Solusi Digital Marketing Nusa Tenggara Barat

Memberkan pelayanan terbaik untuk anda dan usaha anda, kami mempunyai tenaga profesional dibidang marketing digital.

Layanan Konsultasi

Our Services

Sepenuh Hati

Solusi Digital Marketing di Nusa tenggara Barat.

Read More

Great Concept

Solusi Digital Marketing di Nusa tenggara Barat.

Read More

Development

Solusi Digital Marketing di Nusa tenggara Barat.

Read More

User Friendly

Solusi Digital Marketing di Nusa tenggara Barat.

Read More

Recent Work

Sunday, September 27, 2020

Giliran Sekda Digeret dalam Kasus Tambak Suryawangi

TAMBAHAN BUKTI: Kuas Hukum ARM kembali datangi kejaksaan untuk menyerahkan tambahan barang bukti baru.

SELONG
--Satu demi satu pihak-pihak yang diduga terlibat dalam sengkarut perizinan tambak udang Suryawang, Kecamatan Labuan Haji Lombok Timur terus digeret. 

Setelah melaporkan PT, Sumber Lautan Emas Abadi, Bupati dan Kadis Perizinan, kini giliran Sekda Lombok Timur yang dilaporkan ke kejaksaan. Orang nomor satu di birokrasi Lombok Timur ini dilaporkan karena dugaan membuat rekomendasi mundur Tim Kesesuaian Pemanfaatan Rencana Ruang Daerah (TKPRD) 2019.

"Selain pihak perusahaan, Bupati dan kepala dinas, kita juga laporkan Sekda," ungkap Kuasa Hukum Aliansi Rakyat Merdeka (ARM), Deni Rahman, Senin (28/9).

Adanya tambahan terlapor dalam kasus ini, jelasnya, karena diduga Sekda Lotim membuat surat palsu terkait rekomendasi tersebut.

Lontaran itu disampaikan lantaran terbitnya surat Sekda nomor 221/503/PM/2020. Di dalam surat itu terkait rekomendasi kesesuaian ruang. Surat tersebut diterbitkan 08 Juni 2020.

Dari sisi pengadministrasian, jelasnya, surat ini keliru. Mengingat surat rekomendasi yang dikeluarkan Bupati Lombok Timur yang ditandangani HM Sukiman Azmy justru jauh lebih dulu keluar. Surat rekomendasi bernomor 503/100/PM/2020 itu dikeluarkan 09 Maret 2020.

Dari sisi hukum administrasi, jelas Deni, Sekda merupakan ketua TKPRD. Yang bersangkutan memiliki hak pemberian rekomendasi untuk diteruskan oleh Dinas Perizinan setempat.

"Tidak ada alasan hukum Dinas Perizinan berani keluarkan izin lokasi jika tidak ada persetujuan TKPRD," ucapnya.

Dari proses itu, terangnya, diduga Sekda Lotim terlibat dalam kasus tersebut. Dari riwayat terbitnya surat tersebut sekaligus dijadikan sebagai bukti tambahan yang diserahkan ke APH.

Terpisah, Sekda Lotim HM Juaini Taofik menepis jika surat yang dikeluarkan dirinya sebagai alas sebab dikeluarkannya izin. Rekomendasi tersebut bersifat informatif terkait hasil rapat TKPRD menyangkut tata pemanfaatan tata ruang daerah.

Taofik juga menyebut bahwa rekomendasi yang dikeluarkan bupati karena adanya pertemuan bersama Forkominda se-Indonesia sebelumnya di Jakarta. Pertemuan itu dihadiri langsung Presiden RI Joko Widodo di awal 2020.

"Pertemuan itu bertajuk Well Come to Investment di semua wilayah NKRI," ucapnya.

Lagi pula dalam rekomendasi tersebut menegaskan pentingnya penyesuaian pemanfaatan tata ruang dengan benar.

"Kalau dibaca rekomendasi Pak Bupati itu, jelas, mengandung adanya unsur political will. Bukan serta merta kemudian melegalkan adanya tambak di kawasan Labuan Haji," sambungnya.

Keberanian bupati mengeluarkan rekomendasi disebutnya tidak lepas dari UU nomor 23 dan PP 13 tahun 2017 tentang pengaturan tata ruang. Belum lagi surat Kemendagri yang menyebut bahwa upaya budidaya tambak udang sebagai program prioritas nasional.

Selain itu, Taofik juga mengungkapkan selepas pembahasan TKPRD 2019, ada kesepakatan antara dewan dan eksekutif membahas masalah tata ruang dalam agenda revisi. Agenda tersebut bahkan telah masuk dalam Prolegda (program legislasi daerah).

Hanya saja menjadi kendala selama ini lantaran pandemi corona membuat pembahasan revisi tertunda. Akibatnya, hingga saat ini agenda revisi tersebut molor.

"Jadi masalah revisi perda tata ruang ini bukan muncul setelah ribu-ribut atau karena ingin melegalkan tambak. Sudah jauh sebelumnya sudah ada pembahasan," ucapnya. (jl)

160 Peserta Jajal Trek Menantang Gunung Sasak

MENANTANG: Trek sepeda Gunung Sasak lumayan menantang dan dijajal para peserta Enduro Bootcamp.

MATARAM
--Kegiatan Lombok Enduro Bootcamp 2020 berlangsung seru. Sebanyak 160 rider jajal trek menantang Gunung Sasak Bike Park Lombok Barat yang dilangsungkan selama dua hari ini, Sabtu-Minggu (26-27/9).

Ketua panitia yang juga anggota pengurus Gunung Sasak Bike Park ( GSBP), Suryadi melaporkan, kegiatan ini merupakan inisiatif untuk memperkenalkan trek Gunung Sasak yang menantang. Selain itu, kegiatan ini juga mengenalkan event sepeda dengan peraturan dan perhitungan yang standar. 

 ‘’Kegiatan ini kami inisiasi untuk memperkenalkan trek Gunung Sasak yang luar biasa dan mencoba dengan perhitungan standard event nasional. Selain itu kami berharap kepada pemerintah daerah untuk memberikan dukungan untuk kegiatan selanjutnya,’’ tuturnya.

Lombok Enduro Bootcamp 20 kali ini, para rider (pembalap) diperkenalkan dengan menggunakan technology timing system. Dimana star dan finish menggunakan sensor untuk mengetahui kecepatan masing masing pembalap yang mengikuti lomba di semua kelas. 

Selanjutnya, dalam sambutanya kepala Dispora Lombok Barat, Maad Adnan menyampaikan, kegiatan ini merupakan hal positif yang harus terus dikembangkan. Kegiatan ini juga baik dalam rangka mencari bibit atlet. 

‘’Kegiatan seperti ini harus kita kembangkan di daerah kita. Apalagi Gunung Sasak ini adalah spot pariwisata, dan kegiatan ini harus menjadi agenda terdepan, kami dari pemuda dan olahra siap untuk mengagendakan kegiatan ini Lombok Enduro bootcamp untuk tahun 2021," ucapnya.

Bagi Adnan, event ini merupakan ajang pencarian bibit atlet. Karena itu, pihaknya memastikan akan menjadikan event ini sebagai kalender tahunan.

Selain memberikan sambutan, Adnan juga sekaligus meresmikan trek Gunung Sasak Bike Park (GSBP) sebagai salah satu trek sepeda gunung di Lombok Barat. Trek sepeda di lokasi ini memiliki lintasan standar untuk lomba. 

Para pecinta sepeda gunung tersebut sangat antusias mengikuti lomba ini. Terbukti peserta mengisi semua kelas yang dilombakan. 

Dari 160 peserta 41 orang diantaranya mengikuti class adventure, 5 orang mengikuti class men grand master. Berikutnya, 52 orang mengikuti men master, 39orang mengikuti class men open, 17 orang mengikuti class men u-21 dan class women diikuti oleh 6 orang. 

Kegiatan yang berakhir pada hari minggu sore tersebut, tetap menggunakan standard protokol kesehataan. Peserta yang melakukan registrasi, sebelumnya dilakukan pengecekan suhu tubuh, mencuci tangan dan diharuskan menggunakan masker.(jl)

PKL Membuat Geliat Ekonomi Mataram Berdenyut

 




DUKUNG: Paguyuban keluarga Jawa memastikan dukungan untuk Paslon HARUM.

MATARAM
--Kemajemukan warga di Kota Mataram tidak bisa dibantah siapapun. Beragam suku, agama, ras, maupun golongan mendiami ibukota Provinsi NTB tersebut.

Di antara pendatang di Kota Mataram adalah Suku Jawa. Mereka ikut membuat kota gemerlap di malam hari dengan pedagang kaki lima (PKL) dari ujung Ampenan hingga Sandubaya.

Calon Wali Kota Mataram H Mohan Roliskana memberikan apresiasi kepada warga Jawa di Kota Mataram. Menurutnya, para pendatang dari Pulau Jawa sudah membuat geliat ekonomi di kota berdenyut.

"Bisa dibayangkan kalau tidak ada bapak-bapak dari Jawa. Seperti apa kondisi Kota Mataram di malam hari," katanya kepada perwakilan Paguyuban Jawa di Kota Mataram, Sabtu malam (26/9).

Mohan mengungkapkan, selama menjadi Wakil Wali Kota Mataram dua periode, ia cukup memberikan perhatian kepada para PKL. Mendukung tetap membuka warung di sepanjang jalan di kota, termasuk tidak memberatkan para pedagang dengan retribusi.

"Hanya yang ingin banyak nanti saya bicarakan, bagaimana supaya ikut menjaga kebersihan. Setelah berdagang, tempatnya bersih seperti sedia kala," sambungnya.

Ditambahkan, semangat dagang dari warga Jawa di kota patut ditiru. Banyak yang memulai dari bawah, rela berlelah-lelah hingga akhirnya usahanya berjalan lancar.

"Saya punya teman, awal berdagang dulu itu dari dipikul, kemudian berjualan dorong. Sampai akhirnya buka warung. Kawan saya itu yang punya bakso Timbul Rejeki," ucapnya.

"Proses dan etos kerja ini harus dilihat. Jangan dilihat sekarang, lihat bagaimana bapak-bapak ini memulai," tambahnya.

Mohan meminta kepada seluruh keluarga besar Paguyuban Jawa di Kota Mataram, tetap menguatkan persaudaraan dan kerukunan. Ia ingin agenda bersama paguyuban tetap berjalan.

"Ya, saya ingin kita tetap bisa bertemu seperti malam ini. Mungkin nanti pemerintah bisa ikut mendampingi atau memberi pembinaan para pedagang," ujarnya.

Pimpinan Paguyuban Jawa Sumadi menyampaikan terima kasih atas segala dukungan dan apresiasi kepada para pendatang dari Pulau Jawa. Keluarga besar paguyuban yang didominasi oleh pedagang telah bersepakat memberikan

dukungan kepada H. Mohan Roliskana dan TGH Mujiburrahman (HARUM). Mereka sudah berkomitmen untuk memilih pasangan nomor urut Satu, akan ikut berkampanye untuk HARUM di wilayah masing-masing.

"Ini ada perwakilan paguyuban yang akan menyampaikan berbagai hal ke panjenengan," katanya. 

Pria yang akrab disapa Mbah Sumadi ini melanjutkan, dari sejak Wali Kota Mataram almarhum HM Ruslan, pedagang mendapat perhatian, lapak-lapak dagangan tetap dibiarkan buka di sepanjang jalan. Ia yakin, Mohan sebagai putra akan melanjutkan keberpihakan yang pernah dilakukan ayahandanya itu.

"Kami berharap, piringnya ini tetap dijaga. Jangan dipecah," aku bapak yang masuk ke Kota Mataram sejak 1970 ini. (jl)

Prihatin Kondisi Guru Honor, Ziadi-Aswatara Siap Naikan Intensif

SOSIALISASI: Calon Bupati Lombok Tengah, Ahmad Ziadi bersosialisasi di tengah-tengah masyarakat dalam suatu kesempatan.
 
PRAYA
--Pasangan Calon (Paslon) Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Lombok Tengah Ahmad Ziadi dan Lalu Aswatara berjanji akan menaikan insentif atau honor bagi guru tidak tetap (GTT) dan pegawai tidak tetap (PTT) juga perawat dan bidan. Hal ini dilakukan guna memberikan perhatian serius terhadap kesejahteraan guru di Kabupaten Lombok Tengah.

Menurut Ahmad Ziadi, selama ini kabupaten Lombok Tengah kurang memberikan kesejahteraan bagi guru honorer. Dia juga mengungkapkan bahwa insentif bagi guru honorer masih rendah.

"Selama ini perhatian pemerintah daerah di Kabupaten Lombok Tengah terhadap para guru honorer atau guru tidak tetal masih minim. Ini dibuktikan dengan masih rendahnya gaji atau insentif bagi para guru honorer dan jauh standar kelayakan hidup. Yang jumlah kurang lebih 3000-an orang," ungkap Ziadi kepada awak media, Minggu (27/9). 

Karena itu, dalam program kerjanya nanti Ziadi-Aswatara akan menaikan insentif guru honorer. Ziadi pun telah mencantumkan program ini dalam rencana kerjanya nanti. 

"Agar para guru honorer tersebut nantinya bisa mengajar maksimal, maka kami dari paslon Ziadi-Aswatara akan menaikan gaji guru honorer tersebut. Inilah komitmen kami dalam memperhatikan kesejahteraan para guru honorer. Dan program ini telah kami cantumkan ke dalam rencana kerja kami, apabila terpilih nanti," ujarnya. 

Ziadi menambahkan, bahwa wacana menaikkan insentif bagi guru tidak tetap ini sudah bergulir di lembaganya, DPRD Lombok Tengah. Bahkan, anggota DPRD lainnya juga telah mewacanakan hal tersebut.

Selain itu, paslon yang terkenal dengan jargon 'Wayent Wah' ini juga akan memberikan insentif bagi para guru ngaji, sebagai bentuk penghargaan. 

"Selain memberikan kenaikan insentif bagi para guru honorer. Kami juga akan memberikan insentif bagi para guru ngaji se Kabupaten Lombok Tengah. Inilah wujud penghargaan kami terhadap perjuangan saudara-saudara kita yang mau mengajarkan belajar membaca Al-Qur'an kepada anak-anak," cetusnya.

Menurut Ziadi, pendidikan adalah salah satu investasi yang paling fundamental dalam membangun Lombok Tengah. Maka dari itu, dirinya berjanji akan memberikan perhatian serius pada bidang pendidikan, salah satu cara dengan menaikkan insentif bagi guru tidak tetap dab guru ngaji.

"Pemberian insentif bagi guru ngaji, bertujuan memberikan semangat bagi para guru ngaji, agar mereka terus bersemangat memperkenalkan dan mengajarkan anak-anak Al-Qur'an sejak dini. Guru, baik yang di sekolah formal ataupun informal harus diperhatikan. Karena ini bagian dari investasi dalam pendidikan" pungkasnya.

"Begitu juga dengan pegawai pegawai tidak tetap, perlu diperhatikan, mengingat beban kerja semakin tinggi. Ke depan, Perawat, bidan yang kerja di puskesmas dan polindes nanti di SK kan bupati. Supaya jelas status dan jaminan kesejahteraan." Tutup Cabup yang didukung Partai Demokrat dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) itu. (jl)

BLEK GEROMPANG

Oleh Dr. Jamiluddin, M.Pd

(Effect Sosiologis “ Perilaku Ingkar Janji” Dalam Kehidupan Masyarakat Sasak)

“Bukti Bukan Janji.” Adalah yel-yel yang nyaris seperti puisi wajib bagi para politisi dalam kontestasi pesta demokrasi. Terdengar nyaring lagi garing. Sayangnya, yel-yel tersebut lebih cenderung berujung kosong melompong. 

Namun demikian, yel-yel ini bukannya melayang hilang, tetapi datang berulang. Tentu saja kedatangan kembali yel-yel tersebut disambut dengan tumbuhnya sikap bargaining position di kalangan constituent. Mereka “ngeyel” dengan yel-yel. “Suara kami suara Tuhan.”  Yel-yel ini kemudian memaksa politisi membayar down payment (dp) kepada konstituen. Apakah ini sebuah penanda terbangunnya kematangan berpolitik atau justeru tumbangnya sikap mutual trust (saling percaya)?  Apapun namanya, yang pasti fakta ini menggelinding tanpa tanda-tanda jenuh yang pasti.     

Dalam tradisi nusantara, “Bukti Bukan Janji” berhadapan dengan ungkapan “Tong Kosong Nyaring Bunyinya. Secara filosofis, dua ungkapan ini sesungguhnya berdialog dalam atmosphere yang ekstra dinamis.  ”Laksana pemantik, “Tong Kosong Nyaring Bunyinya” menelanjangi ungkapan “Bukti Bukan Janji.” Dalam posisi dipantik,  “Bukti Bukan Janji,” berusaha membuktikan diri sebagai komitmen yang kuat. Dalam perspektif sosiologis – politis, kedua nalar di atas seolah seperti hubungan kekuasaan dan oposisi. Keduanya tiada henti saling koreksi, bahkan sampai memicu aksi-aksi yang memerlukan mediasi. 

Mediasi tak semudah imajinasi. Kedua nalar di atas cenderung defensif dan memilih pola absolutely absolute dalam memandang keyakinan atau kebenarannya. Nalar-nalar ini sulit menerima kebenaran selain yang mereka yakini sebagai sesuatu yang benar. Demi kepentingan mengagungkan kebenaran masing-masing, keduanya berusaha mencari dan mengajukan novum untuk meyakinkan juri sekaligus kompetitornya. Keadaan ini terus bersiklus sampai kemudian masing-masing nalar memiliki follower atau konstituen yang mengkondisikan mereka semakin solid. Situsi ini adalah hal menantang bagi usaha mediasi atau negoisasi.   

Efek dialog dinamis yang berlangsung di panggung kontestasi, khususnya antara komitmen dan pemantiknya sebagaiamana uraian di atas, sungguhlah mencolok. Baik penjamin komitmen (nalar “Bukti Bukan Janji”)  maupun pemantik (nalar “Tong Kosong Nyaring Bunyinya), cenderung transaksional dan mementingkan indikator fomal–material dalam transaksi mereka. Penjamin komitmen mementingkan dukungan atau support. Sementara pemantik memerlukan realisasi komitmen sembelum memberi support atau dukungan. Benar-benar transaksional yang dibangun di atas mutual distrust, kalau tidak boleh disebut sebagai sinema inhumanisasi.

Transaksi-transaksi yang ditumbuhi sanksi betul-betul terjadi. Contohnya sedehana dan di depan mata. Ketika Iwan Fals mensupport Jokowi, ia malah harap-harap cemas. Sikap sanksi Iwan Fals dapat dipahami dari syair lagu yang dilabeling dengan cap Nawacita. Syair itu menyebutkan: “Janji-janji sudah kita telan, jadi obat kuat masa depan. Ada sembilan janji yang sangat terkenal. Apakah ini janji surga atau janji kompeni. Temanku bilang nawacita namanya, agar Indonesia sejahtera, disegani dunia juga menggetarkan yang di surga. Dari kenaikan gaji sampai ke soal pendidikan, dari sektor informal sampai ke yang formal. Dari yang keliatan sampai yang enggak keliatan, sudah dijentrengkan. Hanya memang perlu waktu semoga kita sabar menunggu, semoga janjimu bukan janji palsu. Janji Jokowi semoga terbukti, janji Jokowi sungguh dinanti. Desa dari ujung tombaknya, dapat dana Rp 1,4 miliar per tahunnya. Membagi satu juta rupiah bagi keluarga prasejahtera per bulan. Kalau pertumbuhan di atas 7 persen katanya. Empat setengah juta kepala keluarga akan mendapatkan program kepemilikan tanah. Pembangunan dan perbaikan irigasi di 3 juta hektare sawah. Membangun 25 bendungan, bank untuk petani, UMKM, dan penguatan Bulog. Membuat satu juta hektare lahan baru di luar jawa. 5 ribu pasar tradisional diperbaiki. Bangun pusat pelelangan dan pengolahan ikan. 10 juta rupiah per tahun untuk UMKM dan koperasi. Mendorong, memperkuat, mempromosikan, industri kreatif dan digital. Lalu Kartu Indonesia Sehat, agar kita sehat. Membangun puskesmas dengan fasilitas yang baik. Meningkatkan mutu pendidikan umum dan pesantren. Dan kesejahteraan guru-gurunya. dengan kartu indonesia pintar. Tentu saaja agar kita semua pintar. 

Akhir kata agar semua janji ini terwujud dengan benar. Janji Jokowi, bukan janji sembarang janji, janji Jokowi, janji presiden RI. Janji Jokowi bagi ibu pertiwi, janji Jokowi semoga bukan janji kompeni.” 

Uraian dan contoh sikap sanksi sebagai akibat siklus dialog nalar “Bukti Bukan Janji” dengan “Tong Kosong Nyaring Bunyinya,” sebetulnya tidak menggiring kita untuk berwacana tentang “janji-janji politik para politisi.” Uraian dan contoh di atas hanyalah pintu masuk ke area yang lebih luas, karena nalar “Bukti Bukan Janji” dengan “Tong Kosong Nyaring Bunyinya,”  berdialog dinamis tidak hanya di panggung politik, tetapi juga disetiap ruang dan segmen kehidupan manusia, termasuk dalam keseharian masyarakat Sasak sejak dahulu sampai era kekinian.

Dalam nalar masyarakat Sasak, “Bukti Bukan Janji” setara dengan “Tetu-Tetu Regen.” Sementara itu, “Tong Kosong Nyaring Bunyinya” sepadan dengan “Blek Gerompang.” Sebagaimana nalar “Bukti Bukan Janji” dan Tong Kosong Nyaring Bunyinya,” nalar “Tetu-Tetu Regen” dengan “Blek Gerompang,” senantiasa bedialog ekstra dinamis dalam setiap aspek kehidupan masyarakat Sasak.  Dialog ekstra dinamis kedua nalar itu secara bersamaan membidani efek yang kuat hingga lahir, tumbuh, dan hadir menjadi aspek-aspek strategis, terutama dalam mediasi maupun negoisasi.

Pada beberapa klik atau kelompok-kelompok masyarakat Sasak, nalar  “Tetu-Tetu Regen”  ini kerap kali ditaukitkan (dikukuhkan) dengan sumpah dan bai’at. Artinya, nalar “Tetu-Tetu Regen” bukanlah janji biasa. Nalar ini lebih pada janji yang mengandung nilai pertanggung-jawaban kepada Alloh SWT. Oleh sebab itu, di kalangan masyarakat Sasak, ingkar janji akan menjerat seseorang dalam pasungan sanksi social yang sulit mendapat pengampunan. Salah satu sanksi sosial bagi orang yang khianat (ingkar janji) di lingkungan masyarakat Sasak adalah dengan memberikan orang tersebut jejalek atau sebutan “Blek Gerompang.”

Sebutan “Blek Gerompang” ini setara dengan sebutan radio sede (radio rusak), belek bicak atau luek raos (banyak bicara/besar omong), embol baut biwih, basak biwih (terlalu mudah memberi janji), dan lain-lain. Semua sebutan ini memiliki arti yang sama dengan pembohong atau dalam bahasa agama setara dengan khianat (pengkhianat), “Blek Gerompang” sendiri merupakan sebutan buruk dengan makna sindiran yang sangat dalam, terutama secara sosiologis. 

“Blek Gerompang”  yang diartikan setara dengan pembohong atau  khianat (pengkhianat),  mengubur secara perlahan masa depan para pelakunya. Para pembohong atau  pengkhianat, akan dipandang sebelah mata. Mereka kehilangan modal kepercayaan. Tidak sedikit orang-orang disekitarnya menjauhi atau mengebirinya. Persoalannya adalah,  “Lalu dengan siapa mereka hidup bersama? Mungkin saja ada, tetapi tentu dengan komunitas yang belum tahu identitas cap khianat atau bohongnya. Dengan demikian para penyandang jejalek “Blek Gerompang” telah kehilangan peluang menata kehidupannya untuk mewujudkan kehidupan gemilangnya di masa depan.

Efek atau risiko sosiologis yang diterima pelaku “Blek Gerompang” , baik di dunia global, regional, maupun secara khusus di lingkungan masyarakat Sasak, ternyata telah dijelaskan dalam sumber hokum absolute, yaitu firman Alloh Taala, tepatnya pada QS, al-Rad ayat 25 yang menyebutkan: “ Dan sesungguhnya orang-orang yang melanggar perjanjian, teutama perjanjiaan-Ku setelah diikrarkan dengan teguh dan mengabaikan perintah-Ku, serta membuat kerusakan di bumi, pasti akan Aku kutuk dan Kutempatkan pada tempat yang amat buruk atau neraka Jahannam.”

Dalam QS, ali Imran ayat 77 Alloh berfiman: “Sesungguhnya orang-orang yang memperjual-belikan janji Alloh dan sumpah-sumpah mereka dengan begitu gampang, tidak akan mendapat tempat yang nyaman di akhirat. Alloh tidak akan menjawab permintaan dan memperhatikan mereka pada hari kiamat. Mereka pun tidak akan Ku-sucikan dan bagi mereka hanya siksa yang pedih.

Ayat-ayat di atas dengan jelas dan tegas menjelaskan bahwa pelaku “Blek Gerompang” atau para pembohong hanya berpeluang mendapat tempat yang buruk dan siksa yang pedih. Penegasan Alloh ini tentu terkait dengan kehidupan yang bersangkutan di dunia maupun di akhirat. Argumentasinya adalah kehidupan buruk dan siksa pedih di akhirat adalah buah dari keburukan seseorang dalam kehidupannya di dunia. 

Kehidupan para pelaku “Blek Gerompang”  yang buruk di dunia sangatlah wajar dan meyakinkan. Alasan kuatnya adalah karena mereka telah diperkenalkan oleh Rasulullo SAW dalam sebuah sabdanya yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah dan dimuat dalam HR. Muslim, pada Kitabul Iman Bab Khishalul Munafiq No 107, sebagai seorang munafik. Sememtara orang-orang munafik yang tidak amanah dan selalu berkhianat akan teraliensi atau terasing sehingga mengakibatkan dirinya sulit membangun kehidupan yang sejahtera di dunia. Sedangkan hukuman orang-orang munafik dalam perspektif agama menururt HR Tirmizu adalah akan terjepit oleh himpitan bumi dalam alam barzah dan akan mendapat siksa hebat di alam akhirat. Na’uzubillah. 

Betapa dahsyatnya konsekuensi dan efek bohong, khianat, atau “Blek Gerompang,” baik efek sosiologis di dunia maupun akibat buruk dan menyakitkan di akhirat, maka seyogyanyalah kita segera menjauhi sifat dan sikap “Blek Gerompang”  tersebut. Lebih lagi jika kita amati di lapangan, sikap “Blek Gerompang”  selalu menghancurkan persaudaraan, bahkan bisa menimbulkan peperangan yang menelan korban, not only material but also nyawa yang sangat berharga. Moga ulasan sederhana ini bermanfaat bagi penulis dan kita semua, khusisnya generasi muda Indonesia harapan masa depan agama, bangsa dan Negara. Wallohu’alamu.   

* Pemerhati budaya Sasak, dosen IAIH NW Pancor, dan tenaga pendidik di SMAN 2 Selong.

Saturday, September 26, 2020

Dispora Lotim Berikan Permodalan Usaha untuk Wirausahawan Muda

Izzuddin

SELONG
--Intensitas perhatian Pemkab Lombok Timur terhadap tumbuh kembang wirausahawan muda cukup serius. Melalui Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) setempat, para pemuda diberikan akses permodalan.

Kepala Dispora Lombok Timur, Izzuddin mengatakan, banyak permohonan dari kalangan pemuda untuk akses permodalan. permintaan tersebut untuk memfasilitasi para pemuda tersebut berusaha.

"Karena di kalangan para pemuda banyak yang memberikan harapanya agar mereka difasilitasi permodalan," ucapnya, Sabtu (26/9).

Nantinya dari seluruh permohonan akan diklasifikasikan berdasarkan jenis usaha. Dimana dalam bantuannakases permodalan ini pihaknya bekerjasama dengan pihak perbankan.

Dalam mengupayakan permodalan yang akan diberikan ke wirausaha muda, Dispora mengupayakan memperbanyak akses. Di pusat misalnya, pihaknya telah mengusulkan sekitar 60 orang dibantu akses permodalan.

Dalam usulan tersebut setiap calon penerima direncanakan mendapat bantuan Rp 2,4 juta.

Selain itu, ia mengaku telah menginventarisir seluruh wirausaha muda di Lombok Timur. Tujuannya agar Dispora bisa mengetahui berapa bayak wirausaha dan apa saja jenis usaha para pemuda. 

"Supaya kami nantinya bisa mengambil langkah-langkah untuk menindaklanjuti usaha-usaha para pemuda di Lombok Timuri," imbuhnya.

Dalam hal ini juga ia mempertegas dalam memberikan bantuan, sebelumnya harus disurvei terlebih dahulu. Langkah ini diambil untuk menyakinkan pemuda itu benar-benar bekerja untuk berwirausaha. 

"Kalau nantinya wirausahanya meragukan kami tidak akan berikan," jelasnya. (cr-zaa) 

Dukung Gerakan Pilkada Sehat, SALAM Berbagi Ribuan Masker

MATARAM HIJAU: Paslon SALAM berkomitmen terapkan zona Mataram Hijau dalam Pilkada Kota Mataram.

MATARAM
--Calon Walikota dan Wakil Walikota Mataram nomor 2, Hj Putu Selly Andayani dan TGH Abdul Manan (SALAM) terus berupaya nyata mendukung Gerakan Pilkada Sehat 2020.

Tim Pemenangan SALAM  akan bergerak mulai Sabtu (26/9) hingga sembilan hari kedepan untuk melakukan kampanye dan sosialisasi protokol kesehatan. Dalam kampanye itu, Paslon SALAM menggunakan 15 unit kendaraan roda tiga jenis Viar.

Nantinya para relawan akan membagikan masker dan handsanitizer ke kampung-kampung di semua kecamatan Kota Mataram.

"Gerakan Tim SALAM ini menggunakan 15 unit roda tiga ke semua titik kawasan di enam kecamatan. Selain mengedukasi dan sosialisasi tentang pencegahan Covid-19, SALAM  juga membagikan ribuan masker dan handsanitizer," kata Calon Walikota Mataram, Hj Putu Selly Andayani, Sabtu (26/ 9).

Menurutnya, jumlah masker dan handsanitizer yang akan dibagikan totalnya mencapai 7500. Di mana masing-masing roda tiga SALAM membawa 500 paket masker dan handsanitizer.

Tim SALAM juga akan menggelar flash mob, atau lelucon singkat yang menggugah perhatian publik di beberapa kawasan strategis Kota Mataram. Materi flash mob akan diisi dengan imbauan tentang menaati protokol kesehatan menuju Mataram Zona Hijau.

Hj Selly mengatakan, kegiatan Tim SALAM ini dilakukan untuk menggugah kesadaran masyarakat mematuhi protokol kesehatan demi keselamatan bersama. Hal ini sebagai bentuk dukungan kongkret SALAM bagi program gerakan Pilkada Sehat 2020.

"Insyaallah ini bagian dari ikhtiar SALAM  meningkatkan  partisipasi warga  dalam pencegahan Covid-19 di Kota tercinta ini," imbuhnya.

Seperti diketahui Gerakan Pilkada Sehat 2020 merupakan program terpusat secara nasional terutama di daerah-daerah kota dan kabupaten yang menyelenggarakan Pilkada serentak tahun ini.

Mendagri Tito Karnavian juga beberapa kali meminta agar para calon kepala daerah, parpol, dan tim sukses paslon untuk terus menggelorakan Gerakan Pilkada Sehat 2020. Salah satu yang ditekankan adalah bagaimana tetap menaati dan melaksanakan protokol kesehatan pada saat tahapan Pilkada Serentak tahun ini. Sehingga Pilkada 2020 berlangsung dengan sukses dan kesehatan masyarakat tetap terjaga. 

Sementara itu, Calon Wakil Walikota TGH Abdul Manan menambahkan,  pasangan SALAM terus berkomitmen untuk Pilkada Sehat. Sebab, pesta demokrasi lima tahunan kali ini berjalan di saat pandemi.

"Perhelatan politik tetap berjalan, tetapi bagi SALAM kesehatan masyarakat juga harus menjadi fokus utama. Karena itu, kami terus menerus dan tak bosan-bosannya untuk terus melakukan edukasi dan sosialisasi protokol kesehatan ini," tuturnya.

Sebelumnya, SALAM juga meluncurkan operasional tiga unit ambulans Guru Dokter dan Psikolog Keliling (GuDek), yang juga akan bekerja melayani aspek pendidikan dan kesehatan masyarakat di Kota Mataram. Ambulans GuDek juga melakukan kegiatan sosialisasi pola hidup bersih dan sehat (PHBS) termasuk melakukan fogging di lingkungan yang membutuhkan.

"Semua ikhtiar ini dilakukan SALAM untuk menjaga kesehatan warga Kota Mataram yang berkah dan cemerlang, agar terhindar dari Covid maupun penyakit lainnya," tandas TGH Manan. (jl)

Our Blog

55 Cups
Average weekly coffee drank
9000 Lines
Average weekly lines of code
400 Customers
Average yearly happy clients

Our Team

Rizki Handika Putra
CEO
Laela Rosanti
Creative Designer
Sopian Haris
Sales Manager
Syamsu Rizal
Developer

Contact

Talk to us

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit. Dolores iusto fugit esse soluta quae debitis quibusdam harum voluptatem, maxime, aliquam sequi. Tempora ipsum magni unde velit corporis fuga, necessitatibus blanditiis.

Address:

9983 City name, Street name, 232 Apartment C

Work Time:

Monday - Friday from 9am to 5pm

Phone:

595 12 34 567