bom Bali, tahun 2002 lalu.

Pada waktu itu, tuturnya, produksi mati total. Penghasilan pun tak ada. Buntut dari itu terpaksa ia harus menjadi TKI ke negeri jiran Malaysia selama 2 tahun lamanya.

Ia pun balik ke Lombok setelah bisa produksi lagi. Itu pun, dirinya ditelepon lantaran antara borongan. Saat itu pemesan datang dari Jepang.

Selain sebagai pengrajin, dirinya juga tercatat sebagai pemain musik tradisional. Bahkan waktu itu, saat sedang menari dilihat oleh salah seorang guru Aliyah, dimana ia menimba ilmu.

Dan gurunya pada waktu itu sempat kecewa. Lantaran ikut sebagai salah satu pemain seni itu.

Namun demikian, jalan yang diciptakan Tuhan untuknya yakni melalui seni anyaman. Tahun 2005, ia sempat dikontrak untuk mengajar di beberapa sekolah sebagai guru seni.

Saat ini, dirinya dalam sehari mampu menciptakan 100 buah produksi kendati menggunakan peralatan yang tergolong tradisional. Hal itu tergantung dari jenis kerumitan barangnya.

"Sampai bosan, kalau dulu yang dia kerjakan dari nol, ibu-ibu juga tetap membantu," ujarnya. (kin)

Thursday, June 3, 2021

Jamur Janggel, Jenis Bisnis Baru yang Mulai Dilirik

PERIKSA: Suswadi saat memeriksa perkembangan jamur janggel yang dibudidayanya.

SELONG
-- Sudah pernah mendengar nama jamur janggel? Nama jamur yang satu ini barangkali cukup asing bagi kebanyakan orang.

Jenis jamur yang satu bahan dasar pembuatannya berasal dari bongkol jagung. Dalam bahasa Jawa, bongkol jagung biasa disebut "janggel", itulah kenapa jamur yang satu ini dinamakan demikian.

Di Lombok Timur, jenis jamur yang satu ini bisa dibilang sebagai tanaman budidaya baru. Ada sekitar tiga petani budidaya yang mulai mengembangkan bisnis yang satu ini.

"Ada di Pringgasela, Rempung dan terakhir di sini, di Masbagik ini," ucap pemilik Hany Jamur Masbagik, Suswadi, kepada JEJAK LOMBOK, Jumat (4/6).

Sedianya, Suswadi mengaku merupakan petani ketiga yang melirik komoditi yang satu ini. Ia mengaku tertarik mengembangkan budidaya jamur ini lantaran masih jarang yang menekuninya.

Motivasi lain yang membuatnya tergiur menekuni bisnis ini lantaran peminat atau konsumen jamur dianggap sangat tinggi. Terlebih kehadiran jamur alami hanya bisa dipasok dalam jumlah terbatas. Itupun hanya ketika musim hujan tiba.

Saat ini, ucapnya, varian jamur seperti jenis jamur tiram sudah banyak ditemui dan dibudidayakan. Hanya saja, seiring waktu lantaran sejumlah kekurangan dan tingkat kerumitan, proses budidayanya membuat calon petani terkesan enggan menekuninya.

Dari sisi tekstur rasa dan aroma, jamur tiram juga dinilai kurang sedap. Dari sisi rasa, jamur tiram disebutnya masih meninggalkan sisa rasa kayu. Di lain sisi, aromanya tercium agak apek.

Berbeda dengan jamur janggel. Jamur yang satu justru sebaliknya. Tekstur rasa dan aromanya relatif mendekati jamur yang tumbuh alami.

Suswadi mengaku mulai tertarik membudidaya jamur ini tidak lebih dari dua bulan lalu. Di usia yang sangat singkat itu, peminat masyarakat yang mengonsumsi jamur ini sangat tinggi. 


Buktinya, dari lima wadah pembibitan jamur yang dimilikinya dianggap masih kurang. Ini karena tingkat permintaan hasil panen jamur yang diproduksinya selalu ludes terjual.

Stok jamur janggel yang dipanennya setiap hari sudah dipesan oleh warga sekitarnya. Dirinya mengaku sedikit kelimpungan ketika ada pesanan dari luar lingkungannya.

"Karena kita juga menjual jamur ini lewat media sosial. Sering kita dapatkan order dari luar saat stok kita sangat terbatas," ucapnya.

Tak heran jika pria kelahiran 30 November 1988 ini bertekad terus memperbanyak wadah pembibitan jamur yang dimilikinya. Proses pembibitan ia lakukan di lahan miliknya seluas kurang lebih 1 are.

Suswadi membeberkan, proses budidaya jamur ini sangat sederhana. Diperlukan wadah berukuran 1 x 2,5 meter saja. Di dalam wadah ini nantinya akan ditaburi tongkol jagung sebanyak 3 karung berukuran 1 kwintal.

Dalam proses penaburan atau pembibitan jamur ini terdiri dari dua lapisan. Lapisan pertama dan kedua masing-masing berketebalan 10 cm.

Pada setiap lapisan pertama kemudian ditaburi dengan dedak halus yang dicampuri tape dan pupuk urea. 

"Dibutuhkan 3 kilogram dedak halus, 10 biji tape dan 6 ons pupuk urea sebagai campuran. Lalu di setiap lapisan disiram dengan takaran air dalam kadar tertentu hingga setiap lapisan cukup basah," terangnya.

Sejak proses penaburan bibit, ucapnya, dibutuhkan waktu sekitar 2 minggu untuk memasuki usia panen. Di usia satu Minggu setelah proses pembibitan, misillium (bakalan jamur) sudah mulai tumbuh dan terlihat di bongkol jagung tersebut.

Suswadi mengaku menekuni bisnis ini karena cukup menggiurkan. Belum lagi karena modal yang dikeluarkan untuk proses budidaya disebutnya sangat murah.

Untuk proses pembuatan wadah disebutnya tidak sampai mengeluarkan uang Rp 50 ribu. Wadah itu terdiri dari kayu, paku, karung dan mulsa.

Sebagai sentrum budidaya jamur, Suswadi mengembangkan bisnisnya di Lingkungan Kebun Lauk Timuk, Masbagik Selatan, Kecamatan Masbagik. Ia tercatat sebagai orang pertama yang mengembangkan bisnis ini di desanya.

"Kalau jamur tiram, sudah banyak di sini," ucapnya.

Suswadi kemudian membeberkan sisi pemasaran jamur yang dilakoninya. Ia menggunakan wadah streopoem untuk memasarkan jamur yang telah dipanen. Per wadah streopoem ini dihargakan Rp 10 ribu.

Sejatinya, Suswadi bukan orang sembarangan. Ia merupakan salah satu mantan pentolan aktivis mahasiswa. Namun dari proses perjalanan hidup yang dilaluinya, ia mengaku lebih tertarik bertani dan bergelut di sektor bisnis.

Dari latar belakang riwayat hidupnya yang pernah diliputi kesusahan, ia mengaku selalu dijadikan cermin. Karena itu, ia tak pernah pelit membagi ilmunya, termasuk proses budidaya jamur janggel.

"Saya berharap dengan membagi ilmu, bisa beramal jariyah dan membantu mereka yang kesulitan secara ekonomi agar tertarik ikut serta membudidaya," tandasnya. (jl)

Wednesday, April 14, 2021

Mengenal Badri, Sang Maestro Pupuk Organik

Ciptakan Dua Jenis Pupuk Organik, Terkendala Hak Edar

DEMO: Badri mendemonstrasikan hasil temuannya dengan alat ukur kadar PPM yang diciptakannya sendiri.

----------

"Semakin banyak PPM dalam air, maka lampu itu akan semakin terang. Kondisi ini eakan semakin berpengaruh pada tanaman. Begitulah cuplikan observasi yang dilakukan pria ini."

SAEPUL HAAKUL YAKIN -- SELONG

BADRI nampak begitu santai dengan penampilan seadanya. Saat itu, sekitar pukul 11.50 WITA, Rabu kemarin (14/4). Ia hanyA mengenakan kaos oblong dan kolor sembari bermain bersama sang buah hati.

Sesiang itu rupanya memaksa pria berambut pendek dengan poni di depan itu berpenampilan seadanya. Maklum, siang itu cukup gerah.

Tak sulit menemui kediamannya. Di kampungnya, ia memang cukup tersohor. Bukan hanya di tempat tinggalnya saja. Tapi juga namanya cukup dikenal terutama pada organiasi seperti pegiat sampah. O

Di teras rumah berukuran 4x4 itu, nampak tong berukuran besar. Tong itu merupakan tempat dirinya menampung setidaknya dua dari produk pupuk organik yang diciptakannya.

Kedua pupuk organik yang telah diciptakan itu yakni Asa Green dan Zat Pengatur Tumbuh (ZPT). Produk satunya lagi berupa butiran kecil, yang bermanfaat untuk mengusir hama siput.

Tak lama setelah berbincang dengan JEJAK LOMBOK. Badri menunjukan sebuah alat pengukur kadar air yang sangat sederhana.

Alat itu dibuat dari sebuah pipa bekas, yang di ujungnya terdapat fitting dan balon. Alat itu disebutnya telah menemaninya sejak awal penemuan pupuknya tersebut.

"Alat ini saya buat dulu sekitar tahun 2014 atau 2015. Alat ini yang menemani saya temukan dua produk ini," ucapnya.

Ia menerangkan alat tersebut, terilhami dari stop kontak pada listrik pada waktu itu. Di lain sisi, ia hanya membaca beberapa referensi terkait temuannya itu.

Baru lah setelah itu ia mencoba merakit alat tersebut dari bahan yang ada di sekitar. Sebut saja seperti kabel listrik, colokan, dan besi bekas roda mobil mainan anaknya.

Ia menjelaskan, cara kerja bahan alat tersebut yakni melalui sambungan listrik. Air itu nantinya akan menjadi stop kontak bagi aliran listrik ke lampu itu.

Dengan alat ini, dirinya sukses dalam menciptakan produk. Buktinya sudah dua pupuk organik yang dapat dibuatnya yakni Asa Green dan yang terbaru ZPT.

Di lain sisi, alat tersebut selain dapat mengukur banyaknya kandungan PPM dalam air. Alat ini juga dapat mengetahui besaran kadar air dalam tanah.

"Untung ada alat ini, jadi meringankan biaya," ujarnya.

Menurut pria kelahiran Dusun Suka Mulia, Desa Pohgading Timur, Kecamatan Pringgabaya Lombok Timur ini, jika ingin memeriksa di laboraturium, kandungan zat yang ada pada pupuknya tersebut harus merogoh kantong dalam jumlah yang tak sedikit. Dibutuhkan biaya sekitar ratusan juta rupiah untuk sekali periksa.

Namun demikian, dibandingkan dengan alat sederhana itu, hasil laboraturium diakuinya lebih detail dan prosesnya cepat. Tidak seperti menggunakan alat tersebut, harus menunggu waktu yang sedikit lama dan harus dilakukan dengan cara berulang-ulang.

Pria 32 tahun ini menjelaskan, mendemo temuan barunya itu dengan mengambil empat botol bekas. Di masing-masing botol diisi dengan kandungan air yang berbeda. Seperti air biasa, cairan pupuk organik Asa Green, ZPT, dan bakteri E4 hasil penemuan IPB.

Ia menerangkan, semakin banyak PPM dalam air maka lampu itu akan semakin terang. Tentunya akan semakin berpengaruh pada tanaman.

Dalam uji cobanya itu, ia menggunakan lampu berkekuatan 75 watt. Hasilnya cukup mencengangkan, lampu itu jauh lebih terang dari biasanya.

Dia menerangkan, air biasa memiliki kandungan PPm mulai dari 300 sampai 600. Dan bakteri E4 ini 600 dan kurang dari seribu.

Dibandingkan dengan dua temuannya tersebut, yakni Asa Green, memiliki kekuatan 3000 sampai dengan 5000 PPM. Sememtara produk barunya itu yakni ZPT 1000 sampai 3000.

"Jadi kedua produk saya ini memiliki fungsi yang berbeda dari kandungan PPM-nya," beber pria yang aktif sebagai aktivis lingkungan NTB ini.

Dia menerangkan, Asa Green dan ZPT yang dibuatnya tak memiliki campuran bahan lain seperti produk lainnya. Lantaran banyak produk serupa.

Kedua pupuk organik ini, terangnya, memiliki bahan yang berbeda namun sama-sama lahir dari tumbuhan alami. Jika Asa Green lahir dari tumbuh-tumbuhan seperti tembakau, ampas kulit pisang dan lainnya, maka ZPT lahir dari sampah dapur rumah tangga. Bahannya berupa sisa-sisa potongan bahan dapur yang tidak dikonsumsi.

Perbedaan selanjutnya, kata Badri, pada lama fragmentasinya. Yakni seminggu dan hanya dua hari. Cairan Asa Green lebih bening dibandingkan dengan ZPT.

Pemanfaatannya juga berbeda jika ZPT hanya untuk perangsang yang berfungsi untuk akar. Sementara Asa Green berkerja untuk kesehatan buah.

ZPT, ucapnya, dapat digunakan saat tumbuhan mulai dari 0 sampai berumur dua bulan. Sedangkan Asa Green dari dua bulan sampai dengan panen.

"Kedua produk saya ini memiliki perbedaan yang sangat mendasar," ujarnya.

Ia mengaku, untuk Asa Green sendiri sejauh ini sudah banyak yang meminta. Tak hanya datang dari petani lokal, tapi juga petani di luar Lombok bahkan, sampai luar negeri. Namun demikian, ia belum berani lantaran belum ada izin edar dari pihak yang berwenang. 

Ia mengakui, sampai saat ini usahanya meraih izin edar dan hak cipta merk masih terus dilakukan. Namun sejauh ini, ia hanya mengalami kendala keuangan saja.

Ia mengakui, tak ingin menyalahkan siapa-siapa dengan belum dimilikinya hak edar. Hanya saja ia tetap berharap agar pemerintah daerah bersedia membantu dirinya mengantongi hal tersebut. (*)

Tuesday, March 23, 2021

Hari Air Sedunia, Lobar Didapuk Jadi Tuan Rumah

BIOPORI: Bupati Lombok Barat, H Fauzan Khalid saat menanam pohon dengan sistem biopori di sekitar Bendungan Batu Dendeng.

GERUNG
-- Masyarakat seantero bumi bakal memperingati Hari Air Sedunia (HAS) ke 29. Khusus di NTB, seremoni kegiatan ini bakal dipusatkan di Lombok Barat.

Rencananya, HAS 29 bakal diperingati di sekitar Bendungan Dendeng. Bendungan ini berada di Kelurahan Dasan Beres, Kecamatan Gerung.

Dalam HAS kali ini mengusung tema, Mengelola Air, Menjaga Kehidupan. Tujuan kegiatan ini guna mengoptimalkan pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya air.

Kepala Bidang Sumber Daya Air Dinas PUPR NTB, Lalu Kusuma Wijaya mengatakan, pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya air ini melalui sinergitas antara pemerintah pusat, daerah dan komunitas masyarakat peduli sungai. Ini penting untuk menjaga kualitas lingkungan. 

"Sangat penting pula peningkatkan kapasitas masyarakat peduli sungai. Ini penting dalam rangka peningkatan kualitas lingkungan melalui kegiatan penataan lingkungan pengembangan ekonomi masyarakat dan pengelolaan sampah," ucapnya, Selasa (23/3).

Sedianya, rangkaian kegiatan HAS tingkat NTB 2021 meliputi kegiatan kebersihan. Ini dilakukan di sekitar area Bendungan Batu Dendeng.

Kegiatan lainnya berupa gotong royong, pembuatan lubang biopori di sekitar permukiman penduduk. Termasuk pengelolaan sampah dan penataan lingkungan serta penanaman pohon di bantaran sungai dan pelepasan ikan.

Sementara itu, Bupati Lombok Barat, H Fauzan Khalid dalam arahannya menyampaikan bahwa peringatan HAS sangat penting. Bukan peringatan seremoni belaka, tapi lebih karena peran penting keberadaan air itu sendiri dalam kehidupan umat manusia.

“Kalau kita tidak kelola air itu dengan baik, banyak maupun bahkan tidak ada bisa menjadi bencana. Wajib hukumnya kita gelorakan bersama untuk terus peduli dengan keberadaan air," kata Fauzan.

Beberapa waktu terakhir kata dia, kesadaran itu seharusnya semakin tinggi pada diri semua pihak. Banyak musibah terjadi karena persoalan air dan saling menyalahkan dan saling lempar. 

Bagi Fauzan, bukan itu yang seharusnya dilakukan namun introspeksi diri dan keinginan untuk berubah. Selain itu, berkolaborasi satu sama lain. Baik itu pemerintah, swasta dan masyarakat, masyarakat dengan komunitas.

Kelompok Masyarakat Peduli Sungai (KMPS ) Batu Dendeng Dusun Dasan Geres memberikan disebutnya memberi contoh yang luar biasa. Ia berharap contoh ini bisa diikuti di tempat lain.

“Biasanya ujian sesungguhnya di dalam mengelola sesuatu ada pada konsistensi, mampu melakukan regenrasi dan juga sejauh mana bisa menumbuhkan kesadaran masyarakat, dan mudah-mudahan ini semua bisa dilewatkan, “ ungkapnya. 

Sebagai informasi KMPS Batu Dendeng Kelurahan Dasan Geres terbentuk pada  tahun 2018 lalu. KMPS ini mendapatkan jura 1 lomba KMPS tingkat NTB. (jl)

Monday, March 15, 2021

Mengenal Mahyani, Remaja Penulis Novel Best Seller

Buku Bercerita tentang Remaja Pengidap Kanker Otak

BEST SELLER: Mahyani sedang menunjukkan bukunya yang kini sedang menjadi best seller, Ajal Adalah Rahasia-Nya.

---------------------------------
"Tidak semua keluarga bisa menerima jika seseorang menderita penyakit akut. Tak jarang mereka dianggap sebagai beban."

SAEPUL HAKKUL YAKIN -- SELONG

AISYAH terbaring tak berdaya. Penyakit akut menahun yang dideritanya menjadi penyebabnya.

Tak banyak aktivitas berarti yang dapat dilakukan, kecuali lebih banyak berada di rumah. Sisanya, hari-hari yang dilalui gadis belia ini berada di bangku sekolah.

Penyakit yang diderita bukan main-main. Pihak medis mendiagnosa gadis ini mengidap kanker otak stadium akhir.

Kondisinya yang malang itu rupanya bukan mendatangkan belas kasihan dari pihak keluarga, lingkungan bermain dan di sekolah. Pihak keluarga misalnya, ia tak jarang dianggap sebagai beban.

Penderitaan Aisyah ini belum cukup. Di sekolah, ia malah menjadi sasaran perundungan. Ia kerap menjadi bahan ejekan. Begitu juga di lingkungan tempat tinggal, serapah buruk kerap kali dialamatkan kepada gadis ini.

Derita berat yang dirasakan Aisyah sedikit terobati dengan kehadiran sang nenek.eeat perempuan berusia senja inilah i merasakan hangatnya kasih sayang. Hanya kepada sang nenek ia merasa terayomi.

Begitulah sedikit sinopsis alur ceita tentang buku berjudul Ajal Adalah Rahasianya. Buku ini ditulis Mahyani, gadis kelahiran Gondang, Dusun Gunung Joget, Desa Swangi Timur, Kecamatan Sakra, Lombok Timur.

Mahyani sendiri merupakan siswa SMK Nawa Qur'ani, Suwangi Timur. Buku yang ditulisnya ini tercatat sebagai salah yang terlaris saat ini, best seller.

Senin (15/3), JEJAK LOMBOK menemui sang penulis. Ide alur cerita yang dituliskan dibukunya itu disebutnya cukup aneh. Seringkali setiap ide muncul ketika ia sedang berada di dalam kamar mandi atau saat siang hari.

Novel itu, lanjut dara cantik kelahiran 1 Juli 2005 ini, sebenarnya berawal dari kompetisi menulis. Kompetisi itu diadakan oleh salah satu penerbit buku.

Informasi itu tentang lomba menulis ini disebutnya secara kebetulan. Kala itu, ia sedang berselancar di akun facebooknya. Dari sana ia menemukan informasi terbit.

"Saya senang dapat informasi itu. Bagi pemenang akan diberikan hadiah dan akan dicetak sebagai buku," ucap gadis 16 tahun ini.

Jalan menjadi juara tak mudah bagi Mahyani. Betapa tidak, peserta yang ikut dalam kompetisi ini berasal dari seluruh Indonesia.

Lantaran banyaknya peserta, oleh pihak pelaksana membagi peserta menjadi empat zona. mahyani sendiri masuk dalam daftar peserta di zona empat.

Sejak saat itu, Mahyaninterus mengunggah setiap tulisan di akun facebooknya. Tulisan-tulisan inilah yang kemudian dinilai dewan penguji.

Seumpama berkah, tak disangka tulisannya mendapat posisi jadi terbaik dua. Novelnya itupun menjadi best seller yang dijual secara online.

Ia mengatakan, tulisan yang lahir dari pikirannya kebanyakan tentang cerita remaja seusianya. Rata-rata alur cerita yang ditampilkan yakni tentang remaja yang tengah berjibaku di jalan terjal cita-citanya.

Novel tersebut, ucapnya, dibuat selama empat bulan di tahun 2020 kemarin. Yakni mulai dari Juli hingga September.

Buku ini, ucap Mahyani, bukan yang pertama.  Namun ada beberapa yang telah dibuatnya.

"Namun bentuknya ontologi, dalam satu buku itu ada lebih dari satu penulis," ujarnya.

Di antara buku yang ditulis Mahyani yakni Mutiara Hitam, Hibah, dan yang sedang digarap saat ini tentang Budaya Sasak.

Ia mengaku, belum menghitung berapa eksemplar yang telah dicetak oleh penerbit terkait bukunya tersebut. Baginya bersyukur, ceritanya kini dibaca orang banyak.

Dari kegiatan menulis ini, sudah beberapa lomba yang diikutinya. Seperti lomba tulis nasional dan mendapatkan terbaik 1. Sementara di sayembara penerbit kali ini mendapatkan juara 2.

Dibuku tersebut, ujarnya, dirinya paling suka dengan materi terakhir, yang happy ending. 

"Novel saat bisa di pesan di Shopie sekarang, sudah dapat dipesan," terangnya.

Kegemaran Mahyani menulis rupanya dimulai sejak usia 15 tahun. Namun, ia aktif menulis sejak 2020 lalu.

Terpisah, Kepala SMK NW Qur'ani Swangi Timur, HM Mushin Makbul mengatakan, siswanya tersebut dikenal sebagai orang pendiam, tak terlalu bergaul. 

Dari sosok Mahyani yang pendiam itu, awalnya ia tak percaya jika siswanya tersebut membuat sebuah buku. Sepengetahuannya anak itu tak seperti remaja biasanya yang memiliki pergaulan luas.

Terlebih, ia hanya tinggal bersama kakek dan neneknya. Sementara kedua orangtuanya tengah merantau.

"Dia kirim lewat WA, tapi saya kira WA-nya dibajak. Makanya saya hapus WA-nya," terangnya.

Ia mengetahui pasti karya tersebut dibuat oleh anak didiknya baru sebulan kemarin. Pada saat buku itu dikirim bersama dengan piala dan marchandise oleh pihak penerbit.

Ia pun coba membuka aplikasi Shopie dan mencari buku tersebut. Dari 230 biji buku, tertinggal hanya 9 saja.

Menurutnya, selain memiliki kemampuan yang baik di sekolah, ia juga dikenal sebagai hafidz dan qori'ah dengan suara yang merdu.

"Saya akan buatkan dia ekskul berkaitan dengan hobinya itu agar bisa menelurkan ilmunya ke siswa yang lain," terangnya. (*)

Sunday, January 24, 2021

Ria Indriani, Perajut Remaja Berpenghasilan Jutaan Rupiah

Berharap Jadi Inspirasi Teman Sebaya

MERAJUT: Ria Indriani sedang merajut benang yang akan dibuat menjadi sebuah produk kerajinan tangan.


"Pandemi rupanya menjadi berkah bagi Ria. Dengan pembatasan aktivitas belajar di sekolah, ia bisa menghasilkan uang jajan sendiri."

---------
SAEPUL HAKKUL YAKIN -- SELONG

Hujan baru saja reda. Sore yang mendung di akhir pekan itu sebenarnya cocok untuk melepaskan diri dari semua rutinitas.

Tapi tidak bagi dara manis bernama Ria Indriani. Di rumahnya yang sederhana, nampak tangan mungilnya terlihat telaten menyulam benang. Sulamannya itu dibuat menjadi aneka barang yang bakal dijual.

Begitulah pelajar kelas XII IPS 3, SMA 1 Sakra Timur Lombok Timur ini menghabiskan sore harinya, Minggu (24/1). Aktivitas itu dilakukan di rumahnya di Dusun Repok Gabe, Desa Greneng Kecamatan Sakra Timur.

Gadis berparas manis ini tidak saja dikenal luas di sekolahnya. Di lingkungan tempat tinggalnya pun, namanya cukup dikenal.

Maklum selain terampil, gadis ini juga punya paras manis. Belum lagi dari hasil kerajinan yang dibuatnya, ia mampu menghasilkan uang yang tak sedikit.

Kepada JEJAK LOMBOK, dara cantik ini bercerita soal produk yang ia buat. Awal ketertarikannya pada seni rajut saat membantu kakak perempuannya menjual hasil olahannya.

"Saya tertarik saat itu, lalu saya tanya-tanya ke kakak perempuan saya," terang gadis yang karib dipanggil Ria ini.

Semenjak pandemi, ujarnya, kegiatannya hanya di sekitar rumah. Terlebih saat itu, aktivitas sekolah sangat dibatasi. Kalau pun belajar hanya dengan sistem daring.

Buntut dari aktivitas sekolah yang dibatasi, berdampak pada uang jajan yang diterimanya. Di lain sisi, jika ia ingin meminta uang kepada orang tuanya, ia mengaku malu.

Lantaran itu, ia memutuskan untuk menyanggupi ajakan sang kakak perempuan. Yakni membantunya menjual produk berupa bahan rajut. 

Tak lama membantu kakaknya berjualan, remaja 19 tahun ini tertarik dengan seni merajut benang tersebut. Karena minatnya itulah ia mulai belajar. 

Melihat sang kakak merajut dan membuat pola, ia mengaku semakin tertarik. Namun demikian, membuat rajutan rupanya tak semudah yang dibayangkan.

"Saya memperhatikan kakak saya, cara membuatnya. Setelah saya coba tidak mudah," ujarnya tersipu senyum simpul.

Merasa kemampuannya tak cukup, ia pun melihat tutorial di YouTube untuk meningkatkan pengetahuannya. Berbekal tutorial itu, iamulai mencoba membuat sendiri produk tersebut.

Ia mengatakan, karya pertamanya berupa tas mungil. Tas itu untuk menaruh handphone. Hasil kerajinannya ini dengan bangga digunakan. 

Kebanggaan ya itu kemudian diekspresikan dengan mengunggahnya di media sosial miliknya. Tak disangka rupanya ada yang berminat dengan tas tersebut 

"Saya jual dengan harga Rp 45 ribu. Itu karya pertama saya dan bisa laku dan membuat saya semangat," ucapnya.

Mulai saat itu, ucapnya, ia semakin tekun membuat produk tersebut. Kini ia pun bisa menghasilkan sekitar 15 sampai 25 buah per bulan. 

Dari itu saat ini, sebutnya, ia membandrol karyanya tersebut mulai Rp 45 ribu sampai dengan Rp 200 ribu ke atas. Tergantung bahan dan kerumitan pembuatan rajutan yang dibuat.

Ia mengaku mengerjakan aktivitasnya itu ketika tidak ada tugas sekolah. Ia mengerjakan aktivitasnya tersebut tanpa mengesampingkan pendidikan yang tengah ditempuh.

Ia mengatakan, jenis usahanya tersebut masuk dalam kategori usaha home mad. Ia membuat produknya jika ada pesanan yang masuk. 

"Per harinya, ia hanya dapat membuat dua sampai tiga buah produk," sambungnya.

Selama ini untuk memasarkan produknya, ia memanfaatkan berbagai sosial media. Seperti facebook, instagram dan WhatsApp. Selain itu, ia dibantu oleh keluarga dan teman-temannya.

Untuk saat ini dirinya sudah bisa menjual sampai dengan 25 buah perbulan. Di bulan pertama saja, ia hanya meraup keuntungan swmpai Rp 1,4 juta.

Penghasilan ini didapatkan dari modal hanya Rp 20 ribu. Namun saat ini penghasilannya terus bertambah.

Kendati demikian, ujar dara cantik ini, untuk urusan bahan baku, seperti benang poly chery, ester, nilon, dan kilap ia harus pesan keluar daerah. Benang- benang ini ia pesan  tepatnya di daerah Tangerang, Banten.

Bahan teraebut dipesan keluar lantaran di pasar lokal disebutnya sangat mahal. Namun yang lainnya bis didapati dengan mudah seperti furing, ring, kepala dan daun retsleting, jarum jahit, gunting, pengukur, dan inner.

Ia pun berharap, ini bisa menjadi inspirasi dan dapat membuat lapangan kerja untuk yang lainnya.

"Harapan kedepan semoga bisa membuat lapangan pekerjaan, bagi temen yang ada kemauan belajar merajuat," tandasnya. (jl)

Thursday, December 31, 2020

Edarkan Upal, Oknum PNS Diringkus Aparat

DIRINGKUS: Pelaku penyebaran upal digelandang di Mapolres Lombok Timur.

SELONG
--Seorang oknum PNS inisial SRM asal Sakra Lombok Timur diringkus polisi, Senin (28/12). Ia diringkus setelah diketahui mengedarkan uang palsu (upal).

Wakapolres Lotim, Kompol Kiki Firmansyah, mengungkapkan motif pelaku mengedarkan uang palsu tersebut dengan mencampurnya dengan uang asli. 

"Uang tersebut dicampur di dalam dompet dan digunakan berbelanja," ungkapnya, Kamis (31/12). 

Motif lainnya dengan meminta kepada agen Brilink (korban) mentransfer sejumlah uang ke rekeningnya. Uang itu sebesar Rp 4 juta.

Kiki menjelaskan, motif pelaku diketahui aparat setelah korban melaporkan kejadian tersebut kepada Polsek setempat. Sebanyak 40 lembar uang palsu pecahan 100 ribu berhasil diamankan petugas sebagai barang bukti.

Akibat prilakunya tersangka dijerat dengan pasal 36 ayat 3 tentang pemalsuan mata uang. Ia dijerat dengan hukuman maksimal 15 tahun dan denda Rp 50 miliar.

Menurut keterangan tersangka, dirinya telah melakukan aksi tersebut sejak 4 bulan lalu. Tidak diketahui berapa jumlah uang palsu yang digunakan.

Ia mengaku telah membelanjakan uang hasil cetakannya sendiri itu di empat wilayah di dua kabupaten. Yaitu Lombok Tengah dan Lombok Timur.

Saat ini tersangka diamankan di Polres Lombok Timur untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut. (hs)

Sunday, December 20, 2020

Mengenal Phalonk, Seniman Perupa yang Mendunia

Sempat Bimbang, tapi Keluar sebagai Pemenang

KARYA: Phalonk saat menunjukkan hasil karyanya kepada Gubernur NTB, H Zulkifliemansyah.

------------------------------

"Event internasional visual art exhibition multi frame bertajuk Bringing Diversity into Harmony in Virtual World menjadi pembuktian bagi Phalonk. Perupa muda ini ditahbiskan keluar sebagai pemenang."

SAEPUL HAKKUL YAKIN -- SELONG

Rambut panjangnya diikat seadanya. Badannya yang gempal dan mulai berlemak dibiarkan tak tertutupi sehelai benang.

Di tangannya tampak tergenggam handphone. Jari-jarinya sibuk menekan ponsel itu dengan seksama. Matanya awas memperhatikan layar barang elektronik yang berada di genggamannya itu.

Begitulah Phalonk, Minggu siang (20/12) tadi. Badannya yang tebal tak mengenakan baju rupanya tak cukup kuat menahan hawa panas udara saat itu. Ia membiarkan angin leluasa menyergap tubuhnya agar terasa lebih sejuk di atas bangku kayu di halaman rumahnya.

Sebelum JEJAK LOMBOK berjumpa. Tepat di simpang empat Desa Lendang Nangka, Kecamatan Masbagik Lombok Timur sempat menanyakan sosok pemuda yang satu ini.

Rupanya, pemilik nama lengkap Saparul Anwar Phalonk ini banyak dikenal warga setempat. Praktis, tak sulit menjumpai kediamannya yang berada di Dusun Dalem Lauk.

Setiba di kediaman pemuda ini, aneka macam mural dan lukisan sudah menunggu. Lukisan dan mural itu siap mendikte setiap jengkal pandangan tamu-tamu yang datang.

Begitu pun di dalam rumahnya. Beberapa lukisan berkelas di pajang dalam kondisi tergantung.

Dari sambutan pemandangan yang tersaji, dengan mudah ditebak sosok pemuda yang ditemui ini. Ia merupakan seniman perupa. Di usianya yang sangat muda, karya-karyanya telah diakui dunia.

Baru-baru ini Phalonk mengikuti event internasional visual art exhibition multi frame. Kegiatan bertajuk Bringing Diversity into Harmony in Virtual World.

Ajang tiga tahunan ini merupakan ruang kompetisi para perupa seantero bumi. Seniman dari berbagai negara akan menumpahkan seluruh kemampuannya di ajang tersebut demi ditahbiskan sebagai perupa ulung.

Terhadap event itu, Phalonk menuturkan, keikutsertaannya karena diundang langsung pihak penyelenggara. Berbeda dengan sejumlah peserta lainnya yang harus mengikuti sistem call untuk mendaftar di event tersebut.

Pria kelahiran 5 Oktober 1991 ini menuturkan, kegiatan itu digelar Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta. Sedikitnya ada 161 peserta yang berkompetisi dari 16 negara di dunia.

Bagi Phalonk, mengikuti event sebesar itu tak mudah. Ia juga sempat bimbang lantaran seniman yang mengikuti ajang tersebut barang tentu sudah berkelas.

Belum lagi hasil karya para peserta bakal dinilai tiga kurator kelas dunia. Mereka yakni Dr Shamsu Mohamad dari Universiti Sains Malaysia (USM), Prof Setiawan Sabana dari Institut Teknologi Bandung (ITB), dan Helena Hoskova dari Republik Ceko.

Para kurator ini, sebutnya, memiliki wewenang untuk mengkaji. Mulai tema yang diangkat sampai eksibisinya.

"Saya tidak sangka akan bisa masuk terbaik tiga," ucapnya memberi kejutan.

Ia menerangkan, semua aliran seni rupa masuk dalam event tersebut. Dia sendiri merupakan salah seorang perupa beraliran naif.

Sebelum mengikuti event tiga tahunan tersebut, bebernya, awalnya tahun 2014 yang lalu Kriya World di Jogja. Di ajang tersebut dia mendapatkan kategori terbaik se-Indonesia.

Lantaran itu karyanya mulai dilirik seniman lainnya. Di tahun yang sama, dia kembali menyabet gelar serupa. Kali ini pada ajang disnatalis enam negara yakni Malaysia, Hungaria, Singapura, Jerman, dan Indonesia.

"Tahun 2015 baru naik ke galeri nasional dan mendapat penghargaan 100 seniman perupa muda Indonesia," sebut Phalonk.

Berbekal itu, ia mengikuti ajang dunia internasional namun waktu itu belum bisa masuk kategori. Di lain sisi, beberapa tawaran datang agar ia mengikuti ajang serupa. Tak main-main, tawaran itu datang dari Italia dan Spanyol.

Namun ia mengakui, untuk jadi seniman itu tak boleh vakum atau tak eksis dalam dunia seni rupa. Jika vakum, bersiap-siaplah nama tenggelam, atau kalau tidak, akan terkubur dengan sendirinya.

Seperti halnya dimensi kehidupan yang lain sejak kepungan pandemi virus Corona. Banyak event bertaraf internasional yang vakum. Hanya event trinale multi frame yang digelar, itupun secara daring.

"Saya dapat undangan itu sejak tahun 2015 lalu sampai sekarang," ujarnya.

Sarjana Seni Rupa Institute Seni Indonesia ini menceritakan, awalnya berangkat kuliah ke Jogja ingin mengambil jurusan seni musik. Namun niatan itu berubah setelah melihat para seniman sedang asyik memamerkan karyanya.

Pada waktu itu, ujarnya, ia heran hasil karya seni yang berukuran kecil harganya sampai jutaan rupiah. Lantaran itu ia pertama kali tertarik dan tergiur.

Selama ini, bebernya, ia mengaku tinggal di Jogja dan karena pandemi. Setelah mulai relatif mereda, ia kembali ke tanah kelahirannya, di Lombok.

"Ketimbang di sana tidak ada kerjaan dan tidur saja, lebih baik balik dulu," sebutnya.

Pria 29 tahun ini menuturkan, sekembalinya ke Lombok, ia membentuk komunitas Senine. Komunitas ini dihajatkan menjadi wadah bagi para seniman perupa.  

Komunitas itu, lanjutnya, sebagai wadah diskusi dan berbagai pengalaman. Kendati diakuinya hal itu kurang produktif, tapi cukup memiliki efek. Wadah itu hanya untuk menyalurkan hobi melukis.

Komunitas Senine ini dihajatkan untuk para perupa di Lombok Timur. Sementara untuk di NTB, ia membentuk komunitas bernama Sak Art.

Terhadap aktivitas berkesenian yang dilakoninya ini rupanya telah mendatangkan apresiasi luar biasa. Ratusan orang yang berkunjung untuk melihat karya seni lukis di tempatnya.

"Kunjungan sudah sampai seratusan lebih. Alhamdulillah sudah banyak pengunjung dari warga sampai dengan media juga tertarik," tandasnya. (*)

Sunday, November 29, 2020

Nida Havia, Musisi Muda yang Digandrungi Millenial

Nida Havia

SELONG
-- Pasti pernah dong dengar Nida Havia. Gadis yang satu ini merupakan salah satu musisi asal Lombok Timur yang singelnya kini lagi hitz.

Dara cantik kelahiran Aiq Dewa, Kecamatan Pringgasela, Lotim ini bukan hanya seorang musisi. Ia juga seorang youtuber.

Dara cantik yang akrab dipanggil Via ini digandrungi oleh kaum muda.

"Saat ini Alhamdulillah subcribe sudah mencapai 12,8 ribu," ucap Via, saat ditemui disela performanya di salah satu acara, Minggu (29/11).

Mahasiswa semeter 7 di Fakultas Hukum Universitas Mataram (Unram) ini membeberkan, kegiatan olah vokal merupakan hobi yang digelutinya sejak lama. Ia mengatakan, sama seperti orang pada umumnya, pertama kali nyanyi di rumah dengan iringin gitar sederhana.

Tahun 2019 lalu baru ia memulai debutnya sebagai musisi. Saat awal, ia memulai dengan beberapa lagu mancanegara. Dari sejak itu oleh salah seorang teman ia diajak tampil di kafe-kafe.

Tak lama berselang, seperti gayung bersambut, ia pun diajak oleh salah seorang temannya untuk lagu yang ia cover menjadi salah satu konten youtube.

"Dari sana mulainya, ya mau hampir satu tahun lah," terangnya sambil tersenyum simpul.

Awal bulan ini, ucapnya, telah masuk dapur rekaman. Ia telah mengeluarkan singel berjudul Andromeda berkolaborasi dengan salah satu musisi Lombok.

Ia mengatakan, lagu itu diciptakan oleh Pay, salah seroang musisi Lombok. Dan ia hanya ikut terlibat di pembuatan note nada singel tersebut.

Mantan Ketua Kopri Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) di Unram ini, mengakui lebih banyak mengcover lagu-lagu berbahasa Inggris ketimbang yang Indonesia.

Ketika ditanya ingin memilih menjadi musisi atau advokat, dara cantik ini sedikit bingung. Dengan jawaban yang sangat diplomatis ia menyebut bahwa pendidikan jauh lebih penting.

" Ini hanya hobi, jika kegiatan ini menganggu pendidikan saya, lebih baik berhenti," jawabnya.

Ia pun berharap, banyak muncul anak-anak muda yang memiliki kreativitas, terlebih PMII. Harapan ini dilontarkan lantaran dia melihat kader berlogo prisai bintang sembilan itu banyak kader yang memiliki kemampuan. 

"Potensi yang dimiliki kader ini harus mempunyai ruang berkreatvitas. Sebab banyak yang memilikinya," ucap Via. (sy)

Thursday, November 19, 2020

Lagi, Siswa MAN 1 Lotim Sabet Piala

PRESTASI: Siswa MAN 1 Selong, Windi Satria Ananda membawa harum nama sekolahnya di ajang lomba ekonomi tingkat nasional.

MATARAM
--Setelah Windi Satria Ananda, kini giliran Cahya Sabila sabet juara pada lomba ekonomi tingkat nasional. Kegiatan ini digelar di Bogor Jawa Barat pada 7-17 November 2020. 

Dari ratusan peserta, dara cantik kelahiran Sidoarjo 2002 itu berhasil tampil sebagai juara pertama. Terhadap keberhasilannya itu, ia baru saja mendapat penghargaan dari Islamic Girls Boarding Schol (IGBS) selaku panitia lomba, Rabu (18/11).

Cahya Sabila menuturkan, persiapannya semasa lomba bukanlah suatu yang mudah. Berbagai rintangan dilalui demi mengharumkan nama sekolahnya itu. Cuaca buruk, tugas sekolah dan lainnya mampu diimbangi dengan baik selama proses latihan.

"Kendalanya hanya cuaca buruk, tugas sekolah dan lainnya yang menyangkut pendidikan, tidak ada kendala hang signigicant," ungkapnya.

Sebelumnya, Cahya mengaku mendapat informasi dari pembinanya, Zakaria yang juga direkomendasikan oleh kepala madrasahnya kala itu. Merasa cocok, Cahya tak mau berpikir panjang. Ia mengikuti lomba dibawah bimbingan Zakaria. Bermodalkan ketekunan, ia berhasil meraih juara 1 pada lomba tersebut.

Ia berharap, kedepan ada siswa-siswi madrasahnya yang meneruskan prestasi sekolahnya. Prestasi yang diraihnya saat ini diharapkan menjadi motivasi adik kelasnya dikemudian hari. (hs)

Wednesday, November 18, 2020

Dedare Asal Sakra Terpilih Jadi Duta Lingkungan

Baiq Yolanda Afriliana terpilih sebagai Duta Lingkungan Indonesia 2020.

SELONG
--Bangga! Perasaan itulah yang tengah menyelimuti Baiq Yolanda Afriliana. Dedare (gadis) berusia 22 tahun ini berhasil mewakili NTB di ajang pemilihan Duta Lingkungan Indonesia 2020.

Ajang yang digelar di Makassar ini dilaksanakan pada 13-15 November kemarin. Di ajang itu, dedare Sakra, Lombok Timur ini meraih penghargaan sebagai runner up 1 Duta Lingkungan Indonesia 2020. Ia juga tercatat sebagai Best Talent di ajang tersebut. 

Sebelumnya, Yola (sapaan akrabnya) mengikuti seleksi di tingkat Provinsi NTB. Kala itu, ia diseleksi langsung oleh panitia nasional pada Oktober 2019 lalu.

"Alhamdulillah saya terpilih sebagai Duta Lingkungan NTB, kemudian melenggang ke tingkat nasional," ucapnya.

Selain prestasi tersebut, Yola juga pernah meraih juara tingkat nasional lainnya. Yakni Talented Putri Taruna Nusantara tingkat Nasional 2019. Ia juga menjadi Putri Berbakat Wajah Bintang Indonesia 2019 di Jakarta. (jl)

Wednesday, November 11, 2020

Meidila Salsabila, Korbankan Uang SPP Jadi Modal Usaha, Kini Omzet Puluhan Juta

INSPIRATIF: Siswi SMKN 1 Sakra, Meydila Salsabila saat bertemu Wagub NTB, Hj Sitti Rohmi Djalillah dan Kadikbud NTB, H Aidy Furqon di gerai miliknya.

SELONG
--Nama Meydila Salsabila tiba-tiba menjadi pusat perhatian pemerintah. Ini tidak lepas dari perjuangan siswi SMKN 1 Sakra Lombok Timur di dunia wirausaha.

Remaja berkcamata itu, nampaknya juga menjadi perhatian Wakil Gubernur NTB, Hj Sitti Rohmi Djalillah. Di balik kegigihannya menekuni dunia wirausaha, siswi berparas manis ini kini telah sukses mengantongi omset puluhan juta rupiah.

Remaja kelahiran 14 Mei 2003 ini, kini tercatat sebagai kelas XII jurusan Agro Bisnis dan Pengolahan Hasil Pertanian.

"Awal saya usaha dari kelas sebelas. Berkat ilmu dari guru yang mengajarkan saya tentang pengolahan hasil pertanian," kata Meydila Salsabila, saat ditemui disela kesibukannya, Selasa (10/11).

Jauh dari orang tua dan saat ini tinggal dengan neneknya di Rensing Sakra Barat membuatnya harus berfikir keras. Terlebih ekonomi keluarganya termasuk kondisi menengah.

Apa yang dia jalani saat ini, bebernya, berkat ilmu yang diajarkan gurunya. Ilmu yang ia dapatkan di bangku sekolah coba diterapkannya di rumah. 

Ia menceritakan, usaha yang dijalaninya yakni berjualan online seperti anak muda lainnya. Beberala barang yang dijual berupa masker kecantikan tradisional dari Pulau Sumbawa.

Untuk dapat menjalankan usahanya itu, dara cantik ini mengorbankan uang SPP sekolahnya. Buntutnya ia harus menunggak di sekolah tempatnya belajar.

"Saya korbankan uang SPP Rp 400 ribu sebagai modal awal," beber remaja yang akrab dipanggil Dila itu.

Ia mengakui tak ada tambahan modal lainnya. Lantaran itu ia harus dapat mengatur keuangan sedimikian rupa. Salah satu cara yang ia lakukan dengan melakukan saving (menyimpan) hasil jualan.

Dari saving itulah sekarang ia dapat membuka cabang-cabang baru. Kendati ia tak merincikan berapa cabang yang tengah ia kelola. Barang yang ia jual awalnya hanya laku beberapa buah sekarang ia sudah laku sampai 50 caps perhari.

Usaha yang dijalani itu, diakuinya belum satu tahun. Namun, sudah memiliki omset Rp 500 ribu perharinya.

"Penghasilan kurang lebih lah 500 ribu perhari," ujarnya.

Tak berhenti di situ, setelah merasakan sukses berjualan masker, ia saat ini membuka cabang usaha baru yakni dengan mmebuat satu gerai tempat berjualan boba. Gerai itu ia buat dengan modal Rp 6 juta. Modal itu berasal dari saving selama ini.

Di cabang usahanya itu, remaja kelas XII itu saat ini memiliki dua karyawan. Yang merupakan tak lain merupakan kakak kelasnya di SMKN 1 Sakra.

Dari dua cabang usaha yang tengah ia geluti, saat ini omsetnya tembus puluhan juta perbulan.

"Alhamdulillah sekarang pendapatan kurang lebih Rp 10 juta perbulan. Dan syukurnya lagi orang tua mendukung langkah saya," ucapnya sambil tersenyum simpul.

Dia mengtakan, ingin membuka mencoba dunia usaha lainnya. Salah satunya yakni usha kue setelah lulus sekolah.

Ia mengakui, saat ini sudah sedikit kualahan mengatur waktu antara usaha dan belajar. Lantaran di sekolah ia dipercayakan menjadi tutor sebaya bagi adik kelasnya untuk mengolah produk tempat ia mengenyam pendidikan itu.

Berkat kerja kerasnya itu, ia mendapatkan penghargaan dari Dinas Pendidikan dan  Kebudayaan NTB.

"Kemarin ini Alhamdulillh dapat penghargaan sebagai interpreneur muda usia sekolah," ujarnya.

Kepala SMKN 1 Sakra, Ahmad Suhamka mengatakan, Dila termasuk siswa yang fokus dan berprestasi di sekolah. Ia dipercaya sebagai tutor sebaya bagi adik-adik kelasnya. 

"Kita support dengan memberikan tempat membangun gerai di depan sekolah. Bila juga alhamdulillah saat ini dapat membantu ekonomi orang tuanya," tandasnya. (sy)

Wednesday, August 26, 2020

Berkenalan dengan Solihin, Founder Go Mayur

Founder Go Mayur, Muhammad Solihin.

MATARAM--Hari sedang terik-teriknya. Matahari yang berada di arah pukul 13.00 WITA terasa begitu menyengat kulit.

Tak banyak para pemotor terlihat lalu lalang di Jalan Pemuda, Gomong Mataram, Rabu (26/8). Sebuah pemandang berbeda seperti biasanya di jalan yang dikenal khalayak selalu ramai itu.

Keramaian di jalan Pemuda terutama karena menjadi jalan akses utama para mahasiswa. Jalan tersebut setidaknya menghubungkan beberapa kampus. Mulai dari Universitas Mataram, Universitas Pendidikan Mataram, UIN Mataram serta beberapa kampus lain. Belum lagi keramaian di jalan itu disebabkan karena banyaknya tersedia kos-kosan. 

Nyaris di sepanjang pinggir jalan itu dipenuhi aktivitas jual beli dan layanan jasa. Bahkan, beberapa kedai-kedai kopi pun sudah tersedia dan siap disinggahi.

Tepat di timur sebuah klinik bernama Exonero, sebuah kedai kopi bernama Karmila, Solihin sudah menunggu. Hanya ia sendiri yang duduk mengisi 4 kursi yang melingkari meja bundar bagian tengah di kedai itu.

Ia terlihat sibuk memainkan dua buah telpon genggam miliknya secara bergantian. Ia bahkan tak sadar jika tamunya sudah memasuki pelataran parkiran kedai kopi itu.

Ya, di tempat itulah pemilik nama lengkap Muhammad Solihin ini menunaikan janji bersama JEJAK LOMBOK.

Saat disambangi lebih dekat, barulah sosok pemuda asal Desa Tirtanadi, Kecamatan Labuan Haji ini menyadari kehadiran tamunya. Seulas senyum pun mengembang sembari menyodorkan tangannya bersalaman.

"Saya kira tidak jadi datang. Saya dari tadi mainkan HP layani pelanggan," ucapnya langsung membuka percakapan.

Pemuda kelahiran 6 Februari 1993 ini lantas menyilakan duduk sembari memesan minuman dingin. Belum saja pesanan tiba, ia memperlihatkan telpon genggamnya yang sedang dipenuhi pesanan.

Ya, Solihin adalah founder Go Mayur. Sebuah aplikasi dengan basic jual beli sayur secara online.

Ada cerita panjang di balik proses dirintisnya aplikasi market online itu. Solihin merupakan salah satu pentolan aktivis organisasi kemahasiswaan ternama.

Berbekal statusnya sebagai mantan ketua aktivis pergerakan, ada gengsi yang dipikul di pundaknya. Status itu disebutnya menjadi beban moral lantaran menjadi pengangguran dalam rentang waktu yang lama selepas kuliah.

"Kalau seandainya waktu bisa dikembalikan, saya memilih lebih baik tidak menyandang status itu," selorohnya.

Dengan status sebagai eks pergerakan, Solihin mengaku larut dengan berbagai kegiatan. Ia wara-wiri kesana-kemari tanpa visi akan diapakan masa depannya.

Ia mengaku beruntung karena lekas mengambil sikap. Mau tak mau, ia bertekad harus memiliki sumber penghasilan sendiri yang bisa menopang aktivitasnya.

Sebenarnya, berjualan sayur mayur berbasis online disebutnya sudah lama terlintas di pikiran. Namun itu tidak serta merta direalisasinya.

"Saya Googling dan buka-buka peluang usaha ini. Saya juga cek market online. Ternyata ada satu, tapi itu sudah tutup," tuturnya.

Barulah sekitar tiga bulan yang lalu, Solihin akhirnya memantapkan diri terjun di bisnis market online. Berbekal Rp 1,5 juta, ia mulai membuat aplikasi dan memesan komoditas sayuran yang akan dijualnya.

Sejak diluncurkan aplikasi Go Mayur miliknya, pesanan terus menerus datang. Seolah menjadi berkah, visi masa depan yang terlintas dipikirannya kini seolah terjawab.

Tahap awal peluncuran aplikasi ini, lanjutnya, ia berpikir lebih menyediakan sayur mayur yang cenderung tidak cepat busuk. Seperti wortel, kentang dan bawang misalnya.

Pesanan terhadap sayur mayur yang cenderung awet ini disebutnya untuk menyiasati potensi kerugian. Jika membeli komoditas sayuran seperti kangkung atau sawi, dipastikan usia kesegarannta tidak lebih dari dua hari.

"Karena sejak awal sy sangat menjaga kualitas barang yang saya jual. Harganya miring, tapi kualitasnya tidak kalah dengan supermarket," ucapnya meyakinkan

Kini setelah market online miliknya diluncurkan, sebagian besar pelanggannya bebasis di Mataram. Sejak menggeluti bisnis ini, ia mulai akrab dengan ibu-ibu rumah tangga.

Model komunikasi dengan ibu-ibu ini betul-betul dikuasai. Kendati berbasis market online, masih ada saja yangemawar harga meski sudah diberikan harga miring

Tidak butuh waktu lama bagi Solihin punya karyawan. Berbekal sejumlah asisten, kini barang-barang hasil pertanian yang dijualnya cepat siap antar ke pelanggan.

Hanya saja, kondisi itu disebutnya belum cukup. Kedepan, ia bertekad membuka lapak sebagai basis penjualan non online.

"Jadi menjaring uangnya tidak saja lewat online, yang off line pun dapat kita lakukan jika sudah ada lapak," tegasnya. (jl)

Our Blog

55 Cups
Average weekly coffee drank
9000 Lines
Average weekly lines of code
400 Customers
Average yearly happy clients

Our Team

Rizki Handika Putra
CEO
Laela Rosanti
Creative Designer
Sopian Haris
Sales Manager
Syamsu Rizal
Developer

Contact

Talk to us

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit. Dolores iusto fugit esse soluta quae debitis quibusdam harum voluptatem, maxime, aliquam sequi. Tempora ipsum magni unde velit corporis fuga, necessitatibus blanditiis.

Address:

9983 City name, Street name, 232 Apartment C

Work Time:

Monday - Friday from 9am to 5pm

Phone:

595 12 34 567