Solusi Digital Marketing Nusa Tenggara Barat

Memberkan pelayanan terbaik untuk anda dan usaha anda, kami mempunyai tenaga profesional dibidang marketing digital.

Layanan Konsultasi

Our Services

Sepenuh Hati

Solusi Digital Marketing di Nusa tenggara Barat.

Read More

Great Concept

Solusi Digital Marketing di Nusa tenggara Barat.

Read More

Development

Solusi Digital Marketing di Nusa tenggara Barat.

Read More

User Friendly

Solusi Digital Marketing di Nusa tenggara Barat.

Read More

Recent Work

Showing posts with label Featured. Show all posts
Showing posts with label Featured. Show all posts

Wednesday, May 26, 2021

Kisah Miq Jaya, 27 Tahun Mengabdi Berharap Lolos P3K

Lalu Wirajaya S.Pd

SELONG
-- Jam sudah menunjukan pukul 11.00 Wita. Di ruang pengap udara itu, sejumlah orang tengah berdialog serius. Dialog itu melibatkan para guru honorer dan anggota DPRD Lombok Timur.

Sepanjang dialog, nyaris semua keluh kesah ditumpahkan oleh para honorer. Mereka mengiba bisa diakomodir sebagai guru dengan status P3K dalam rekrutmen CPNS tahun ini.

Nampak di salah satu ruangan di lantai dua itu, mereka duduk berjejer rapi. Pria di depan, sedangkan para perempuan berada di belakang.

Sesekali suara aplaus mengisi selurus ruangan. Aplaus itu sebagai bentuk dukungan akan nasib mereka yang tengah diperbincangkan.

Sejam sudah berlalu, angka waktu di ponsel menunjukan pukul 12.15 WITA. Mereka keluar dengan penuh harapan. Padahal, sepanjang dialog, nyaris tak ada jawaban sesuai tuntutan yang mereka layangkan.

Dari puluhan mereka, para guru honorer yang hadir itu rata-rata berstatus kategori 2 (K2). Dari mereka ini, ada satu sosok yang cukup mencuri perhatian.

Sosok itu mengenakan sepatu lusuh berwarna hitam. Celana panjangnya juga sudah pudar warna. 

Dipadu kemeja lengan pendek, ia memikul tas punggung. Sosok ini tak lain adalah Lalu Wirajaya S.Pd.

Honorer K2 yang satu ini merupakan saksi hidup betapa getirnya menjadi seorang pendidik. Selama 27 tahun lebih ia mengabadikan diri sebagai seorang guru, tapi tak kunjung terangkat statusnya sebagai PNS.

Sosok ini tampak lesu. Rambutnya yang telah berubah warna itu menghiasi muka yang tengah redup. 

Kepada JEJAK LOMBOK, Pria yang karib dipanggil Miq Jaya ini mengaku berasal dari Desa Suela, Kecamatan Suela, Lombok Timur. Ia mengabdikan dirinya sebagai guru tercatat sejak tahun 1994 lalu.

"Saya awalnya ngajar di SMA 1 Parya Timur, tepatnya di Mujur, Loteng," ucapnya lirih.

Pria 53 tahun ini, menuturkan, dirinya di sekolah itu hanya satu tahun. Jauh dari rumah dirinya mengontrak di Gumi Tatas Tuhu Trasna.

Namun aktivitasnya di sekolah itu terhenti lantaran gaji yang tak cukup untuk melanjutkan hidup. Waktu itu, dia digaji hanya Rp 50 ribu saja.

Tahun 1997 dirinya melanjutkan pengabdiannya di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 1 Masbagik.

Dirinya harus rela berangkat pagi buta, menaiki sepeda motor lantaran perjalanan ke tempat mengajar memakan waktu sampai setengah jam lebih. Aktivitas itu rutin dilakukan setiap hari dengan jarak tempuh sekitar 20 kilometer. 

Jarak tempuh yang begitu jauh tersebut, tanpa berhitung berapa rupiah yang dikeluarkannya untuk hanya sekedar membeli bensin.

Pengabdian itu dirinya lakoni sampai saat ini, tanpa mengenal lelah. Ia tak peduli dengan kondisi cuaca.

Delapan tahun lamanya ia harus berjalan dengan bayaran gaji yang pas-pasan. Tak jarang ia harus merogoh kantongnya untuk menutupi biaya perjalanan setiap harinya. 

Belum lagi pada waktu itu dirinya harus menghidupi keluarganya. Perjuangan yang cukup panjang itu, sedikit terbayar ketika dirinya lolos sertifikasi pada tahun 2007.

"Alhamdulillah tahun 2007 sertifikasi dan sekarang gaji saya Rp 1,5 juta," tuturnya.

Namun demikian, gaji yang berasal dari APBN itu tak cukup menafkahi keluarganya. Terlebih gaji itu keluar per triwulan, kadang juga dirinya menerima lima bulan sekali.

Tak menentunya pembayaran gaji itu, membuatnya harus memutar otak agar dapat mencukupi kebutuhan.

Ia memaparkan, dirinya memiliki tiga anak. Yang paling kecil, akan masuk Sekolah Menengah Atas (SMA) tahun ini.

"Jika ditanya cukup, ya tidak cukup, tapi kita cukup-cukupkan," sebutnya. 

Dia menuturkan sempat ada gaji dari sekolah. Namun lantaran terbentur aturan yang menyebutkan sumbernya hal tersebut tidak boleh berasal dari dua sumber untuk dua mata penggajian.

Untuk menanggulangi kebutuhannya, i menjadi penjaga kantin di sekolah sembari berdagang. Tak jarang pula dirinya harus beralih profesi sebagai tukang ojek.

Meski hal itu disebutnya cukup membuat pikirannya buyar lantaran konsentrasinya pecah. Di lain sisi, harus mencukupi kebutuhan keluarga, sementara tanggung jawabnya sebagai guru juga harus terpenuhi.

Dari perjalanan panjang selama 27 tahun mengabdi itu, ia berharap pemerintah harus tuntaskan SK kategori dua itu tanpa melalui tes.

Sebab, kata dia, meski ada tiga tahapan seleksi dalam tes CPNS tetap saja akan kalah. Jika hal itu didapatinya lantaran bersaing dengan sesama K2 disebutnya tidak masalah.

Tapi yang jadi problemnya, ujarnya, harus bersaing dengan yang ada tercantum di Dapodik. Tahap kedua dari ujian itu lebih sulit lagi, karena persaingan dengan yang mengabdi di swasta. Lalu tahap ketiganya dengan lintas zonasi atau kabupaten.

"Akan semakin sulit dia. Mau kami yang di K2, harga mati tanpa tes sudah kalau Pemda mau memperjuangkan nasib kami ini," jelasnya.

Menurutnya, jika tes itu dilakukan dengan anak sekarang jelas sudah akan ketinggalan. Baik itu dari kemampuan penguasaan teknologi, belum lagi para "pendatang baru" disebutnya tak memiliki beban terlalu banyak yang membuatnya kalah fokus.

Malahan, kata dia, siswa yang diajarnya waktu SMPN 1 kelas tujuh, sekarang sudah PNS dari K2, dan hal itu disebutnya miris.

Ia mengatakan, kayaknya Pemda setengah hati memperjuangan nasi SK kategori dua ini.

Dirinya dari dulu menunggu adanya formasi Mipa agar bisa ikut seleksi PNS. Namum tak pernah ada. Begitu muncul, sudah terbentur usia lantaran persyaratan umur untuk dapat ikut maksimal 35 tahun.

"Mipa sekarang ada tiga formasi, semoga bisa dapatlah. Do'akan ya," pintanya. (kin)

Wednesday, May 5, 2021

Menengok Tradisi Maleman Ganjil Ramadan di Desa Songak

Refleksi Syukur Atas Turunnya Agama Islam

Dila Maleman

"Maleman di banyak tempat di Pulau Lombok disebut dengan nama berbeda. Tradisi ini hampir bisa dipastikan dapat ditemukan di semua desa di Pulau Lombok."

SAEPUL HAKKUL YAKIN -- SELONG 

HARI sudah petang. Matahari yang berada di ufuk barat sebentar lagi beringsut menuju pangkuan senja.

Beriringan denga. Tenggelamnya bila api itu, di sepanjang jalan berpaving blok, hilir mudik warga nampak ramai. 

Begitulah kesan sore itu di Desa Singak, Kecamatan Sakra Lombok Timur.

Saat Surya sudah benar-benar tenggelam, adzan Magrib pun berkumandang.

Rupanya hilir mudik warga di Desa itu tengah beramai-ramai mempersiapkan diri hendak naik ke masjid membawa dulang (makanan dalam wadah nampan). Makanan ini bakal dikonsumsi saat berbuka puasa.

Seusai berbuka sebelum menunaikan salat Magrib. Do'a dipanjatkan diiringi lampu listrik yang padam diganti dengan lampu maleman.

"Itu tradisi malam ganjil setiap bulan Ramadan tiba," terang budayan Desa Songak, Murdiyah, Kamis malam (6/5).

Tradisi ini, terangnya, dilaksanankan di berbagai tempat dengan penyebutan yang berbeda-beda. Di Songak, warga biasa menyebutnya dengan maleman.

Dila maleman, kata dia, berarti merefleksikan keadaan pada masa lampau saat agama langit ini diterima hanya menggunakan lampu-lampu obor.

Selanjutnya, kata dia, tradisi ini merupakan bentuk syukur kepada Allah Swt dengan diturunkannya agama Islam yang menjadi cahaya bagi semesta.

Murdiyah mengatakan, pengajaran agama dulunya lebih banyak melalui simbol-simbol. Hal itu dapat dilihat dalam berbagai ritual khususnya di Pulau Lombok.

Selain itu, ujarnya, menyalakan lampu ini dengan harapan mendapatkan berkah sepuluh malam terakhir khususnya pada malam ganjil. Yakni berupa Lailatul Qadar.

Selain itu, kata dia, menyalakan lampu ini juga sebagai isyarat bagi umat Islam. Tujuannya agar bersiap-siap menyambut malam seribu bulan tersebut.

Itu mengapa, ucapnya, pelaksanaan tradisi ini pada sepuluh malam terkahir. Yakni pada malam 21, 23, 25, 27 dan khusus 29, oleh orang Songak menyebutnya dengan malem Sanga.

Dirinya menerangkan, lampu ini dibuat dari buah pohon jarak. Yang artinya, agama yang menjadi cahaya ini dibawa oleh orang atau pedagang Gujarat.

Lampu ini sendiri dibuat dari bahan buah pohon jamplung yang sudah mengering. Lalu diproses sehingga berbentuk seperti yang bisa disaksikan saat ini.

Dalam naskah takepan Sasak, uacapnya, agama sebagai penerang ini dapat ditemukan. Yakni di lontar Alip dan Kotaragama.

“Sasmitanira punika, pan saking cahya kang wening, hya hiku hananira hing kuna, hing mangke sira punika, sarupanna hiki zattullah kang jatinipun. hya sira kang hana, hing dunia praptaning akhir, hya hiku hingaranan ujud sejati,” kutipnya.

Dalam kutipan itu berarti perumpamaannya seperti berasal dari cahaya yang bening. Begitulah keberadaannya sejak dahulu, hingga saat ini. Tidak ada bedanya, zat Allah sejatinya, karena itulah sebab adanya, dari dunia hingga akhir. Itulah yang dinamakan ada yang sejati. (*)

Wednesday, April 14, 2021

Mengenal Badri, Sang Maestro Pupuk Organik

Ciptakan Dua Jenis Pupuk Organik, Terkendala Hak Edar

DEMO: Badri mendemonstrasikan hasil temuannya dengan alat ukur kadar PPM yang diciptakannya sendiri.

----------

"Semakin banyak PPM dalam air, maka lampu itu akan semakin terang. Kondisi ini eakan semakin berpengaruh pada tanaman. Begitulah cuplikan observasi yang dilakukan pria ini."

SAEPUL HAAKUL YAKIN -- SELONG

BADRI nampak begitu santai dengan penampilan seadanya. Saat itu, sekitar pukul 11.50 WITA, Rabu kemarin (14/4). Ia hanyA mengenakan kaos oblong dan kolor sembari bermain bersama sang buah hati.

Sesiang itu rupanya memaksa pria berambut pendek dengan poni di depan itu berpenampilan seadanya. Maklum, siang itu cukup gerah.

Tak sulit menemui kediamannya. Di kampungnya, ia memang cukup tersohor. Bukan hanya di tempat tinggalnya saja. Tapi juga namanya cukup dikenal terutama pada organiasi seperti pegiat sampah. O

Di teras rumah berukuran 4x4 itu, nampak tong berukuran besar. Tong itu merupakan tempat dirinya menampung setidaknya dua dari produk pupuk organik yang diciptakannya.

Kedua pupuk organik yang telah diciptakan itu yakni Asa Green dan Zat Pengatur Tumbuh (ZPT). Produk satunya lagi berupa butiran kecil, yang bermanfaat untuk mengusir hama siput.

Tak lama setelah berbincang dengan JEJAK LOMBOK. Badri menunjukan sebuah alat pengukur kadar air yang sangat sederhana.

Alat itu dibuat dari sebuah pipa bekas, yang di ujungnya terdapat fitting dan balon. Alat itu disebutnya telah menemaninya sejak awal penemuan pupuknya tersebut.

"Alat ini saya buat dulu sekitar tahun 2014 atau 2015. Alat ini yang menemani saya temukan dua produk ini," ucapnya.

Ia menerangkan alat tersebut, terilhami dari stop kontak pada listrik pada waktu itu. Di lain sisi, ia hanya membaca beberapa referensi terkait temuannya itu.

Baru lah setelah itu ia mencoba merakit alat tersebut dari bahan yang ada di sekitar. Sebut saja seperti kabel listrik, colokan, dan besi bekas roda mobil mainan anaknya.

Ia menjelaskan, cara kerja bahan alat tersebut yakni melalui sambungan listrik. Air itu nantinya akan menjadi stop kontak bagi aliran listrik ke lampu itu.

Dengan alat ini, dirinya sukses dalam menciptakan produk. Buktinya sudah dua pupuk organik yang dapat dibuatnya yakni Asa Green dan yang terbaru ZPT.

Di lain sisi, alat tersebut selain dapat mengukur banyaknya kandungan PPM dalam air. Alat ini juga dapat mengetahui besaran kadar air dalam tanah.

"Untung ada alat ini, jadi meringankan biaya," ujarnya.

Menurut pria kelahiran Dusun Suka Mulia, Desa Pohgading Timur, Kecamatan Pringgabaya Lombok Timur ini, jika ingin memeriksa di laboraturium, kandungan zat yang ada pada pupuknya tersebut harus merogoh kantong dalam jumlah yang tak sedikit. Dibutuhkan biaya sekitar ratusan juta rupiah untuk sekali periksa.

Namun demikian, dibandingkan dengan alat sederhana itu, hasil laboraturium diakuinya lebih detail dan prosesnya cepat. Tidak seperti menggunakan alat tersebut, harus menunggu waktu yang sedikit lama dan harus dilakukan dengan cara berulang-ulang.

Pria 32 tahun ini menjelaskan, mendemo temuan barunya itu dengan mengambil empat botol bekas. Di masing-masing botol diisi dengan kandungan air yang berbeda. Seperti air biasa, cairan pupuk organik Asa Green, ZPT, dan bakteri E4 hasil penemuan IPB.

Ia menerangkan, semakin banyak PPM dalam air maka lampu itu akan semakin terang. Tentunya akan semakin berpengaruh pada tanaman.

Dalam uji cobanya itu, ia menggunakan lampu berkekuatan 75 watt. Hasilnya cukup mencengangkan, lampu itu jauh lebih terang dari biasanya.

Dia menerangkan, air biasa memiliki kandungan PPm mulai dari 300 sampai 600. Dan bakteri E4 ini 600 dan kurang dari seribu.

Dibandingkan dengan dua temuannya tersebut, yakni Asa Green, memiliki kekuatan 3000 sampai dengan 5000 PPM. Sememtara produk barunya itu yakni ZPT 1000 sampai 3000.

"Jadi kedua produk saya ini memiliki fungsi yang berbeda dari kandungan PPM-nya," beber pria yang aktif sebagai aktivis lingkungan NTB ini.

Dia menerangkan, Asa Green dan ZPT yang dibuatnya tak memiliki campuran bahan lain seperti produk lainnya. Lantaran banyak produk serupa.

Kedua pupuk organik ini, terangnya, memiliki bahan yang berbeda namun sama-sama lahir dari tumbuhan alami. Jika Asa Green lahir dari tumbuh-tumbuhan seperti tembakau, ampas kulit pisang dan lainnya, maka ZPT lahir dari sampah dapur rumah tangga. Bahannya berupa sisa-sisa potongan bahan dapur yang tidak dikonsumsi.

Perbedaan selanjutnya, kata Badri, pada lama fragmentasinya. Yakni seminggu dan hanya dua hari. Cairan Asa Green lebih bening dibandingkan dengan ZPT.

Pemanfaatannya juga berbeda jika ZPT hanya untuk perangsang yang berfungsi untuk akar. Sementara Asa Green berkerja untuk kesehatan buah.

ZPT, ucapnya, dapat digunakan saat tumbuhan mulai dari 0 sampai berumur dua bulan. Sedangkan Asa Green dari dua bulan sampai dengan panen.

"Kedua produk saya ini memiliki perbedaan yang sangat mendasar," ujarnya.

Ia mengaku, untuk Asa Green sendiri sejauh ini sudah banyak yang meminta. Tak hanya datang dari petani lokal, tapi juga petani di luar Lombok bahkan, sampai luar negeri. Namun demikian, ia belum berani lantaran belum ada izin edar dari pihak yang berwenang. 

Ia mengakui, sampai saat ini usahanya meraih izin edar dan hak cipta merk masih terus dilakukan. Namun sejauh ini, ia hanya mengalami kendala keuangan saja.

Ia mengakui, tak ingin menyalahkan siapa-siapa dengan belum dimilikinya hak edar. Hanya saja ia tetap berharap agar pemerintah daerah bersedia membantu dirinya mengantongi hal tersebut. (*)

Tuesday, March 23, 2021

Kisah Sang Patih dari Segarnya Aliran Sungai Mencerit

Berburu Nihil, Lelah Pula Tahan Dahaga

ALAMI: Keindahan air tibu (kubangan) sungai Mencerit serasa segar dan masih alami.

-------------

"Tidak sedikit obyek destinasi yang memiliki kisah dari tradisi bertutur warga setempat. Seperti aliran air Ribu Mencerit misalnya."

SAEPUL HAKKUL YAKIN -- SELONG

AKHIR pekan selalu menjadi pilihan waktu terbaik berlibur. Entah itu bersama teman, sahabat dan keluarga.

Dari banyak destinasi yang ada, JEJAK LOMBOK merekomendasikan tempat ini dikunjungi. Sungai Air Tibu Mencerit namanya.

Untuk sampai ke tempat ini memang tak mudah. Pengunjung harus menembus lebatnya hutan.

Sepanjang akses menuju destinasi ini, bukan tidak mungkin nyali pengunjung menciut. Kondisi ini ditambah akses jalan bebatuan yang harus dilalui.

Kala awak media ini menuju lokasi, angka penunjuk waktu di ponsel berada di pukul 11.00 WITA, Minggu (21/3), kemarin. Waktu dimana matahari serasa menyengat hingga ke ubun-ubun.

Beruntung saat menempuh perjalanan, awak media ini tak sendiri. Ada warga sekitar berbaik hati ikut menemani. Praktis, rasa takut terusir sendirinya.

Sesampai di tanah lapang pinggir hutan, rasa takut yang tadinya menyelimuti terbayar lunas. Sambil mulut terkatup, sejenak rasa takut pun berganti dengan kekaguman akan keindahan tempat itu.

Banyaknya warga penghuni lokasi itu, terasa dibawa kembali ke kehidupan masa lampau. Yang ada hanya keasrian dan kesenangan mandi di jernih air sungai yang mengalir itu.

Orang menyebut tempat itu dengan Sungai Mencerit. Penamaan tempat itu tak terlepas dari sejarah mata air yang ada di lokasi itu. Sungai ini terletak di Desa Pengadangan Barat, Kecamatan Pringgasela, Lombok Timur.

Kepada media ini, Kepala Urusan Perencanaan Desa Pengadangan Barat, Muhlis mengtakan,  dinamakan Mencerit lantaran kisah salah satu mata air di tempat itu. Mata air yang ada menjadi salah satu sumber air di tempat itu.

Ia menyebutkan, setidaknya ada empat mata air di lokasi tersebut. Keempat mata air itu sampai saat ini masih ada, dan dapat dinikmati.

Sekedar informasi, mata air Mencerit ini merupakan salah satu sumber Perusahan Air Minum Daerah (PDAM) Lombok Timur.

Muhlis menceritakan, konon salah seorang patih berburu musang di tempat itu. Dalam pemburuannya sang patih tak kunjung mendapatkan binatang yang jadi targetnya.

Buruan tak kunjung didapati, rasa haus pun melanda tenggorokan. Lalu ia pun turun, dengan niat mencari air.

Sesampainya di tempat itu, bukan air yang dijumpainya. Hanya pohon tinggi dan rerumputan. Kontan sang patih hanya menghela nafas menahan dahaga.

Di tengah rasa haus yang sudah terasa mencekik leher, membuatnya semakin kebingungan. Sang patih lalu menancapkan tongkatnya ke sela bebatuan besar. 

Begitu mencabut tongkat, keluarlah air yang muncrat. Mencerit sendiri merupakan bahasa Sasak yang berarti muncrat.

"Dari itu tempat ini disebut Sungai Mencerit," ujarnya.

Lantaran sungai itu di aliri mata air, ucapnya, tak heran jika warnanya nampak kebiruan. Pemandangan yang ditampilkan sangat segar karena masih alami dan dingin.

Di sungai itu, ujarnya, biasanya dipenuhi oleh warga sekitar. Baik keperluan untuk mandi dan hanya menikmati udara segar.

Lain halnya bagi anak-anak dan remaja, selain lokasi itu dibuat sebagai tempat mandi. Tak jarang mengabadikannya dalam bentuk foto spot.

"Apalagi hari libur, banyak muda mudi ke sini sekedar foto, makan bersama teman, kemah, dan menikmati indahnya pagi," terangnya.

Ia menyebutnya, tempat itu mutiara yang belum dipoles. Sebab, keindahan ini akan jadi sia-sia jika tidak dikelola dengan baik.

Pihaknya sebenarnya telah memantapkan tempat tersebut untuk dikelola sebagai salah satu lokasi wisata. Namun demikian, rencana tersebut terbentur dengan pandemi yang tengah menggempur. 

Menurutnya, lokasi satu ini akan menjadi pilihan wisatawan. Sebab, selain menawarkan air yang bersih, juga di tempat itu bisa menjadi lokasi camping ground bagi pengunjung.

Ia menjelaskan, di sebelah lokasi terdapat tanah lapang. Di atas tanah itu terdapat bebukitan. Kondisi ini tentunya menjadi point tersendiri.

Sedianya di tempat itu akan dibuatnya menjadi kolam alami. Ditambah dengan beberapa berugak tempat para penunjung beristirahat. 

Tak hanya itu, pihaknya juga bakal melengkapi tempat tersebut dengan MCK. Ada pula tempat pembuangan sampah agar lokasi terjaga kebersihannya.

Ditempat itu juga, terangnya, bisa menjadi wisata edukasi bagi pelajar. Mengingat di tempat ini masih banyak jenis pepohonan.

Ia juga akan menambah spot foto yang alami bagi pengnjung. Ia berharap dengan begitu tempat itu menberikan kesan tersendiri bagi pengunjung.

Namun demikian kata Muhlis, sungai itu juga sebagai tanda batas administratif dua desa. Yakni Desa Pengadangan Barat dan Pringgasela.

"Untuk itu perlu kita membahasnya dengan pihak desa Pringgasela dulu," tegasnya. (*)

Saturday, December 26, 2020

Kisah Sukses Lalu Thoriq, Eksportir Kopi Lombok

Mulai dari Pemandu Wisata, Buka Pasar ke Empat Negara 

SIAP EKSPOR: Thoriq bersama anak buahnya ketika mengupas kulit kopi dari bijinya di salah satu gudang miliknya di kawasan Bintaro Ampenan, Kota Mataram.

-----------------

"Beruntung benar nasib Lalu Thoriq. Berawal sebagai pemandu wisata dengan menjual paket wisata ke kebun kopi, tak disangka telah menyulap hidupnya sebagai satu-satunya eksportir kopi di Lombok, bahkan NTB."

FATHUR ROZIQIN -- MATARAM

Mesin heuler menyalak bising. Sesiang itu suaranya terus menerus memecah keheningan hari yang belum juga beranjak menuju waktu Ashar.

Dari mesin itu, debu-debu beterbangan memenuhi rongga-rongga udara. Andai saja ruang itu tertutup, sudah pasti debu-debu itu membuat pekat cahaya sekalipun.

Begitulah Lalu Thoriq. Ia sedang bergumul dengan mesin heuler pengupas ampas kopi miliknya. 

Beruntung bagian belakang ruko yang menjadi gudang penyimpanan kopinya itu terbuka. Debu yang menyeruak ke udara langsung diterbangkan angin. Itu pula yang membuat pekatnya udara bisa diurai.

Bersama seorang pekerjanya, ia nampak begitu gigih memisahkan berkwintal-kwintal biji kopi kering dari kulitnya. Pengupasan kopi itu berlangsung di sebuah ruko berwarna hijau di Jalan Saleh Sungkar, Bintaro, Kecamatan Ampenan, Kota Mataram.

Ruko itu berjejer di antara ruko yang lain dan berada bersisian di sebelah barat Rumah Duka Bintaro.

"Serapan kami masih sangat terbatas. Kami hanya mampu menyerap 150 ton kopi petani per tahun," ungkapnya, di sela-sela kesibukannya, Sabtu (26/12).

Apa yang diungkapkan pria berwajah Arab ini terkait daya serap kopi yang mampu dibeli dari petani. Terbesar serapannya berasal dari Lombok Utara, baru setelah itu dari Lombok Timur.

Ketersediaan kopi petani di dua daerah itu, jelasnya, mencapai 600-700 ton per tahun. Dari jumlah itu belum terserap semuanya. Akibatnya, tak sedikit para petani yang kebingungan menjual hasil panennya.

Saat ini, ayah tiga anak itu juga sedang melirik kopi asal Lombok Barat. Ada dua tiga tempat yang sedang dibidik, yakni Punik, Kumbi dan Prabe.

Kepada JEJAK LOMBOK, pria kelahiran Pringgabaya Lombok Timur ini menuturkan, ihwal mulanya tertarik berbisnis kopi. Aktivitasnya itu dimulai sejak 2015 lalu.

Kala itu, Thoriq masih menjadi pemandu wisata. Salah satu paket perjalanan yang ditawarkan kepada para tamunya yakni berkeliling mengunjungi kebun-kebun kopi penduduk.

Paket ini rupanya cukup diminati wisatawan. Acap kali saat akan balik ke negaranya, para wisatawan tersebut menjadikan kopi sebagai buah tangan.

Lantaran kadang kopi di petani tidak tersedia karena belum masa panen, seringkali ia harus keluar masuk pasar. Itu dilakukan untuk membeli kopi agar hajat tamunya terpenuhi.

"Dari sana saya berpikir, kenapa tidak berusaha kopi. Sembari tetap menjadi pemandu wisata, saya juga mencoba bisnis kopi," ucapnya.

Seiring berjalannya waktu, bisnis kopi pria kelahiran 23 November 1977 ini semakin membaik. Peruntungannya dalam bisnis kopi rupanya di kemudian hari mengantarkan dirinya sebagai pengusaha pertama eksportir kopi di Lombok, bahkan NTB.

Di bawah bendera UD. Berkah Alam, Thoriq membeli kopi para petani. Bendera ini pula yang dijadikan sebagai legalitas mengirim barangnya ke mancanegara.

Bisnisnya kini merambah Korea dan Kanada. Bahkan Arab Saudi dan Irlandia siap dijajal sebagai pangsa pasar baru.

Tak mudah perjuangan yang dilalui Thoriq sebagai eksportir kopi. Sebuah proses titik balik juga pernah dilaluinya.

Titik balik itu terjadi pada 2016. Saat usaha kopinya mulai dirasa berkembang, tak cukup baginya hanya mengandalkan pasar lokal. Ia berpikir harus menembus pasar mancanegara jika ingin usahanya berkembang lebih baik lagi.

"Saya ingat betul saat itu harus mengumpulkan uang sampai Rp 30 juta. Uang itu untuk pergi ke Korea memasarkan kopi saya," ucapnya.

Bagi Thoriq, mengumpulkan uang sebanyak itu tidak mudah. Terlebih usahanya baru saja merangkak. Namun karena keyakinannya yang kuat, ia pun mengikhlaskan mobilnya digadai. Itu tak lain agar bisa mengumpulkan uang sebesar Rp 30 juta.

Apa yang diusahakan Thoriq tak sia-sia. Berbekal lawatannya ke Negeri Ginseng itu, ia mulai mendapatkan pasar luar negeri. Sekitar sebulan lamanya ia berada di negara itu demi memastikan pasar baru terbuka untuknya.

Setahun berselang, tepat di 2017. Thoriq melakukan ekspor perdananya ke negara itu. Sekitar satu kontainer kopi ia kirim berkapasitas 140 ton. Pengiriman ini rupanya disusul pengiriman lainnya di tahun-tahun berikutnya.

Hebatnya, bukan hanya Korea, Kanada juga jadi pasar baru yang dijajalnya. Untuk Kanada, ia melakukan pengiriman pada November 2020 kemarin. Rencananya, di akhir Januari 2021, ia akan kembali mengirim ke negara itu.

Tak hanya itu, Irlandia dan Arab Saudi juga sudah menanti. Thoriq hanya tinggal menuntaskan kerjasama kedua belah pihak agar bisa mengirim kopinya.

Khusus untuk Arab Saudi, jelasnya, permintaannya bukan dalam bentuk biji. Rekanan bisnisnya meminta kopi yang dikirim dalam bentuk olahan.

Kini sebagai eksportir kopi, Thoriq sudah mampu memberdayakan ratusan petani kopi di Lombok Utara dan Lombok Timur. Kepada para petani binaannya, ia memastikan membeli kopi lebih mahal dibanding pengepul.

"Ini saya lakukan agar petani kita senang. Jangan sampai mereka hanya dapat lelahnya saja," tandasnya. (*)

Sunday, December 20, 2020

Mengenal Phalonk, Seniman Perupa yang Mendunia

Sempat Bimbang, tapi Keluar sebagai Pemenang

KARYA: Phalonk saat menunjukkan hasil karyanya kepada Gubernur NTB, H Zulkifliemansyah.

------------------------------

"Event internasional visual art exhibition multi frame bertajuk Bringing Diversity into Harmony in Virtual World menjadi pembuktian bagi Phalonk. Perupa muda ini ditahbiskan keluar sebagai pemenang."

SAEPUL HAKKUL YAKIN -- SELONG

Rambut panjangnya diikat seadanya. Badannya yang gempal dan mulai berlemak dibiarkan tak tertutupi sehelai benang.

Di tangannya tampak tergenggam handphone. Jari-jarinya sibuk menekan ponsel itu dengan seksama. Matanya awas memperhatikan layar barang elektronik yang berada di genggamannya itu.

Begitulah Phalonk, Minggu siang (20/12) tadi. Badannya yang tebal tak mengenakan baju rupanya tak cukup kuat menahan hawa panas udara saat itu. Ia membiarkan angin leluasa menyergap tubuhnya agar terasa lebih sejuk di atas bangku kayu di halaman rumahnya.

Sebelum JEJAK LOMBOK berjumpa. Tepat di simpang empat Desa Lendang Nangka, Kecamatan Masbagik Lombok Timur sempat menanyakan sosok pemuda yang satu ini.

Rupanya, pemilik nama lengkap Saparul Anwar Phalonk ini banyak dikenal warga setempat. Praktis, tak sulit menjumpai kediamannya yang berada di Dusun Dalem Lauk.

Setiba di kediaman pemuda ini, aneka macam mural dan lukisan sudah menunggu. Lukisan dan mural itu siap mendikte setiap jengkal pandangan tamu-tamu yang datang.

Begitu pun di dalam rumahnya. Beberapa lukisan berkelas di pajang dalam kondisi tergantung.

Dari sambutan pemandangan yang tersaji, dengan mudah ditebak sosok pemuda yang ditemui ini. Ia merupakan seniman perupa. Di usianya yang sangat muda, karya-karyanya telah diakui dunia.

Baru-baru ini Phalonk mengikuti event internasional visual art exhibition multi frame. Kegiatan bertajuk Bringing Diversity into Harmony in Virtual World.

Ajang tiga tahunan ini merupakan ruang kompetisi para perupa seantero bumi. Seniman dari berbagai negara akan menumpahkan seluruh kemampuannya di ajang tersebut demi ditahbiskan sebagai perupa ulung.

Terhadap event itu, Phalonk menuturkan, keikutsertaannya karena diundang langsung pihak penyelenggara. Berbeda dengan sejumlah peserta lainnya yang harus mengikuti sistem call untuk mendaftar di event tersebut.

Pria kelahiran 5 Oktober 1991 ini menuturkan, kegiatan itu digelar Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta. Sedikitnya ada 161 peserta yang berkompetisi dari 16 negara di dunia.

Bagi Phalonk, mengikuti event sebesar itu tak mudah. Ia juga sempat bimbang lantaran seniman yang mengikuti ajang tersebut barang tentu sudah berkelas.

Belum lagi hasil karya para peserta bakal dinilai tiga kurator kelas dunia. Mereka yakni Dr Shamsu Mohamad dari Universiti Sains Malaysia (USM), Prof Setiawan Sabana dari Institut Teknologi Bandung (ITB), dan Helena Hoskova dari Republik Ceko.

Para kurator ini, sebutnya, memiliki wewenang untuk mengkaji. Mulai tema yang diangkat sampai eksibisinya.

"Saya tidak sangka akan bisa masuk terbaik tiga," ucapnya memberi kejutan.

Ia menerangkan, semua aliran seni rupa masuk dalam event tersebut. Dia sendiri merupakan salah seorang perupa beraliran naif.

Sebelum mengikuti event tiga tahunan tersebut, bebernya, awalnya tahun 2014 yang lalu Kriya World di Jogja. Di ajang tersebut dia mendapatkan kategori terbaik se-Indonesia.

Lantaran itu karyanya mulai dilirik seniman lainnya. Di tahun yang sama, dia kembali menyabet gelar serupa. Kali ini pada ajang disnatalis enam negara yakni Malaysia, Hungaria, Singapura, Jerman, dan Indonesia.

"Tahun 2015 baru naik ke galeri nasional dan mendapat penghargaan 100 seniman perupa muda Indonesia," sebut Phalonk.

Berbekal itu, ia mengikuti ajang dunia internasional namun waktu itu belum bisa masuk kategori. Di lain sisi, beberapa tawaran datang agar ia mengikuti ajang serupa. Tak main-main, tawaran itu datang dari Italia dan Spanyol.

Namun ia mengakui, untuk jadi seniman itu tak boleh vakum atau tak eksis dalam dunia seni rupa. Jika vakum, bersiap-siaplah nama tenggelam, atau kalau tidak, akan terkubur dengan sendirinya.

Seperti halnya dimensi kehidupan yang lain sejak kepungan pandemi virus Corona. Banyak event bertaraf internasional yang vakum. Hanya event trinale multi frame yang digelar, itupun secara daring.

"Saya dapat undangan itu sejak tahun 2015 lalu sampai sekarang," ujarnya.

Sarjana Seni Rupa Institute Seni Indonesia ini menceritakan, awalnya berangkat kuliah ke Jogja ingin mengambil jurusan seni musik. Namun niatan itu berubah setelah melihat para seniman sedang asyik memamerkan karyanya.

Pada waktu itu, ujarnya, ia heran hasil karya seni yang berukuran kecil harganya sampai jutaan rupiah. Lantaran itu ia pertama kali tertarik dan tergiur.

Selama ini, bebernya, ia mengaku tinggal di Jogja dan karena pandemi. Setelah mulai relatif mereda, ia kembali ke tanah kelahirannya, di Lombok.

"Ketimbang di sana tidak ada kerjaan dan tidur saja, lebih baik balik dulu," sebutnya.

Pria 29 tahun ini menuturkan, sekembalinya ke Lombok, ia membentuk komunitas Senine. Komunitas ini dihajatkan menjadi wadah bagi para seniman perupa.  

Komunitas itu, lanjutnya, sebagai wadah diskusi dan berbagai pengalaman. Kendati diakuinya hal itu kurang produktif, tapi cukup memiliki efek. Wadah itu hanya untuk menyalurkan hobi melukis.

Komunitas Senine ini dihajatkan untuk para perupa di Lombok Timur. Sementara untuk di NTB, ia membentuk komunitas bernama Sak Art.

Terhadap aktivitas berkesenian yang dilakoninya ini rupanya telah mendatangkan apresiasi luar biasa. Ratusan orang yang berkunjung untuk melihat karya seni lukis di tempatnya.

"Kunjungan sudah sampai seratusan lebih. Alhamdulillah sudah banyak pengunjung dari warga sampai dengan media juga tertarik," tandasnya. (*)

Saturday, December 19, 2020

Menolak Lupa, Mematri Dokter Soedjono di Sanubari (5-Habis)

Wisma Soedjono, Embrio Desa Wisata di Lombok

LEGENDARIS: Wisma Soedjono menjadi penginapan yang legendaris dan penuh nilai historis.

--------------

“Wisma Soedjono di Desa Tete Batu masyhur terdengar sejak belum ditetapkan adanya desa wisata. Dari wisma inilah embrio lahirnya desa wisata di Pulau Lombok.”

FATHUR ROZIQIN — MATARAM

Tangis dan selaksa doa menggema di angkasa. Keduanya berpadu mengabarkan duka. Seorang dokter penuh dedikasi telah pergi untuk selamanya. Dokter Soedjono wafat.

Hari itu, Senin 14 Februari 1944. Kencing manis yang dideritanya telah membuat sosok dokter yang dicintai rakyat ini mengembuskan nafas terakhirnya. 

Pernah sebelum ajal merenggut nyawa sang dokter, sejumlah sejawat menawarkan agar lengan Soedjono diamputasi. Namun tawaran itu ditolak. Soedjono memilih pulang bersama sakit yang dideritanya. Ia berpulang di Tete Batu Kecamatan Sikur Lombok Timur dan disemayamkan di Makam Bintaro, Kecamatan Ampenan Kota Mataram.

Di Tete Batu, Soedjono membangun sebuah rumah yang dihajatkan untuk menghabisi masa pensiun. Di rumah itulah ia menghabiskan hari-harinya dengan bertani.

Dalam catatan yang didokumentasikan Roro Neni Kurnia, Soedjono pensiun di tahun 1925. Selama mendedikasikan diri sebagai dokter, ia sebelumnya menetap di Selong.

Kepindahan Soedjono ke Tete Batu di usia purna tugas tidak lepas dari hobinya bertani. Ia pindah ke desa itu sekitar tahun 1930.

Sejak kepindahannya, masa purna tugas bukan penghalang bagi Soedjono menyudahi dedikasinya. Tak hanya menjadi dokter, Soedjono juga mengajari warga setempat cara bercocok tanam dan bertani yang baik.

Berbekal hubungan pertemanan dengan sejumlah kolega di Bogor, Soedjono sering dikirimkan berbagai jenis bibit unggul yang dapat di tanam. Bibit-bibit itu tak hanya dibagikan kepada penduduk setempat, tapi juga dikembangbiakan.

Hari-hari panjang yang dilalui sebagai petani rupanya membuat Soedjono betah. Tak heran jika di tempat itu ia membangun rumah cukup megah sebagai pesanggrahan (tempat peristirahatan).

Bangunan berarsitektur Eropa itu ditempati bersama istrinya. Sepeninggal Soedjono, rumah ini belakangan ditempati oleh anak pertama Soedjono, Raden Soeweno.

Kendati Soedjono telah tiada, pasca wafatnya banyak kerabatnya di masa lalu yang ingin menziarahi rumahnya tersebut. Mereka datang dan menginap di rumah tersebut demi mengenang Kembali masa-mas yang dilewati Bersama sang dokter.

Kerabat yang datang tidak saja dari kalangan Belanda, ada juga dari Jepang. Selain itu, kerabat dari negara lain juga kerap mendatangi tempat itu.

Keturunan Dokter Soedjono yang sadar dengan banyaknya orang yang datang lalu pada tahun 1970an membangun sejumlah kamar penginapan di sekitar pesangrrahan sang dokter. Upaya pengembangan kembali dilakukan sekitar tahun 1980an.

Sejak saat itulah pensanggrahan sang dokter mulai dikenal dengan Wisma Soedjono. Berbekal sentuhan manajemen yang lebih professional, wisma itu belakangan menjadi tujuan atau destinasi penginapan.

Tercatat, wisma inilah yang pertama berdiri di Tete Batu serta desa-desa sekitarnya sebagai penginapan yang layak disinggahi wisatawan. Setelah itu baru kemudian mengikuti sejumlah penginapan lain turut berdiri.

“Kami semua yang ada di sekitar Desa Tete Batu seperti Jeruk Manis, Kembang Kuning dan Tete Batu Selatan ini belajar mengelola destinasi wisata di Wisma Soedjono,” ungkap Kepala Desa Kembang Kuning, HL Sugian, kepada JEJAK LOMBOK, Sabtu (19/12).

Seperti pemilik hotel Green Orry Inn,  Zohri Rahman misalnya. HL Sugian menyebutnya pernah belajar di Wisma Soedjono sebelum kemudian mendirikan hotel yang dikelolanya sendiri. 

Begitu juga dengan penginapan-penginapan lain di sekitar Tete Batu, Kembang Kuning, dan Jeruk Manis. Nyaris semuanya pernah menimba ilmu di wisma tersebut.

“Setelah bisa bahasa Inggris dan mengerti cara mengelola pariwisata, mereka kemudian berdiri sendiri,” ucapnya.

Saat ini, Wisma Soedjono telah berganti nama menjadi Hotel Soedjono. Hotel inilah disebut-sebut sebagai pelopor terbentuknya desa wisata di sekitar daerah itu.

Bagi Sugian, kepeloporan Dokter Soedjono dalam bidang pariwisata sangat nyata terasa. Sebagai kepala desa yang ditetapkan sebagai desa wisata terbaik nasional baru-baru ini, jasa sang dokter telah mengubah wajah daerah itu menjadi sangat luar biasa.

Sugian mengatakan, saat ini, ada sekitar 25 unit penginapan yang berdiri di Teta Baru dan sekitarnya. Dari jumlah itu, terdapat sekitar 70 kamar yang tersedia.

Imbas dari keberadaan desa wisata di wilayah ini, laju perputaran ekonomi masyarakat sangat signifikan. Satu unit kamar hotel dalam sebulan booking order-nya bisa mencapau Rp 20-an juta.

“Tetapi itu sebelum pandemi vieus corona. Kita harap pandemi ini segera berlalu dan perekonomian di sini kembali bangkit,” tegasnya.

Di Desa Kembang Kuning, Tete Batu dan sekitarnya itu, jelasnya, paket wisata yang dijual sangat sederhana. Mulai dari paket pertanian, UMKM hingga jajanan atau kuliner lokal. 

Kendati menjual paket wisata yang sederhana, justru paket ini banyak digemari oleh wisatwan. 

“Andai tidak ada wisma Soedjono, mungkin tidak ada desa wisata di sekitar wilayah ini,” ucapnya. (*)

Thursday, December 17, 2020

Menolak Lupa, Mematri Dokter Soedjono di Sanubari (4)

Laskar Sapuq Putik, Milisi Pribumi Anti Kolonial

PENUH DEDIKASI: Dokter Raden Soedjono bersama warga Lombok Timur penderita cacar dan lepra di klinik Sepolong Labuan Haji. (Foto: Troppen Museum Belanda).
----------------------------

“Berbekal sebagai aktivis Boedi Oetomo semasa studi di STOVIA, kemampuan Soedjono mengorganisir massa tak diragukan. Sepertinya, bekal itu pula digunakan menghimpun kekuatan rakyat menolak kerja paksa yang diberlakukan kolonial Belanda.”

FATHUTR ROZIQIN — MATARAM

Pengujung abad 19 menjadi saksi berakhirnya intervensi Bali atas Lombok. Serangkaian perlawanan dilancarkan orang Lombok atas pendudukan Kerajaan Bali kala itu. 

Puncaknya di Praya sekitar tahun 1891. Warga Lombok bahu membahu menahan gempuran yang dilancarkan Kerajaan Karangasem. Perang yang berkecamuk itu merupakan rentetan perlawanan panjang dari perang-perang sebelumnya.

Kekuatan serdadu Bali yang terlalu perkasa rupanya membuat warga Lombok kelimpungan. Demi menyudahi pendudukan Bali, pada 20 Februari 1894, Lombok mengirim permintaan bala bantuan kepada Belanda.

Lekas saja setelah permintaan bantuan dikirimkan, di tahun yang sama ras kulit putih itu mendaratkan armadanya di Ampenan. Sejak saat itu, fase sejarah invasi di Lombok memasuki babakan baru. Bali pergi, Belanda datang.

Bagi Belanda, permintaan bala bantuan dari orang Lombok merupakan kesempatan yang tak boleh disia-siakan. Undangan itu dianggap peluang memperlebar sayap intervensinya di Hindia Timur.

Belanda yang semula membantu mengusir Bali, lambat laun menunjukan karakter kolonialisnya. Bukannya terbebas dari intervensi Bali, cengkeraman intervensi Belanda justru berlipat-lipat perihnya.

Sejak menduduki Lombok, Belanda memberlakukan kebijakan yang menyengsarakan penduduk kala itu. Kerja paksa hingga membayar pajak dalam jumlah yang tak masuk akal merupakan catatan buram kejahatan yang ditorehkan kala itu.

Kerja rodi atau kerja paksa yang diterapkan pemerintah Hindia Belanda sangat memberatkan warga. Beberapa hasil kerja paksa masa itu hingga kini masih bisa disaksikan.

“Jalan dan jembatan yang ada di Batu Tepong, Narmada Lombok Barat itu, orang Lombok Timur yang buat. Itu hasil dari kerja paksa yang diterapkan Belanda,” ucap Raden Rahadian.

Tak hanya jalan dan jembatan. Sejumlah irigasi pertanian juga menjadi saksi betapa kerja paksa kala itu menyedot tenaga manusia yang tak sedikit.

“Termasuk saluran irigasi yang ada di Narmada yang terbuat dari beton itu. Itu juga hasil kerja paksa. Para pekerjanya dari Lombok Timur,” tegas Rahadian.

Penderitaan itu saja belum cukup bagi Belanda. Merek juga memberlakukan pajak. Bagi warga yang tak sanggup membayar, tanah mereka dirampas paksa.

Mafhum bagi warga Lombok, kerja paksa yang diberlakukan Belanda biasa disebut Ngayah atau Pongor. Warga yang tak sanggup Ngayah, mereka harus membayar pajak. Jika itu juga tak sanggup, tanah mereka dirampas paksa.

Semua penderitaan yang dialami masyarakat Lombok kala itu, nyata disaksiskan di depan mata Soedjono. Tidak sedikit warga yang tak sanggup ngayah dibayarkan pajaknya kepada Belanda. Warga setempat dibebaskan dari kekejian prilaku para penjajah tersebut.

Dari serangkaian penderitaan itu, rupanya membuat Soedjono secara terselubung membangun kekuatan anti kolonial. Berbekal sebagai aktivis Boedi Oetomo di STOVIA, ia mendirikan Laskar Sapuq Putik.

Laskar yang terdiri dari kaum pribumi sikapnya jelas. Menentang penjajah Belanda. Laskar ini didirikan Bersama Lalu Badlah, salah seorang tokoh Gerakan politik di Lombok Timur kala itu.

“Lalu Badlah ini merupakan kakeknya Bu Isvie Rupaeda, ketua DPRD NTB yang sekarang. Lalu Badlah merupakan kakek beliau dari garis keturunan ibunya,” ucap Rahadian.

Namun terkait kehadiran Laskar Sapuq Putik ini, Rahadian tak memiliki banyak referensi tentang sepak terjangnya. Bahkan, gerakan-gerakan perlawanan yang dilancarkan milisi sipil ini juga tidak terdokumentasi begitu rapi dalam memori keturunan dokter Soedjono.

Yang jelas, tutur Rahadian, lahirnya Laskar Sapuq Putik merupakan manifestasi kekecewaan Soedjono dan rekan seperjuangannya kala itu. Mereka tak sudi jika warga Lombok dijadikan obyek penindasan dan penderitaan.

“Salah satu yang melatari Laskar Sapuq Putik ini adalah adanya ngayah atau pongor. Kakek tidak sudi melihat masyarakat saat itu diperalat dan disiksa,” tandasnya. (*)

Bersambung…

Menolak Lupa, Mematri Dokter Soedjono di Sanubari (3)

Anjah Sasak, Upaya Membebaskan Rakyat dari Kungkungan Kebodohan 

BERPOSE: dr. R. Soedjono berpose bersama warga pasien penderita lepra di Klinik Sepolong. (Foto: Troppen Museum Belanda)

--------------------

"Kungkungan kebodohan telah menjadi endapan berlapis-lapis tebalnya yang sulit ditembus cahaya ilmu pengetahuan. Keadaan ini sepertinya pantas untuk menggambarkan kondisi masyarakat Lombok di awal abad ke-20."

FATHUR ROZIQIN — MATARAM

Era Meiji mengantarkan Jepang pada fase yang pantas dijuluki sebagai Negara Matahari Terbit. Pendar cahaya ilmu pengetahuan di negeri Asia Timur itu bergelora sampai jauh ke segala penjuru belahan bumi.

Jepang berdiri sejajar dengan negara-negara Eropa kala itu. Padahal manusia-manusia di Benua Putih itu jauh sebelumnya lebih dulu menisbatkan diri merengkuh aufklarung (pencerahan). 

Kemajuan yang diraih Jepang mencengangkan. Angka melek aksara di negara itu bahkan terbilang lebih tinggi dengan negara-negara Eropa sekalipun.

Selama rentang waktu 1868-1911, Jepang telah sanggup membuat Eropa terbelalak. Tercatat dalam lembaran sejarah, Jepang bahkan satunya-satunya negara di Asia Timur yang berkali-kali mencoba menggelar invasi.

Kedigdayaan Jepang bangkit. Pada puncaknya ketika negara ini berdiri tegak meluluhlantahkan Pearl Harbour, Amerika.

Begitulah Restorasi Meiji. Sebuah upaya perubahan mendasar yang dilakukan negara itu lewat pendidikan.

Jika di Asia Timur sana, matahari telah menunjukkan terangnya pengetahuan. Berbeda di Asia Tenggara, termasuk Indonesia rupanya masih diliputi kegelapan. Keterbatasan fasiltas pendidikan telah mengurung masyarakatnya dalam selubung labirin kebodohan.

Pun di Lombok, jangankan mengenal aksara, sekolah saja belum tiada berdiri di rentang waktu yang sama. Jika pun ada, jumlahnya sangat terbatas.

Waktu itu, hanya Gouvernement Inlandsche School (GIS) atau Hollandsche Inlandsche School (HIS) yang berdiri. Sementara sekolah jenjang Pendidikan seperti MULO (Meer Uitgenreid Lager Onderweijs) dan AMS (Algemene Middlebare School) hanya ada di Pulau Jawa.

Hari-hari yang panjang dalam pengabdian Soedjono sebagai seorang dokter rupanya merekam semua itu dengan baik. Pasien-pasien yang mendatanginya tidak saja dari kalangan usia dewasa, tapi juga anak-anak.

Di lain waktu, tidak sedikit pasien-pasien dewasa yang berobat kerap membawa anak-anak mereka. Terhadap para pasien ini, Soedjono kerap kali terlibat percakapan ringan, tapi membekas di ingatan.

“Banyak pasien-pasien yang bawa anak mereka kemudian disuruh bersekolah. Kakek menyuruh mereka dan membiayainya. Bahkan banyak yang disekolahkan hingga ke Blitar juga,” ungkap cucu dr. R. Soedjono, Raden Rahadian kepada JEJAK LOMBOK, beberap waktu lalu.

Apa yang dituturkan Rahadian ada benarnya. Roro Neni Kurnia, sepupu Rahadian dalam tulisan resume tentang sang kakek juga mengisahkan hal yang sama. Salah satu anak-anak yang disekolahkan kala itu bernama Ibu Selamah. Sosok ini masih hayat dan sudah dalam usia sangat senja.

Tak cukup dengan menyekolahkan anak-anak saja, Soedjono juga memelopori berdirinya Anjah Sasak. Yakni sebuah lembaga pendidikan bagi anak-anak Lombok yang tidak disekolahkan di luar daerah.

SAKSI SEJARAH: SMPN 2 Selong sebelum diakuisisi pemerintah pernah menjadi sekolah bernama Anjah Sasak.

Sekolah Anjah Sasak ini masih dengan mudah ditemui keberadaannya. Hanya saja, namanya kini telah berganti menjadi SMPN 2 Selong.

“Sekolah ini berada di sebelah barat pendapa Bupati Lombok Timur di Jalan Jenderal Ahmad Yani itu,” terang Rahadian.

Kendati menunjuk lokasi Anjah Sasak, Rahadian mengaku tidak tahu persis ihwal pergantian nama tersebut. Karena rentang waktu yang cukup lama, Anjah Sasak di kemdian hari diakuisisi menjadi sekolah milik pemerintah.

Kata Rahadian, di Anjah Sasak inilah putra-putri warga kala itu mendapat pendidikan. Semua mereka yang bersekolah di tempat itu dianggap seperti anak sendiri.

“Maklum saat itu kakek belum punya anak. Baru di usia menjelang sekitar 60-an beliau dikaruniai keturunan, yakni Raden Soeweno,” bebernya.

Sementara itu, ayahnya sendiri, putra kedua Soedjono yakni Raden Soewetomo tak sempat mengenal wajah sang kakek. Soedjono lebih dulu berpulang sebelum putra keduanya sempat bersua karena masih di dalam kandungan. (*)

Bersambung… 

Wednesday, December 16, 2020

Menolak Lupa, Mematri Dokter Soedjono di Sanubari (2)

Dirikan Rumah Miskin, Menjadi Dokter Pertama di Lombok

BUKTI DEDIKASI: RSUD dr. R. Soedjono menjadi bukti dedikasi pengabdian R. Soedjono terhadap warga Lombok Timur.

---------------

“Soedjono tidak sendiri ditugaskan di Lombok. Ia berangkat bersama seorang teman dokter lainnya. Namun karena ketulusan dan dedikasinya, hanya Soedjono yang melekat di sanubari masyarakat Lombok hingga kini.”

FATHUR ROZIQIN — MATARAM

Wabah lepra, kusta, cacar dan kolera sepertinya menjadi momok buruk di awal abad ke 20. Wabah ini begitu cepat menyebar menyerang warga Lombok sekitar tahun 1910.

Penyebaran wabah yang begitu cepat ini dapat dimaklumi. Kala itu, belum ada satupun dokter. Hanya dukun belian tradisional yang menjadi tumpuan medis.

Pemerintah Hindia Belanda yang risau dengan serangan wabah ini segera saja mengirim dua dokter. Kedua dokter itu adalah R Soedjono dan Raden Mulyono. Keduanya ditempatkan di Lombok Timur. 

“Saat itu Selong sebagai ibukota Lombok Timur masih berupa hutan belantara. Ibukota Lombok Timur di Sisik, Labuan Haji,” ungkap Raden Rahadian kepada JEJAK LOMBOK, belum lama ini.

Raden Rahadian sendiri merupakan cucu R Soedjono dari putera keduanya, R Soewetomo. Saat ini, Rahadian dipercaya mengemban amanat sebagai wakil rakyat di DPRD NTB.

Berada di pusaran penyakit menular, langkah pertama yang diambil Soedjono memberantas wabah itu dengan mendirikan sebuah klinik. Di tempat inilah para penderita cacar dan penyakit menular lainnya diisolasi.

Jumlah penderita yang mencapai ribuan rupanya tak mampu ditampung klinik yang kapasitasnya minimalis dan terbatas itu. Praktis, Soedjono mau tak mau harus pula melakukan pencacaran terhadap warga lainnya.

“Klinik pertama yang dibangun oleh kakek saya itu lokasinya di Sepolong Labuan Haji. Bangunan itu sampai sekarang masih bisa ditemukan,” tuturnya.

Tak cukup dengan klinik itu, Soedjono juga mendirikan Rumah Miskin. Di tempat inilah Soedjono menjalani praktik membantu warga.

Selama praktik di Rumah Miskin, Soedjono tak menarik sepersen pun biaya kepada masyarakat yang datang berobat. Semua layanan medis yang diberikan seratus persen gratis.

Rumah Miskin yang didirikan Soedjono ini berada persis di seberang jalan bagian selatan Kantor DPR Lombok Timur. Rumah tersebut menjadi saksi betapa Soedjono melewati hari-harinya penuh dedikasi.

Berbeda dengan Soedjono, Raden Mulyono justru tidak terdengar kabarnya. Tak heran, karena totalitas pengabdiannya, hanya nama Soedjono yang membekas di sanubari masyarakat Lombok Timur.

Di tengah kesibukannya sebagai seorang dokter, kegemaran yang dilakukan Soedjono setiap hari adalah berkeliling kampung. Ia mengendarai bendi miliknya dan menyapa warga yang ditemui.

“Kadang ia juga mampir di rumah warga dan sahabat-sahabatnya. Ia mampir kalau ada warga yang sakit dan butuh pengobatan,” sambungnya.

Setelah mendirikan Rumah Miskin, kemasyhuran dokter kelahiran Kebumen, Jawa Tengah ini kian dikenal. Seantero Lombok Timur mendengar budi baik sang dokter. Buntutnya, semakin banyak pula warga yang datang berobat meminta jasanya.

Raden Rahadian

Lantaran Rumah Miskin tak menyediakan tempat rawat inap, praktis pasien yang kondisinya akut tak bisa terlayani. Dari itu  Soedjono berpikir mendirikan layanan kesehatan dengan kapasitas lebih memadai.

“Maka didirikanlah rumah sakit yang kini menjadi RSUD dr. R. Soedjono Selong itu,” jelasnya.

Awal mula dibangun rumah sakit ini kira-kira hanya memiliki 10 tempat tidur pasien. Model layanan yang diberikan setara Puskesmas saat ini. Rumah sakit itu diberi nama Rumah sakit dr. R. Soedjono. Nama itu diambil dari namanya sendiri.

Di rumah sakit ini, terangnya, segala keperluan medis, seperti obat dan peralatan disuplai langsung Pemerintah Hindia Belanda. Rumah sakit ini dibangun saat Selong tengah beranjak menjadi pemukiman baru.

Sedianya, Lombok bukan lah daerah pertama tempat Soedjono bertugas. Sebelum menjejakkan kaki di Lombok, ia sempat ditugaskan di Bali dalam misi “Bali Expeditie II”. Misi yang diemban di Pulau Dewata ini juga sama dengan di Lombok, memberantas cacar dan penyakit menular.

Soedjono baru mendaratkan kakinya di Lombok pada tahun 1910. Namun selama berada di daerah ini, rupanya pemerintah Belanda dibuat kerepotan. Segala gerak-gerik Soedjono terus diawasi. Ia dicurigai menggalang kekuatan politik melawan pemerintahan kala itu.

Kecurigaan Belanda waktu itu sangat beralasan. Rumah Soedjono selalu ramai dikunjungi warga. Mereka yang datang bukan saja untuk berobat, kadang ada juga yang datang sekedar menonton pembacaan lontar dan kesenian lain yang digelar di rumahnya.

Buntut ulahnya, pemerintah Belanda yang tak mau pusing rupanya melempar Soedjono bertugas di tempat baru. Ia ditugaskan di Magetan, Jawa Timur, sekitar tahun 1917.

Namun karena di tempat tugas barunya, Soedjono yang ulung bersosial dan bergaul dengan mudah mengambil hati masyarakat. Ia dengan mudah berkumpul dan membaur bersama masyarakat sekitarnya. 

Ulah Soedjono di tempat baru rupanya juga membuat pemerintah Belanda pusing. Lantaran itu, ia dikembalikan ke tempat tugas sebelumnya, Lombok. Sejak saat itu, Soedjono memastikan diri menetap dan hidup bersama masyarakat Lombok Timur. (*)

Bersambung…

Tuesday, December 15, 2020

Menolak Lupa, Mematri Dokter Soedjono di Sanubari (1)

Anak Brilian, Aktivis Boedi Oetomo dan Menentang Perjodohan

Dokter Soedjono (tengah) bersama istrinya dan seorang ahli antropologi, Prof. Kleiweg de Zwaan. (Foto: Troopen Holland Museum).

---------


"Tak hanya memiliki otak brilian, Soedjono kecil juga rupanya dibekali watak penentangan. Penentangannya ini terlihat saat ia mencoba dijodohkan dengan perempuan sesama kalangan ningrat."

FATHUR ROZIQIN — MATARAM

Badannya melepuh. Luka bakar hampir di sekujur tubuhnya mengantar kedatangan Soedjono di STOVIA, Jakarta. 

Kondisinya yang memprihatinkan tak sedikitpun menyurutkan tekad Soedjono memasuki sekolah kedokteran untuk kaum pribumi itu. Alih-alih mengiba kasihan, Soedjono nekat mengikuti tes di sekolah tersebut.

Pihak sekolah sebenarnya sudah melarang. Mereka tidak tega melihat kondisi Soedjono yang tak karuan. Hampir saja ia “diapkirkan” dan tak boleh mengikuti tes.

Berbekal kemauan keras, bersama 43 anak lainnya dari seantero nusantara ia pun mengikuti prosesi tes. Ia diterima di sekolah dan dinyatakan lulus saat usianya masih 13 tahun.

Sebelum berangkat ke STOVIA, Soedjono saat hendak menaiki kapal sempat bersitegang dengan ibu sambungnya (ibu tiri). Peristiwa itu terjadi di pelabuhan saat ia hendak menaiki kapal yang ditumpangi. Ibu sambungnya inilah yang menumpahkan kukusan nasi ke badan Soedjono.

“Itulah yang menjadi penyebab kenapa badannya melepuh seperti luka bakar,” tutur cucu Raden Soedjono, Roro Neni Kurnia, dalam buku resume berjudul “Dr. R. Soedjono, Dokter Pertama di Lombok yang ditulisnya untuk mengenang sang kakek.

Neni Kurnia sendiri merupakan cucu R. Soedjono dari anak pertamanya bernama R. Soeweno. Sang ayah merupakan garis keturunan Soedjono dari hasil perkawinan bersama Ilasih.

Di dalam buku yang sama, Neni mengisahkan betapa berat kehidupan Soedjono kecil. Sosok sang kakek yang merupakan keturunan ningrat Jawa ini lahir di Karang Anyar, Kebumen Jawa Tengah. Ia lahir pada tahun 1879.

Kendati lahir di Jawa, rupanya memori masa kecilnya dibesarkan di Riau, Sumatera. Di sini ia tinggal bersama sang ayah, Raden Yoedodiwiryo dan ibu sambungnya Siti Saadah Salim.

Hidup bersama sang ibu sambung rupanya tak membuat nasib Soedjono cukup beruntung. Ia tak sepenuhnya mendapatkan ayoman kasih sayang yang seharusnya didapat untuk anak seusianya.

Kendati begitu, Soedjono cukup beruntung. Otaknya yang brilian selalu mengantarkannya meraih prestasi akademik luar biasa. Jenjang pendidikan dasar di HIS (Hollandsch Indlandsche School) dan MULO (Meer Uitgenreid Lager Onderweidjs) dilaluinya dengan mudah. Ia selalu menonjol di antara teman-teman sekolahnya.

Pemerintah Hindia Belanda kala itu yang melihat potensi besar di dalam diri Soedjono kecil rupanya tak ingin membiarkannya melepas studinya. Ia pun kemudian diundang mengikuti tes sekolah kedokteran di STOVIA di Jakarta.

Seperti di jenjang sekolah dasar, Soedjono juga menonjol di STOVIA. Bahkan, ketika memasuki fase akhir studi di sekolah itu, ia dinyatakan lulus bersama 6 kawan lainnya. 

“Hanya 7 orang yang lulus dengan lama studi sekitar 8 tahun. Kakek menjadi dokter di usia yang sangat muda, yakni 21 tahun,” kisah Roro Neni.

Selama menimba ilmu di STOVIA, Soedjono tidak melulu konsen untuk studinya. Ia juga tertarik pada pertanian, budaya dan kesenian.

Di lain waktu, Soedjono juga menerjunkan diri dalam pergerakan Boedi Oetomo. Sebuah pergerakan politik yang didirikan Dr Soetomo dan Dokter Wahidin Soediro Husodo. Dua sosok ini belakangan dikenal sebagai Pahlawan Nasional.

Namun karena lebih menyukai hal-hal yang bersifat praktis dan aplikatif, Soedjono memilih keluar dan tidak aktif dalam pergerakan itu. Keluarnya Soedjono rupanya berbuah kemarahan dari teman-temannya kala itu.

Selepas menimba ilmu, Soedjono kembali ke Sumatera. Merasa Soedjono yang sudah cukup dewasa dan memasuki usia nikah, sang ibu menjodohkannya. Ia dijodohkan bersama seorang perempuan berdarah biru.

Mengetahui dirinya yang dijodohkan, sikap penentang Soedjono kembali kumat. Tegas ia menolak perjodohan yang dilakukan sang ibu dan berujung gagalnya pernikahan.

Alih-alih sudi dijodohkan, Soedjono rupanya kepincut dengan perempuan Eropa. Perempuan itu dinikahinya, tapi usia pernikahan keduanya tak berlangsung lama. Keduanya bercerai.

Neni mengisahkan, perceraian sang kakek dipicu lantaran tak suka gaya hidup perempuan Eropa. Sang istri saat itu dianggap lebih banyak menyukai hal-hal berbau kosmetika dan kecantikan.

Kesan hidup glamor macam itu rupanya tak sesuai dengan hati nurani Soedjono. Ia lebih senang memilih hidup bersahaja dan merasakan getir penderitaan orang-orang disekitarnya. (*)

Bersambung…

Thursday, December 10, 2020

Mengenal Muhammad Faizin, Disabilitas Penghafal Alqur'an

Muhammad Faizin

SELONG
--Hidup dalam keterbatasan kemampuan fisik kerap kali dianggap menjadi kelemahan. Keterbatasan kemampuan fisik membuat banyak orang menyerah pada kerasnya persaingan hidup.

Tapi itu tidak berlaku bagi Muhammad Faizin. Sosok penyandang disabilitas asal Dusun Ambung, Kecamatan Masbagik Lombok Timur tetap tegar mengarungi kerasnya cobaan hidup.

Di tengah keterbatasan kemampuan fisiknya, ia berusaha beraktivitas layaknya manusia dengan kemampuan normal. Kondisinya itu dikesampingkan dan terus berusaha dianggap "setara".

Kepada JEJAK LOMBOK, pemuda berusia 29 tahun ini bercerita. Tak terpikir di benaknya menjadi seorang tahfiz (penghafal Alquran). 

Tak hanyankarena keterbatasan kemampuan fisik, lilitan masalah ekonomi juga menjadi bagian lain yang datang terus mendera. Karena persoalan ekonomi ini pula, ia mencoba menceburkan diri sebagai pengusaha.

Setidaknya, ada dua usaha pernah dilakoni pemuda ini. Dua usaha itu yakni menjual layang-layang dan sapu lidi. Usaha ini dilakoni tiada lain demi menjaga dapur sang ibu tetap mengepul.

Rupanya, peruntungan dalam berusaha tidak begitu berpihak kepada diri Faizin. Sejak saat itu, ia memutuskan sebagai seorang tahfiz.

Diputuskan menjadi tahfiz, bagi Faizin merupakan salah satu bentuk pengabdian kepada orang tuanya. Faizin me lngaku sangat ingin membalas Budi baik kedua orang tua yang selama ini telah membesarkannya.

"Semua sudah saya geluti, namun karena kondisi fisik yang lemah, saya memilih menjadi penghafal saja untuk membalas jasa orang tua," ucapnya.

Diakui Hafizin, menghafal hingga 30 juz baginya tidaklah mudah. Selama 8 tahun lamanya, Faizin belajar mengaji bersama teman-teman sebayanya dan mulai menyicil hafalan 5 hingga 8 ayat perhari.

Selain keterbatasan fisik, kendala lainnya ialah pendidikan. Selama ini Faizin tidak pernah duduk di bangku sekolah. Tak heran, pemuda ini cukup kesulitan memahami terjemahan Alqur'an. Apalagi saat itu ia hanya dibimbing oleh orang tuanya, Ariani.

Meski demikian, semangat meraih cita-cita seperti kawan sebayanya yang normal tidak pernah surut. Sebagai motivasi, ia memanfaatkan keahliannya sebagai pelukis kaligrafi yang dipasang di tempat strategis dan sering dilihat. Salah satunya kaligrafi yang ditulis di jam dinding. 

"Untuk menterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia saya tentu kesulitan karena tidak pernah sekolah. Beruntung ada ibu saya yang mengajarkan saya membaca," ujarnya sedih.

Sebagai penyandang disabilitas, lelaki kelahiran tahun 1989 ini tidak merasa pesimis. Meski tidak berpendidikan, namun dengan kemampuan menghafalnya kini ia diberikan kesempatan menjadi guru ngaji di salah satu pondok pesantren Al-Khair yang tidak jauh dari rumahnya. 

Setiap harinya di waktu sore, Faizin selalu menghabiskan waktunya mengajar ngaji di Ponpes Al-Khair yang tidak jauh dari rumahnya itu. Dari sanalah ia dapat serpihan rupiah untuk menyambung hidup. Meskipun nilainya hanya Rp 50 ribu, namun ia bersyukur ada pemasukan.

"Saya tidak pernah berhitung, meskipun hanya Rp 50 ribu, namun saya bersyukur dapat membantu guru ngaji saya di pondok," ungkapnya.

Akhirnya Faizin berharap adanya perhatian pemerintah untuk membantunya walau hanya sekedar menyambung hidup. (hs)

Friday, December 4, 2020

Ekspor Kopi, Membangkitkan Kembali Masyhurnya Kopi Lombok

DILEPAS: Empat unit truk pengangkut kopi dan komoditi lainnya siap dilepas untuk diekspor.oleh Pemprov NTB.

MATARAM
—Bedug Ashar sebentar lagi terdengar. Siang menjelang sore, sekitar pukul 15.00 Wita, Jumat kemarin (4/12), puluhan pejabat Pemprov NTB khidmat berkumpul.

Mereka berkumpul di halaman Kantor Gubernur NTB. Tak hanya pejabat, empat unit mobil truk berukuran jumbo dengan skala tonase juga berjejer. 

Bersama di dalam kumpulan itu Wakil Gubernur NTB, Hj Sitti Rohmi Djalillah, Sekda NTB HL Gita Ariadi serta sejumlah pejabat teras lainnya. Bahkan, sejumlah pejabat BUMN dan Staf Khusus Bidang Kerja Sama dan Perjanjian Perdagangan Internasional Menteri Perdagangan RI, Alexander Yahya Datuk juga ikut nimbrung dalam kumpulan tersebut.

Hari itu para pejabat ini tengah menunggu kehadiran orang nomor satu di Indonesia, Presiden Joko Widodo. Mereka menghadiri pelepasan ekspor sejumlah komoditi dari tanah air secara daring.

Berpusat di Jawa Timur, ada 16 provinsi di Indonesia yang akan mengirim komoditi yang akan diekspor. Provinsi NTB merupakan salah satu daerah peserta, dimana satu dari empat komoditi yang diekspor yakni kopi.

Khusus kopi, komoditi ini dikirim oleh salah satu pelaku UMKM asal Lombok Barat, UD Berkah Alam. Kopi yang dimiliki perusahaan ini bakal dikirim ke Kanada dan Korea Selatan.

Ekspor kopi kali ini sebenarnya bukan karena faktor kebetulan. Kemampuan produksi kopi di Pulau Lombok punya sejarahnya sendiri. Ekspor kopi pernah berjaya bersama komoditi lainnya, beras, kapas dan kacang kedelai di medio abad ke-18.

“Sebanyak 140 ton kopi yang akan kita ekspor untuk bulan Desember ini,” ucap Kepala Dinas Perdagangan NTB, H Fathurrahman.

Sedianya jumlah kapasitas ekspor kopi tersebut bisa ditingkatkan. Ini karena stok roduksi kopi di Pulau Lombok cukup melimpah. Belum lagi jika ditambah dengan produk kopi asal Pulau Sumbawa.

Selama ini, jelasnya, kopi jenis robusta yang diekspor dikumpulkan dari para petani. Lewat standarisasi yang diterapkan perusahaan, kemudian biji-biji kopi tersebut dipilah kelayakannya. Apakah layak ekspor atau tidak.

Ekspor kopi ini jelas saja menahbiskan kemasyhuran sejarah masa lalu. Kopi Lombok pernah menjadi bagian komoditi unggulan yang dinikmati hingga ke mancanegara.

Belakangan, tren dan geliat kopi sebagai bagian gaya hidup rupanya berandil pula dalam menggerakkan roda perekonomian. Tidak sedikit kedai-kedai kopi berdiri dan rajin disanggongi berbagai kalangan usia.


Kemasyhuran dan keagungan kopi Lombok salah satu satunya tersaji dalam riwayat perjalanan Alfred Russel Wallace. Naturalis dan pelaut asal Inggris mendaratkan kakinya di Lombok sekitar Juni-Juli 1856.

Wallace sendiri menginjakkan kakinya di Lombok melalui Pelabuhan Ampenan. Lewat karyanya The Malay Archipelago, ilmuan ahli biologi ini menuliskan kesan terhadap Ampenan.

Kota pelabuhan yang terletak di ujung barat Kota Mataram ini identik dengan bangunan tua berarsitektur Belanda. Pada waktu itu, Ampenan adalah kota pelabuhan dan salah satu pusat perdagangan.

Dalam catatan sejarah, Ampenan sendiri dibangun sekitar 1924 oleh Belanda. Kota tua ini dibangun untuk mengimbangi eksistensi kerajaan-kerajaan yang ada di Pulau Bali.

Lewat karya Wallace itu pula diketahui bahwa Ampenan pernah menjadi pintu keluar masuk ekspotr kopi. Di masa kejayaannya pelabuhan ini, sekitar tahun 1840, kopi, kapas, beras dan kedelai merupakan komoditi terbesar yang dikirim. 

Semua jenis komoditi ini terbilang unggul di Asia Tenggara dan Asia Timur. Kopi Lombok bersama komoditi lainnya tiada tanding. Semua jenis komoditi ini merajai komoditas serupa.

Demi membangkitkan kejayaan ekspor kopi di masa lalu. Pulau Lombok punya bekal yang memadai. Saat ini, beberapa daerah di Lombok tersebar sebagai penghasil kopi.

Beberapa daerah itu seperti Sajang, Sembalun dan Sapit di Lombok Timur. Di KLU, ada kopi Leong, Gangga dan yang lainnya. Di Lombok Tengah santer dikenal kopi Steling asal Batu Kliang Utara. Sementara di Lombok Barat, kopi banyak dihasilkan terutama dari Kecamatan Gunungsari, Narmada dan Lingsar. (jl)

Monday, November 30, 2020

Jejak Keganasan Jepang Masih Tersisa di Belanting (2-Habis)

Pantai Pedamekan, Cocok untuk Wisata Diving

EKSOTIS: Inilah sisi lain dari pemandangan Pantai Pedamekan yang eksotis.

SELONG
-- Tak hanya jejak masa lalu yang bisa dijumpai di Pantai Pedamekan Desa Belanting, Kecamatan Pringgabaya Lombok Timur. Jejak keindahan alam bawahaut di pantai ini juga cocok sebagai salah satu spot wisata diving (selam).

Bahkan, sepanjang akses jalan di pantai ini bisa dibilang memiliki pandangan yang eksostis. Selain indah, pantai ini pernah menjadi saksi sejarah pertempuran Jepang dan Belanda.

Di pantai ini, masyarakat setempat meyakini adanya sisa senjata berupa bom dan bangkai kapal tentara Jepang. 

"Kami yakin masih ada senjata berupa bom dan rangka kapal Jepang yang dibombardir pasukan Belanda melalui pesawat tempur," kata pengelola angkringan Laut Pedamekan, Sumarli, kepada JEJAK LOMBOK, Senin (30/11).

Menurutnya, laut di Dusun Pedamekan itu terdapat terumbu karang. Bentuknya seperti jamur dan letaknya tak jauh dari bibir pantai.

Ia menduga, benda itu bukanlah terumbu karang, melainkan sisa awak kapal Jepang. Dugaan ini lantaran ia sering menemukan besi di dasar laut ketika sedang menyelam.


Laut di sekitar Pedamekan ini disebut-sebut menghubungkan antara Lombok dengan Kalimantan. Selain menjadi saksi sejarah, laut tersebut memiliki keindahan yang tak kalah dengan pantai lainnya. 

Bahkan, tempat ini bisa dijadikan sebagai lokasi wisata menyelam. Dukungan potensi ini sangat memungkinkan lantaran pemandangan bawah lautnya cukup indah.

"Bagus juga untuk surfing. Di tengah ombaknya bagus dan besar," ucapnya.

Karena potensinya itu, ia dan warga sekitar punyarencana menjadikannta sebagai tempat wisata. Lagi pula lokasinya yang strategis dan sering dilalui wisatawan.

Tak hanya lalu lalang, terkadang banyak wisatawan asing yang sengaja berhenti. Mereka berswafoto mengambil momen keindahan laut.

Saat ini, ia bersama para pemuda Belanting, membuat tempat tongkrongan sederhana. Ini dilakukan sembari membenahi dan menambahkan spot-spot foto.

"Saat ini masih bentuknya tempat angkringan, lumayan untuk para wisatwan ada saja yang berhenti. Sekedar menikmati bakso, es campur, dan kopi," ujarnya.

Tokoh pemuda lainnya, Syarifuddin mengamini keindahan laut Pademekan. Bahkan di tempat itu warga sekitar tetap dikunjungi meski sekedar untuk memancing.

"Dulu bahkan program mancing mania yang diselenggarakan oleh salah satu stasiun TV swata, dilaksanakan di laut ini," uajr pria yang akrab disapa Syarif itu.

Dia menjelaskan, memang ada niat membuat lokasi itu menjadi salah satu destinasi wisata pantai. Niat ini karena dianggap cocok untuk para penyelam. 

Di laut Pedamekan, jelasnya, masih bisa ditemukan banyak terumbu karang. Keindahan terumbu karang di laut ini dianggap cukup eksotis.

"Pantai ini juga cocok untuk yang hobi diving dan surfing. Apalagi di sebelahnya dikelilingi gunung dan tanaman bakau. Sepertinya menarik untuk dijadikan wisata," tutupnya. (sy)

Sunday, November 29, 2020

Jejak Keganasan Jepang Masih Tersisa di Belanting (1)

Sisa Kapal Perang, Rudal dan Bangunan Masih Disaksikan

SISA BANGUNAN: Sumarlin menunjukan sisa bangunan yang dibuat tentara Jepang di Pademekan.

SELONG
-- Mafhum bagi banyak orang bahwa Desa Belanting merupakan salah satu desa yang berada di ujung utara Lombok Timur.

Nyaris sepanjang permukaan daratan desa ini konturnya cukup kasar. Sepanjang daratannya terdiri dari perbukitan dan hutan belantara.

Secara administratif, desa ini masuk dalam kawasan Kecamatan Pringgabaya, Lombok Timur. Lantaran permukaannya yang terdiri dari perbukitan, desa ini dikenal kerap dilanda bencana. Banjir bandang.

Untuk sampai di desa ini, pengunjung harus menempuh jarak sekitar 69,2 km dari pusat Kota Selong, ibukota Kabupaten Lombok Timur. Pengunjung akan dmemakan waktu hingga 1,5 jam menempuh perjalanan untuk sampai di lokasi.

Di desa ini, tepat di lokasi wisata pasir hitam Pedamekan, tersimpan bukti sejarah peninggalan kolonialisme Jepang. Di desa ini masih bisa ditemukan serpihan kapal perang.

Kepada JEJAK LOMBOK, penemu serpihan itu, Sumarlin menuturkan, 15 tahun yang lalu ia menemukan serpihan benda bersejarah berupa potongan kapal. Belakangan, serpihan kapal itu merupakan milik armada laut Dae Nipon.

"Saya menemukan benda ini di tengah laut saat menyelam menangkap ikan bersama para nelayan di sini," ungkapnya, Minggu (29/11).

Merasa penasaran, Sumarlin bersama warga mengangkat benda tersebut hingga ke pinggir pantai. Benar saja, setengah dari badan kapal perang itu disaksikan bersama masyarakat lainnya. 

Namun, sangat disayangkan kala itu, lanjutnya, masyarakat masih awam. Praktis potongan benda sejarah itu dipecah belah hingga tak tersisa. 

Ia sendiri masih menyimpan selongsong rudal balistik yang juga diambil kala itu. Ia menyimpannya lantaran termotivasi bahwa benda itu sebagai bukti sejarah.

SELONGSONG PELURU: Wartawan Jejak Lombok menunjukkan selongsong peluru milik tentara Jepang.

Rasa penasaran Sumarlin masih tersisa pasca penemuan itu. Ia pun menggali informasi tentang benda tersebut kepada orang tua terdahulu bernama Sutri.

Berdasarkan informasi yang diberikan lelaki tua yang kerap dipanggil Papuq Sutri (kakek Sutri), benda tersebut diketahui kapal milik Jepang yang terpecah dihantam bom pesawat Belanda. Konon, di sekitar perairan itulah dahulu tentara Jepang bersembunyi dengan cara menyelimuti kapal perangnya menggunakan rumpun dedaunan yang lebat hingga membentuk pulau. 

Kala itu, lanjutnya, kapal Belanda yang datang dari arah laut kalimantan mengetahui kapal milik Jepang yang bersembunyi itu. Tak lama kemudian, ia menghantam kapal tersebut melalui serangan udara hingga terpecah menjadi dua. 

Tidak diketahui secara pasti letak pecahan setengah badan kapal tersebut. Namun diperkirakan sisa benda sejarah lainnya yang belum diangkat masih tersimpan di dalam laut.

Bersamaan dengan itu, sebagian pasukan Jepang yang masih hidup melarikan diri. Mereka kocar-kacir menyelamatkan diri menuju hutan yang tidak jauh dari lokasi pasir hitam Pedamekan.

Di tengah hutan tersebut, tuturnya, masih tersisa bekas bangunan beserta benda lainnya yang tertanam. Bekas bangunan tersebut masih dapat disaksikan hingga saat ini.

Sementara itu, tokoh pemuda desa Belanting, Syarifudin mengungkapkan, tidak hanya di tengah laut, serpihan benda sejarah lainnya sangat gampang ditemukan di ladang milik warga. Ia menyebut, peluru aktif zaman kuno masih dapat ditemukan di areal ladang milik warga setempat. 

Ia sendiri, tak jarang menemukan benda itu dikala hendak berladang. (hs)

Bersambung...

Saturday, November 7, 2020

Weni Kristanti, Perempuan Bertangan Dingin di Balik Aruna Hotel (1)

Datang Disambut Bencana, Buktikan Diri Perempuan Super

Weni Kristanti

GERUNG
--Meniti karir di Lombok, barangkali idaman bagi setiap pelaku pariwisata. Gemerlap potensi sumberdaya yang dimilikinya tak sulit dipromosikan lantaran sudah tersohor lebih dulu.

Bukan tidak mungkin berkarir di Lombok membuat kerja-kerja yang dilakoni diliputi kemudahan. Tanpa promosi berlebihan pun, keindahan Pulau Lombok tetap sanggup menjadi magnet yang menyedot wisatawan.

Barangkali itulah persepsi awal yang ada di benak Weni Kristanti. Ia datang menjejakkan kakinya di Lombok di bulan kedua 2018, Februari.

Perempuan asal Magelang, Jawa Tengah ini merupakan orang nomor satu di jajaran manajemen Aruna Hotel, Sengggigi, Kecamatan Batulayar Lombok Barat.

Sebelum menghirup udara Lombok, ibu 47 tahun ini sebelumnya menduduki posisi sama di Olimpic Renotel Sentul. Pasca purna menjalankan tugas di salah satu di Jawa Barat itu, ia bergeser menakhodai Ayola Lisa Hotel di Surabaya, Jawa Timur.

Kepada JEJAK LOMBOK, di dua hotel yang telah dipimpinnya itu dianggap sebagai ajang pembuktian diri. Di Renotel Sentul misalnya, hotel yang berada di tepi jalan tol itu dianggap punya kenangan sendiri.

"Bayangkan, hotel ini berada di pinggir jalan tol. Kira-kira siapa yang akan mau menginap?," kenangnya, Kamis (5/11), pekan lalu.

Menangani Renotel disebutnya menjadi tantangan tersendiri. Beragam inovasi digencarkan demi menjadikan hotel itu sebagai destinasi hunian yang tetap memiliki pengunjung.

Ia sukses membesut Renotel dengan segala kemampuannya. Tapakan cobaan dilalui dengan gemilang.

Bergeser di Ayola Lisa Surabaya, juga sepertinya sama perihnya saat awal ditugaskan di Renotel. Berbekal pengalaman menangani Renotel, sepertinya tidak sulit bagi Weni Kristanti membuktikan kapasitas dirinya.

Setelah menangani dua hotel yang dianggap memiliki kenangan perjuangan luar biasa itu, Weni berpikir sudah waktunya menikmati kerja kerasnya. Setidaknya, ia tidak melulu ditempatkan di hotel-hotel yang menguras energi dan pikiran.

Aruna Hotel

Terang saja, oleh perusahaan holding yang membawahi dua hotel itu menempatkan dirinya di Lombok. Ia didapuk kembali sebagai general manager (GM) di Aruna Hotel. Hotel yang juga masih satu holding dengan dua hotel sebelumnya.

"Baru saja dalam beberapa hitungan bulan, Lombok sudah diguncang gempa. Gempa awal terjadi sejak Juli dan terus-terusan hingga akhir 2018," tuturnya.

Kehadiran gempa rupanya tidak ingin membuat perempuan pemilik panggilan Weni ini menikmati kerja kerasnya di dua hotel sebelumnya. Pembuktian kapasitas dirinya kembali diuji. Aruna sepi. Sama halnya dengan hotel-hotel lain yang ada di Lombok kala itu.

Di tengah cobaan bencana itu, di balik tangan dinginnya, Weni dipaksa putar otak. Kembali ia kerahkan segenap daya kemampuannya bertahan menukangi tempat barunya.

Keadaan berkata lain. Belum saja sempat bernafas lega, di awal 2019 kebijakan maskapai penerbangan tidak cukup bersahabat. Harga tiket mahal, hingga kebijakan bagasi berbayar menjadi tumpukan cobaan yang harus dilaluinya.

Namun terhitung Maret 2019, capaian okupansi (tingkat hunian) Aruna Sengggigi menunjukkan tren positif. Pencapaiannya dianggap nyaris sama dengan sebelum terjadi gempa setahun sebelumnya di 2018.

Apa boleh buat. Lagi-lagi di penghujung 2019, dunia diterjang pandemi virus corona. Hingga virus asal Wuhan, Tiongkok ini tiba di bulan Maret, tepatnya di Lombok Timur rupanya menjadi pukulan tersendiri. 

Kali ini, pukulannya jelas lebih dahsyat. Weni Kristanti seolah tak boleh dibiarkan bernafas lega.

"Cobaan pandemi ini malah lebih buruk lagi. Karena masalahnya terjadi bukan saja di lokal, tapi dunia internasional," tuturnya.

Pandemi corona rupanya membuat para pelaku usaha, termasuk bisnis pariwisata, terdesak. Di lain sisi harus berpikir biaya operasional. Pada sisi beriringan harus menggaji staf dan karyawan. 

Rumus ekonomi, supply lebih besar dari pada demand nyata terjadi di depan mata. Pengeluaran lebih besar dari pendapatan menjadi momok yang membuat beberapa para pelaku usaha pariwisata justru menemui titik nadir. Mereka tak sanggup beroperasi kembali.

Di awal kepungan pandemi corona, pemerintah menetapkan kebijakan luar biasa. Pesawat bisnis tidak boleh mengudara. Hanya pesawat pemasok logistik yang diizinkan berlalu lalang.

Hebatnya, di tengah sesaknya nafas para pelaku usaha pariwisata, Weni tetap bersikeras beroperasi. Aruna Hotel harus tetap dibuka dengan kebijakan yang ketat. Standar protokol kesehatan Covid-19 pun diberlakukan.

"Kita bersyukur, karena dengan gigihnya kita terapkan protokol kesehatan, ada saja satu dua tamu yang mau datang," ucapnya.

Berkat kegigihan ini pula rupanya belakangan Aruna Hotel menuai berkahnya. Aruna Hotel tercatat sebagai hotel pertama dan menjadi percontohan penerapan protokol kesehatan. Ini ditandai dengan dikantonginya sertifikat Clean, Healthy, Safety and Enviroment (CHSE) dari Pemprov NTB. (jl)

Bersambung...

Monday, November 2, 2020

Anak-anak Muda Pelopor Pariwisata (2)

Didik Kurniawan, Hanya Lulus SMK Jadi Pemandu Gunung Terbaik

Didik Kurniawan

SELONG
--Wajah langit masih tampak murung diselimuti mendung. Hujan yang baru saja reda menyisakan rimis tipis siang itu.

Di pinggir jalan, tepatnya di dekat pertigaan depan masjid jalan Desa Sapit, Kecamatan Suela Lombok Timur berdiri sebuah kedai kopi sederhana. Di depan warung itu, berjejer beberapa meja kayu dilengkapi kursi.

Di sanalah beberapa anak muda biasa terlibat diskusi. Di sana pula tempat para pemuda desa itu biasa menunggu tamu.

Di antara sela diskusi para pemuda itu, menyeruak aroma racikan kopi si pemilik kedai. Ada beragam jenis racikan kopi yang bisa ditemui di kedai sederhana itu. Mulai dari racikan kopi lokal hingga racikan kopi luar.

Satu dari pemuda yang tengah berdiskusi itu adalah Didik Kurniawan. Mengenakan jaket biru dongker dengan perawakan cungkring, sosok ini menjadi salah satu sosok yang menonjol dari yang lainnya.

Semangatnya tampak dari pikiran-pikiran yang dilontarkan. Gagasa dan ide-idenya juga menarik.

Didik, begitulah ia akrab disapa. Pemuda kelahiran Dusun Montong Kemong, Desa Sapit itu tercatat sebagai salah satu dari 180 orang di Indonesia yang tercatat sebagai pemandu gunung tersertifikasi.

Di tangan dingin pria kelahiran 31 Desember 1996 itu, beberapa destinasi wisata di Desa Sapit mendadak tersohor. Destinasi itu belakangan sudah terkenal.

Pria 24 tahun lulusan SMKN 1 Sakra ini, selain terlibat dalam urusan situs peninggalan nenek moyang setempat, ia juga salah satu pelaku wisata yang tersohor. Bahkan dia menjadi pemandu gunung terbaik di Indonesia yang ditetapkan oleh Kementerian Pariwisata.

Dari penuturannya diketahui sejarah masuknya pariwisata di NTB. Tahun 90-an misalnya, tak hanya Senggigi Lombok Barat yang terkenal. Namun juga Sapit sebagai salah satu desa wisata pertama di Lombok Timur selain Lendang Nangka dan Tete Batu.

Tahun 1993 sampai 97, tuturnya, Sapit ramai dikunjungi wisatawan terutama asing. Pada tahun itu desa ini masih belum banyak dihuni oleh perumahan warga.

Tak heran penampakan desa itu eksotis. Mata akan dimanjakan dengan pemandangan sawah terasering sepanjang jalan.

Bagi wisatawan mancanegara, datang ke tempat tersebut hanya untuk melihat sunset (matahari terbit). Pengunjung luar negeri itu berdatangan jam 3 pagi, hanya untuk menikmati matahari terbit dan sarapan di atas terasering.

Di rentang waktu itu, jelasnya, pendaki Gunung Rinjani atau yang ingin ke Sembalun, harus berangkat dari Sapit menulusuri jalan yang saat ini menjadi jalan raya. Maklum, di tahun itu, akses jalan dari Sapit ke Sembalun belum dibuka.

Sesampainya di bawah Pusuk, pendaki kemudian mengambil jalan setapak. Jalan inipun masih kerap dilalui para orang tua di desa itu.

Tersohornya Desa Sapit rupanya dalam sekejap mata tiba-tiba berubah menjadi sepi pengunjung. Peristiwa itu bermula sejak tragedi bom Bali.

"Dari itu Sapit mulai sepi, dan baru tahun 2016 baru bangkit lagi," ucapnya kepada JEJAK LOMBOK, Senin (2/11).

Anak pertama dari dua bersaudara ini menceritakan, awal ia tertarik sebagai pendaki gunung tak hanya karena faktor kesejarahan wisata Desa Sapit. Namun lebih pada rasa penasaran ingin melihat langsung dan merasakan suasana gunung.

Alumnus jurusan multimedia ini mengatakan, selepas sekolah tepatnya tahun 2016 lalu, ia mengobati rasa penasarannya tersebut. Ia pun mendaki bukit-bukit yang berada di dekat rumahnya.

Di tahun itu pula ia terlibat membangun beberpa tempat wisata yang ada di desa itu. Ia terlibat membangun Sawah Cafe, Air Terjun Dara Ilo, Dara Bajur, Air Terjun Alap-alap, Pal Jepang, dan yang terbaru Bukit Rantok. 

Berkat kegigihannya, di tahun 2017 Didik mendaftarkan diri sebagai peserta pemandu gunung yang diselenggarakan Asosiasi Pemandu Gunung dengan bekerjasama dengan kementrian terkait.

"Dari ribuan peserta yang mendaftar hanya beberapa orang saja yang dinyatakan lulus. Alhamdulillah salah satunya saya," ujarnya.

Di tahun yang sama, ia kemudian bergabung dengan Satgas Rinjani Bersih yang di SK-kan langsung oleh Gubenur NTB, Dr Zainul Majdi MA kala itu. Terbentuknya Satgas ini lantaran Pemprov NTB mendapat teguran langsung Geopark Global lantaran Gunung Rinjani sangat kotor.

Tugas dari satgas itu, sebutnya, hanya untuk membersihkan sampah yang ada digunung.

"Waktu itu sangat melelahkan, naiknya ringan turunnya berat sebab tas berisi tumpukan sampah," ujarnya.

Membuka Destinasi Pal Jepang


Setelah itu, 2018 lalu muncul bencana alam gempa bumi. Kondisi ini memaksanya harus beristirahat mengambil jeda. Hingga di akhir 2019, ia kemudian membuka jalur pendakian ke Pal Jepang dengan Pokdarwis setempat. Baru di tahun 2020 diluncurkan dan dibuka untuk umum.

Destinasi wisata Pal Jepang terbilang sukses. Baru beberapa bulan dibuka, pengunjungnya sudah hampir ribuan. Saking banyak pengunjung, tenaga yang dibutuhkan semakin banyak.

Dia mengtakan, ratusan lebih pemuda yang menjadi pemandu tamu. Setiap harinya ada enam orang yang bekerja. Begitu juga dengan malam harinya.

"Sehari makanya di sini perputran uang cukup signifikan. Alhamdulillah bisa menikmati hobi sambil bekerja," ujarnya.

Mengingat musim penghujan sudah mulai tiba, jelasnya, bukan tidak mungkin pendakian bakal segera ditutup. Langkah ini diambil untuk mengurangi risiko angka kecelakaan.

Sembari pendakian menunggu pendakian segera dibuka, ia kini tengah mempersiapkan destinasi baru yakni Bukti Rantok. Rencananya tahun 2021 akan dibuka. 

"Bukit ini lebih soft. Track-nya cocok untuk liburan keluarga," ucapnya.

Ia juga menceritakan suka suka selama menjadi pemandu gunung. Baginya, menjadi pemandu gunung tak melulu akan menemukan hal-hal yang menyenangkan. Terkadang harus rela saling bentak untuk menjaga keamanan tamu.

Selain itu, tak jarang di atas gunung menemukan suasana alam yang menyeramkan. Mulai dari badai, kabut, angin besar dan lain sebagainya.

"Bahkan saya pernah nangis dulu, saking lelahnya," ujarnya.

Untuk itu peralatan yang digunakan harus sesuai denan standar pendakian. Bagi pendaki alat yang dipakai sampai puluhan juta mulai dari sepatu, tas punggung, celana, jaket, sleeping bad dan alat lainnya.

"Jadi pendaki itu hobi yang sangat mahal, sekali naik dari alat saja sampai puluhan juta harganya," ujarnya.

Ia berpesan menjadi pendaki bukan hanya sekedar hobi belaka. Tapi, harus berperan sebagai orang yang menjaga kelestarian alam, terlebih pegunungan. (sy)

Bersambung....

Our Blog

55 Cups
Average weekly coffee drank
9000 Lines
Average weekly lines of code
400 Customers
Average yearly happy clients

Our Team

Rizki Handika Putra
CEO
Laela Rosanti
Creative Designer
Sopian Haris
Sales Manager
Syamsu Rizal
Developer

Contact

Talk to us

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit. Dolores iusto fugit esse soluta quae debitis quibusdam harum voluptatem, maxime, aliquam sequi. Tempora ipsum magni unde velit corporis fuga, necessitatibus blanditiis.

Address:

9983 City name, Street name, 232 Apartment C

Work Time:

Monday - Friday from 9am to 5pm

Phone:

595 12 34 567